Jaminan Kesehatan Berkualitas dalam Khilafah


Oleh : Dwi Susanti

(Praktisi Pendidikan)


Innalillahi wainna ilaihi rojiun, Sungguh kata ini yang layak kita ucapkan untuk mengiringi gugurnya para tenaga medis yang berjuang di garda terdepan melawan keganasan virus Covid-19 di negeri kita. Pengurus besar Ikatan Dokter Indonesia ( PB IDI) Adib Khumaidi mengatakan, kematian tenaga medis dan kesehatan di Indonesia tercatat paling tinggi di Asia. Setidaknya wabah ini telah merenggut nyawa para tenaga kesehatan sebanyak 507 nakes dari 29 provinsi di Indonesia. Dimana rincian 507 tenaga kesehatan yang meninggal urutan pertama di tempati oleh para dokter sejumlah 228 orang, perawat 167 orang, bidan 68 orang, dokter gigi 13 orang, ahli teknologi lab medik 10 orang, apoteker  6 orang, rekam radiologi 4 orang, terapis gigi 2 orang, sopir ambulans 2 orang, tenaga farmasi 1 orang, elektromedik 1 orang, Sanitarian 1 orang, tenaga kesehatan lainnya 4 orang. Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah kematian tenaga kesehatan dan tenaga medis tertinggi. (Kompas.com, 29/12/2020)

Tentu saja hal ini merupakan kerugian besar bagi masyarakat Indonesia.  Padahal sebelum terjadi pandemi saja jumlah dokter Indonesia disebut terendah kedua di Asia Tenggara, yaitu 0,4 dokter per 1000 penduduk. Yang artinya setiap 4 dokter harus melayani 10.000 penduduk. Maka setelah pandemi jumlah dokter semakin berkurang.  Dengan berbagai fakta di atas menunjukkan bahwa negara telah gagal memberikan jaminan kesehatan dan juga perlindungan nyawa kepada rakyat termasuk pada para tenaga medis. Lalu bagaimana hal tersebut dalam pandangan Islam? Serta bagaimana Islam mewujudkan pemenuhan jaminan kesehatan dan perlindungan nyawa kepada seluruh rakyatnya?

Kesehatan dalam Pandangan Islam

Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna yang dibawa oleh Rasulullah untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Islam secara terperinci telah mengatur berbagai hal termasuk dalam hal ini adalah tentang masalah kesehatan. Ada statement yang mengatakan bahwa kesehatan memang bukan sesuatu hal terpenting, namun tanpa kesehatan maka segala sesuatu menjadi tiada artinya. Dari pernyataan ini bisa disimpulkan bahwa kesehatan merupakan hal penting dalam hidup ini. Menyadari hal tersebut, maka Islam memasukkan masalah kesehatan menjadi kebutuhan pokok kolektif umat  di samping keamanan dan pendidikan. 

Hal ini berdasarkan perilaku Rasulullah yang menjadikan dokter hadiah dari Raja Mauqaqis sebagai dokter umat bukan dokter pribadi beliau. Artinya negara yang direpresentasikan oleh khalifah wajib memenuhi jaminan kesehatan kepada seluruh warga negaranya secara gratis. Rasulullah bersabda  yang artinya, “Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari mendapati keadaan aman kelompoknya, sehat badannya, memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya.” (HR. Bukhari)

Di samping itu, Islam juga sangat menghargai nyawa seorang muslim sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah dalam suatu hadis yang artinya, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. At Tirmidzi)                                            

Dengan demikian, negara akan berupaya mewujudkan jaminan kesehatan dan perlindungan nyawa terhadap rakyat secara optimal baik dalam kondisi normal maupun saat menghadapi wabah.

Khilafah Menjamin Kesehatan dan Perlindungan Nyawa 

Ada beberapa prinsip/konsep yang dilakukan oleh khilafah dalam menjamin kesehatan dan perlindungan nyawa rakyat. Prinsip/konsep itu di antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, menetapkan kesehatan sebagai kebutuhan pokok umat yang pemenuhannya wajib berada pada tanggung jawab negara. Negara harus melakukan tanggung jawabnya ini secara mandiri tidak boleh menyerahkan kepada swasta apalagi korporasi. Sehingga semisal JKN atau BPJS tidak akan pernah terjadi dalam Islam. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah bahwa khalifah adalah penggembala yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah atas gembalaannya (rakyat). Merupakan suatu hal yang berdosa ketika tidak mengerahkan segala daya upaya yang ada pada negara secara optimal untuk melindungi kesehatan dan nyawa rakyat.

