Islam Solusi Tuntas Hadapi Banjir


Oleh : Lia Sulastri


Belum usai wabah Covid-19 yang melanda negeri, kini masyarakat harus dihadapkan lagi dengan wabah banjir yang menimpa sebagian daerah di Indonesia khususnya Jawa Barat untuk wilayah Bandung dan sekitarnya. Dalam sepekan ini, hujan yang terus menerus mengguyur kota Bandung mengakibatkan terjadinya banjir di sejumlah kawasan Bandung raya. Hal ini mengakibatkan sejumlah rumah warga terendam banjir, akses jalan terputus dan beberapa fasilitas umum mengalami kerusakan.

Dikutip dari Merdeka.com, setidaknya ada 7.364 rumah di Kabupaten Bandung terendam banjir yang diakibatkan hujan deras yang terjadi pada hari Kamis (24/12/2020) sore. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, Jumat (25/12/2020) juga mencatat sebanyak 11 sekolah dan 42 tempat ibadah terendam banjir.

Meski terjadi secara periodik setiap kali musim hujan datang, tetapi banjir yang melanda wilayah-wilayah Bandung dan sekitarnya dinilai semakin parah dan meluas. Bahkan banyak masyarakat yang kehilangan harta benda akibat wabah banjir ini.

Hujan yang sejatinya merupakan rahmat dari Allah Swt., sebagai bukti kasih sayang-Nya kepada umat manusia telah berubah menjadi sesuatu yang menakutkan. Bagaimana tidak, setiap kali musim hujan datang, justru yang muncul dalam benak masyarakat adalah rasa was-was dan takut akan akibat dari hujan tersebut.

Banyaknya lahan yang dieksploitasi oleh para pengusaha untuk dijadikan sebagai komoditas yang bernilai jual tinggi seperti hotel, restoran, mall dan pengembangan pembangunan perumahan rakyat, tanpa memperhatikan akibat dari pembangunan tersebut menjadi pemicu terjadinya banjir. Tentu hal ini menjadi suatu kelayakan dalam pembangunan kapitalistik yang berlandaskan paradigma batil yaitu sekularisme liberalisme, yang konsep pembangunannya tidak memperhatikan prinsip-prinsip kelestarian hutan dan lahan serta keseimbangan alam dan lingkungan. 

Selama paradigma pembangunan masih mengacu pada paradigma kapitalistik, maka banjir akan mustahil untuk diatasi. Butuh perubahan paradigma dalam pengelolaan banjir dengan paradigma yang sahih yaitu Islam.

Dalam pandangan Islam, air, hutan dan lahan adalah ciptaan Allah Swt. diciptakan untuk kesejahteraan manusia bukan untuk komoditas. Allah Swt. berfirman: “Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu." (QS. Al-Baqarah : 29)

 Diciptakan-Nya dengan ukuran: "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran." (QS. al-Qomar : 49), sehingga berada dalam keseimbangan dan keserasian satu sama lain: "Dan Dia menciptakan keseimbangan." (QS. ar-Rahman : 7), dan diperintahkan untuk memelihara keseimbangan itu: "Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu." (QS. ar-Rahman : 8)

Khalifah sebagai pelaksana syariat kafah secara praktis akan menerapkan sejumlah kebijakan yang sahih, di antaranya:

1. Hutan merupakan milik umum, sebab hutan memiliki fungsi ekologis dan hidrologis yang dibutuhkan jutaan manusia. Dengan alasan apa pun, negara tidak dibenarkan memberikan hak pemanfaatan istimewa berupa hak konsesi dan lainnya. Baik untuk pembukaan tambang, perkebunan sawit dan pembangunan infrastruktur.

2. Negara adalah pihak yang berwenang dan bertanggung jawab langsung lagi sepenuhnya dalam pengelolaan hutan. Rasulullah saw. bersabda: "Imam adalah ibarat penggembala dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya (rakyatnya)." (HR. Muslim)

3. Anggaran berbasis Baitul mal dan bersifat mutlak. Negara memiliki kemampuan finansial yang memadai untuk pelaksanaan berbagai fungsi, khusus untuk program penanggulangan banjir, reboisasi, naturalisasi sungai dan pengembalian fungsi lahan, pembangunan kembali situ dan waduk, riset serta penggunaan teknologi terkini untuk mempercepat pencapaian maksimal berbagai program tersebut.

4. Kekuasaan tersentralisasi, sementara administrasi bersifat desentralisasi. Aspek ini meniscayakan terwujudnya program naturalisasi ribuan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang selama ini terhambat oleh sekat-sekat otonomi daerah.

Dengan mengembalikan semua solusi permasalahan kehidupan termasuk wabah banjir kedalam Islam kafah yang menerapkan seluruh hukum-hukum Allah, maka kehidupan masyarakat akan terlindungi, sejahtera dan aman dalam naungan Islam. Karena Islam akan terpancar sebagai agama yang rahmatan lil'alamin.

Wallaahu a’lam bishshawab.