Jeritan Rakyat di Tengah Himpitan



Oleh Tri Sundari, A.KS

(Member AMK dan Pendidik Generasi)


Pandemi yang terjadi saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Terhitung sejak diumumkannya kasus perdana pada 2 Maret 2020, data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 pada Selasa (26/1/2021) pukul 12.00 WIB, total ada 1.012.350 kasus Covid-19 di Tanah Air. Sedangkan angka kematian Covid-19 di Indonesia saat ini berjumlah 28.468 orang. (Kompas.com, 26/01/2021)

Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran pada masyarakat. Angka penularan virus  Covid-19 masih cukup tinggi, sementara itu masyarakat menengah ke bawah tidak mempunyai pilihan, untuk tetap melakukan aktivitas mencari nafkah di luar rumah. Masyarakat bukan hanya dihantui oleh kekhawatiran akan terjangkit virus Covid-19 saja, tetapi khawatir pada angka kematian penderita Covid-19 yang masih tinggi. 

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, pada pasien penderita Covid-19, keluarganya harus mengeluarkan biaya untuk pemakaman. Pemakaman jenazah pasien Covid-19, sudah semestinya menjadi tanggung jawab pemerintah. Namun pada praktiknya, keluarga pasien harus mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk jasa gotong peti jenazah dari area parkir hingga liang lahat di TPU Cikadut, pemakaman khusus pasien Covid-19 di Bandung.

Hal ini dialami oleh salah seorang warga Karangsetra, Kota Bandung, yang dimakamkan di TPU Cikadut. Tiga hari lalu, keponakan Tisna meninggal dunia, karena diduga terjangkit Covid-19. Tisna menyebut, saat pemakaman, tidak ada pemungutan biaya dari rumah sakit. Namun pihak keluarga harus merogoh kocek hingga jutaan rupiah saat di TPU, untuk biaya jasa gotong jenazah pasien Corona. Meskipun nantinya pihak rumah sakit akan mengganti dengan cara memperlihatkan kuitansinya.

Tisna bukan satu-satunya yang harus mengeluarkan uang, ketika ada anggota keluarganya yang meninggal karena Covid-19. Dari informasi yang diperoleh, jasa angkut jenazah pasien Covid-19 ini juga ada yang harus membayar Rp 2 juta hingga lebih. (Detiknews, 25/01/2021)

Sistem kapitalisme merupakan sistem yang membuat rakyat menderita. Dalam sistem kapitalis, negara kurang melindungi hak rakyatnya. Selain itu, dalam sistem kapitalis, interaksinya hanya berdasarkan pada materi semata.

Berbeda dengan sistem Islam. Dalam Islam, negara akan meriayah rakyatnya dengan sebaik mungkin. Negara akan hadir sebagai garda terdepan untuk membantu rakyat. Apalagi di masa pandemi, negara akan sekuat tenaga mengatasi wabah tersebut.

Rakyat yang sudah menderita karena kehilangan salah seorang anggota keluarganya, tidak akan dibebani dengan biaya-biaya yang memberatkan. Negara akan membantu rakyatnya menggunakan kas yang ada di baitul maal.

Wallahu a'lam bisshawwab