Kedua, mengalokasikan dana yang mencukupi untuk kesehatan masyarakat dalam APBN/ Baitul Mal. Pembiayaan untuk menjamin kesehatan merupakan pengeluaran pokok yang harus selalu tersedia dalam Baitul Mal. Pembiayaan ini bisa diambilkan dari harta milik umum salah satunya adalah barang tambang yang kondisinya melimpah. Apabila hal ini tidak mencukupi dan darurat (terjadi kekosongan kas) bahkan negara diperbolehkan mengambil pajak dari warga muslim yang kaya sejumlah kekurangan biaya yang ada. Pajak ini sifatnya temporal dan akan dihentikan jika kondisi kembali normal. Pembiayaan ini selain untuk menggaji para tenaga medis secara layak, juga untuk memenuhi sarana prasarana yang memadai dan berkualitas misal untuk pendirian rumah sakit-rumah sakit, penelitian-penelitian terkait kesehatan semisal virus dan vaksin, peralatan medis yang canggih, juga fasilitas pengaman yang memadai bagi para tenaga medis yang menangani penyakit menular termasuk wabah seperti masker, baju hasmat, fentilator, dan lain-lain.

Ketiga, jaminan mutu layanan kesehatan. Jaminan ini meliputi 3 hal utama yaitu administrasi yang simpel dan tidak berbelit-belit, pelaksanaan yang bersifat cepat dan tenaga medis yang kompeten. Dengan demikian, maka layanan kesehatan pada sistem khilafah harus memenuhi kriteria: layanan kesehatan yang berkualitas sesuai standar etik kedokteran yang telah teruji, dilaksanakan oleh orang-orang yang kapabel di bidangnya dan saleh-salehah sehingga pasti amanah, layanan kesehatan mudah diakses oleh semua rakyat dan selalu tersedia, lokasi layanan kesehatan juga mudah dicapai oleh masyarakat.

Karena itu, negara tentu akan benar-benar memberikan gaji yang memadai bagi para tenaga kesehatan. Negara juga memperhatikan sisi insaniyah para tenaga medis dengan memberikan beban jam kerja yang wajar maupun kewajiban ummun wa rabbatul bait bagi dokter perempuan. Pemerintahan khilafah bersifat sentralisasi dan administrasi bersifat desentralisasi  memungkinkan khilafah untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat serta cepat dalam pelaksanaan kebijakannya.

Keempat, upaya pencegahan berbasis sistem. Penerapan syariat Islam secara kafah dalam berbagai lini kehidupan akan menjadi hal yang efektif dalam melakukan pencegahan terhadap berbagai hal negatif termasuk dalam masalah kesehatan. Ketakwaan individu yang tinggi akan memunculkan pola emosi yang sehat, pola hidup sehat, pola makan sehat, pola perilaku sehat, lingkungan bersih, wabah yang terkarantina dengan baik, dan lain-lain. Kontrol sosial yang ada pada masyarakat juga membuat pencegahan yang efektif. Karena masyarakat akan saling mengingatkan dan membantu jika terjadi sesuatu yang perlu segera di tengah umat. Ditambah lagi aturan dan sanksi yang tegas yang diberlakukan oleh negara bagi setiap pelanggar syariat akan membuat promosi preventif yang efektif pada masyarakat khilafah.

Demikianlah konsep Khilafah Islam dalam menjamin kesehatan dan perlindungan nyawa pada warganya. Kegemilangan khilafah dalam berbagai bidang termasuk dalam pelayanan kesehatan telah terukir dengan tinta emas peradaban Islam. Namun sayang hal ini saat itu tidak kita jumpai pada satu negara pun di dunia ini. Karena kapitalislah yang dijadikan sebagai dasar pijakan yang justru menyebabkan kesengsaraan pada umat. Untuk itu saatnya kembali pada sistem Islam yang telah terbukti mampu mewujudkan kesejahteraan dan kemuliaan pada segala bidang.

Allahu a’lamu bishshawab.