Kegamangan dalam Kebijakan, Kebijakan dalam Kegamangan!


Oleh : Widya Amidyas Fillah

Pendidik Generasi


Charles de Gaulle - “Tidak ada kebijakan yang tidak sesuai dengan kenyataan.” Adalah setiap kejadian yang biasa terjadi dalam kehidupan publik ini dan menjadi standar dalam kehidupan baik dalam lingkup kelompok kecil seperti keluarga, masyarakat bahkan dalam berbangsa dan bernegara. Kebijakan merupakan suatu langkah yang diambil seorang pemimpin dalam menyelesaikan setiap persoalan.

Di masa pandemi global sekarang ini, berbagai persoalan demi persoalan muncul di berbagai tatanan kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, dan lain sebagainya yang menuntut seorang pemimpin mengambil kebijakan jitu dalam mengatasi pandemi yang belum juga berakhir dalam beberapa bulan ini. Tidak terkecuali di sektor pendidikan, pemerintah menggulirkan kebijakan rencana pembelajaran tatap muka di sekolah mulai Januari 2021, semester ganjil tahun pelajran 2020/2021 mendatang meskipun wabah Covid-19 masih terus mengalami peningkatan. Tercatat kasus Covid-19 kini bertambah sebanyak 8.074 kasus selama 24 jam terakhir pada kamis, 31 Desember 2020. (Sumber: kompas.com)

Melihat data statistik tersebut, pemerintah pun tampak gamang dalam menggulirkan kebijakan. Kemendikbud memberikan kebijakan yang hanya ‘memperbolehkan’ sekolah untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka di sekolah dengan beberapa syarat terkait protokol kesehatan Covid-19. “Jadinya bulan Januari 2021. Jadi daerah dan sekolah diharapkan dari sekarang kalau siap melakukan tatap muka, kalau ingin melakukan tatap muka, harus segera meningkatkan kesiapannya untuk melaksanakan ini dari sekarang sampai akhir tahun.” Jelas Nadiem pada Jumat (10/11/2020) melalui akun Youtube Kemendikbud RI.

Senada dengan Kemendikbud pusat, Kadisdik Kabupaten Bandung, Juhana menegaskan jika pembukaan sekolah di Kabupaten Bandung tidak berpatokan pada bulan Januari, melainkan pada kondisi penyebaran Covid-19 dan kesiapan berbagai pihak. “Jadi tidak harus Januari itu dimulai, jadi patokannya bukan Januari. Patokan utama adalah status pemaparan Covid di daerah, kalau rawan tak usah Januari dan kesiapan siswa, orangtua, guru menjadi penting,” ungkap Juhana saat on air di radio PRFM 107,5 News Channel pada Rabu (23/12/2020).

Kebijakan yang gamang ini mengakibatkan ketidakmerataan pendidikan anak. Terutama untuk daerah yang minim fasilitas belajar online, penyebaran kasus Covid-19 tinggi serta ketidaksiapan sekolah dalam memenuhi persyaratan terkait protokol kesehatan untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka. Ketimpangan ini akan semakin meruncing jika kebijakan semacam ini benar-benar diberlakukan. Selain itu, kebijakan semacam ini memberi kesan longgarnya tanggung jawab pemerintah akan resiko-resiko yang mungkin terjadi jika akibat diberlakukannya pembelajaran tatap muka justru memperparah penyebaran wabah Covid-19. dan jika itu terjadi, besar kemungkinan sekolah yang bersangkutan pun akan terkena sanksi dan penanganannya akan menjadi semakin sulit.

Bagaimana Islam memberi solusi?

Islam memandang kebijakan pemimpin merupakan hal yang konsisten dalam aturannya. Segalanya harus merujuk pada hukum yang berasal dari pencipta manusia, Dialah Allah Swt. yang Maha Bijaksana dan Maha adil terhadap hamba-Nya. Sehingga tidak ada keraguan, bahwa setiap kebijakan yang diambil akan mendatangkan kemaslahatan bagi umat manusia. Tidak ada kepentingan kelompok tertentu ataupun kepentingan kapitalistik yang mendatangkan kerusakan.

Aturan dan hukum Allah Swt. ini  berupa risalah Islam yang disampaikan kepada Rasulullah saw. kepada seluruh manusia agar tunduk dan patuh kepada syariat. Islam merupakan agama dan ideologi yang sempurna dan lengkap dalam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

Dan sejak dari awal bahwa untuk menghentikan wabah ini, Islam memiliki solusi tepat dan cepat, yaitu dengan cara karantina atau lockdown secara keseluruhan selama kurun waktu tertentu dengan tetap memenuhi segala kebutuhan dasar selama karantina berlangsung. Dengan demikian, kejadian demi kejadian yang tidak diinginkan tidak akan berlarut-larut dan berkepanjangan serta menghabiskan banyak sekali anggaran.

Wallaahu a’lam bishshawab. []