Jangan Umumkan yang Khusus dan Khususkan yang Umum



Oleh: Inge Oktavia Nordiani

(Pemerhati masalah publik)


Ibarat kepala memang letaknya di atas jangan sekali-kali letakkan kepala di bawah dalam keadaan normal, karena itu akan menjadi sesuatu yang keliru. Begitu pula kehidupan kita ini apabila tidak diatur dengan Islam akan menjadi sesuatu yang tidak lebih dari sebuah gasing. Dimana angin yang lebih kencang menghembuskan maka putaran gasing pun siap mengikuti.


Dahulu kehidupan sejoli remaja tanpa ikatan adalah hal yang khusus, kasuistis dan memalukan. Untuk bertemu berdua adalah seperti suatu kehinaan apabila sampai ada yang mengetahui. Namun hal itu kini mulai bergeser seiring dengan berputarnya roda kehidupan. Terlebih dengan fenomena generasi Z (akhir zaman) yang seakan melazimkan tindakan tersebut. Bahkan ada rasa bangga yang terpatri di dadanya. Semakin ditunjukkan, akan semakin berjaya kehidupannya. Maka tidak heran apabila sampai hari ini prosentase pergaulan bebas semakin mendekati angka 100. Sungguh mengerikan.


Padahal Islam telah jelas mengajarkan pada kita bagaimana posisi seharusnya kehidupan interaksi laki-laki dan perempuan. Ada interaksi yang sifatnya khusus dan umum. Dengan sebuah pengaturan yang sesuai pada tempatnya maka akan memunculkan sebuah kehidupan yang teratur dan bersahaja di dalam interaksi laki-laki dan perempuan.


Begitu pula dengan budaya/kebiasaan saling mengingatkan, menegur dan pmemberi masukan pada teman, saudara ataupun orang lain. Kini hal tersebut mulai menjadi barang yang langka bahkan sampai menyebabkan keengganan disebabkan respon dari seseorang yang kita ingatkan. Kita menjadi takut dimusuhi, takut disangka sok suci dan lain sebagainya. Kondisi ini tidak terlepas dari kehidupan kapitalistik yang memang mencetak sikap individualistis. Maka wajar bila sekarang bermunculan kalimat 'ini urusan saya', 'urus saja dirimu sendiri' bahkan sampai ada kalimat yang terlontar 'kita beda dalam memilih dosa'. Padahal dalam Islam satu nasihat yang diterima dan dikerjakan oleh saudara kita maka akan menjadi pahala ganda pada diri kita. Namun motivasi ilahi tersebut telah tergerus oleh kehidupan yang tidak islami ini.


Demikian pula dengan istilah-istilah yang dibuat merayap untuk diterima ramah oleh masyarakat seperti bunga yang pada hakekatnya adalah riba, kaum pelangi yang hakekatnya adalah kaum homo/lesby, Pekerja Seks Komersil (PSK) dan lain sebagainya.

Padahal dalam Islam ada sebuah formula untuk memfilter penggunaan sebuah istilah. Ada istilah yang sifatnya khos dan umum. Sifat yang khos (mengandung makna dari mabda tertentu) menandakan hal itu tidak boleh digunakan oleh kaum muslimin. Sementara yang sifatnya  umum (tidak mengandung unsur mabda') maka  sifatnya boleh digunakan oleh kaum muslimin (An Nabhani, halm. 145)


Sebagai umat Islam sungguh identitas baik secara istilah maupun prilaku dalam kehidupan sudah menjadi keharusan untuk diselaraskan dengan apa yang Allah Swt kehendaki. Sebab disanalah hakikat hidup seseorang akan benar benar berjalan menjadi sebuah kepribadian Islam yang unik. Islam benar-benar menjaga jernihnya akal pikiran manusia dari hal-hal yang dapat merusaknya. Oleh karena itu tidak akan kita temukan lagi jerat-jerat yang membuat kita mengkhususkan yang umum dan mengumumkan yang khusus apabila kita berpegang teguh pada Islam. Hal ini tentu tidaklah menjadi mudah melainkan ada peran masyarakat sekaligus negara dalam menjaga dan mengatur kewarasan akal pikiran dan perilaku sebuah masyarakat.


Maka harus ada kerjasama yang selaras dari semua pihak, baik individu, masyarakat, dan negara supaya semua bisa kembali pada porsi masing-masing

Wallahu a'lam bis shawab.