Oleh : Listy Amiqoh

Pendidik Generasi dan 

Ibu Rumah Tangga


Sudah lebih dari sembilan bulan virus corona berkembang di Indonesia. Namun hingga kini belum menunjukkan kapan pandemi ini akan segera berakhir. Bahkan di penghujung tahun 2020, orang yang terpapar virus corona kian hari kian banyak bahkan semakin membludak. Salah satunya ada di kawasan Kabupaten Bandung.


Dilansir dari laman prfmnews.id, gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Kabupaten Bandung, Jawa Barat, melaporkan update terbaru peta sebaran virus corona per kecamatan pada Sabtu 5 Desember 2020, Kecamatan Cileunyi merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Bandung dengan kasus positif aktif virus corona terbanyak dibanding dengan wilayah lain yang ada di Kabupaten Bandung.


Berdasarkan fakta di atas, di wilayah Bandung saja sudah terjadi pelonjakan kasus Covid-19, belum lagi di wilayah-wilayah lainnya yang berada di Indonesia. Itu artinya saat ini penyebaran virus Covid-19 sudah tidak terkendali lagi. Masyarakat pun seolah tidak peduli dengan peningkatan kasus Covid-19 ini seperti tidak terjadi apa-apa sehingga bebas berlalu lalang kesana kemari tanpa menghiraukan protokol kesehatan.


Sudah seharusnya diperlukan upaya dari masyarakat agar sadar bahwa peningkatan kasus positif Covid-19 akibat abainya warganya dengan tidak mematuhi protokol kesehatan ketika keluar rumah. Termasuk juga akibat minimnya perhatian negara terhadap kebutuhan primer publik.


Seharusnya masyarakat tidak banyak keluar rumah jika tidak terlalu penting. Namun jika sekiranya terpaksa untuk keluar rumah sebaiknya mengurangi kerumunan, menjaga jarak, menggunakan masker dan selalu menjaga kebersihan. Karena kita tidak tahu di manakah virus corona itu mengendap, dan ketika imunitas kita lemah bisa saja kita langsung terpapar. 


Sungguh sangat mengkhawatirkan dengan kondisi yang terjadi saat ini, negara seolah-olah mengesampingkan nyawa rakyat tanpa pelayanan dan fasilitas memadai, berbeda jika rakyat itu pemodal/pengusaha, negara begitu sigap merespon dan mengeluarkan aturan. Inilah bukti dari paradigma kapitalis dalam membuat kebijakan, dalam menangani wabah pun selalu menggunakan metode yang lebih mementingkan aspek ekonomi. Seperti kebijakan adaptasi kebiasaan baru atau new normal, merupakan salah satu contoh bahwa pemerintah lebih mementingkan aspek ekonomi dibandingkan kesehatan atau bahkan nyawa rakyat.


Sudah saatnya masyarakat sadar bahwa penanganan virus corona membutuhkan solusi yang komprehensif atau menyeluruh bukan semata-mata hanya masalah teknis saja. Kapitalis sekuler yang tidak mengutamakan nyawa manusia, harus diganti dengan sistem modern. Sistem tersebut tiada lain adalah sistem yang menerapkan syariah Islam. Karena Islam mempunyai aturan yang jelas.


Islam memberikan solusi dalam mengatasi masalah wabah adalah sebagai berikut. Pertama, Isolasi/karantina. Rasul saw. bersabda: 

 “Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Jika terjadi wabah di tempat kalian berada, janganlah kalian keluar dari wilayah itu.” (HR. Al-Bukhari)


Tindakan isolasi/karantina atas wilayah yang terkena wabah dilakukan agar wabah tidak menyebar ke daerah lain,  ada pemisahan secara jelas mana yang sakit mana yang sehat, mana yang berdiam diri (isolasi), mana yang tetap bekerja. 


Selain itu, negara juga wajib untuk memenuhi berbagai kebutuhan untuk daerah yang diisolasi. Tindakan cepat isolasi/karantina cukup dilakukan di daerah terpapar saja. Daerah lain yang tidak terpapar bisa tetap berjalan normal dan tetap produktif. Daerah-daerah produktif itu bisa menopang daerah yang terpapar baik dalam pemenuhan kebutuhan maupun penanggulangan wabah. Dengan begitu perekonomian secara keseluruhan tidak terdampak.


Kedua, jaga jarak. Di setiap daerah yang terjangkit wabah akan diterapkan aturan berdasarkan sabda Rasulullah saw.:

“Janganlah kalian mencampurkan orang yang sakit dengan yang sehat.” (HR. Al-Bukhari) 


Jaga jarak dilakukan dengan physical distancing seperti yang diterapkan oleh Amru bin ‘Ash dalam menghadapi wabah Tha’un Amwas di Palestina kala itu dan berhasil. Hanya saja, untuk mengetahui siapa yang sakit dan yang sehat harus dilakukan 3T (test, treatment, tracing) massal tanpa henti, harusnya sejak dini sudah dilakukan pemerintah pusat.


Penguasa memiliki peran utama dalam melakukan 3T. Jadi tidak bisa menyerahkan pada kesadaran individu semata. Banyak masyarakat yang kebingungan untuk mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya, dan ini bisa menjadi salah satu alasan kenapa ada orang yang tidak mau melakukan tes karena jika dites positif kemudian harus di isolasi. Atau bisa juga ada orang yang tidak mau melakukan tes. Ini kenapa? Bisa jadi karena biaya tes yang mahal. Faktor inilah yang menjadi salah satu penyebab sebaran virus sulit untuk ditekan. Sebab, kecepatan dalam melakukan 3T itu menjadi kunci. 


Dalam Islam, jika terjadi wabah, tes akan dilakukan dengan akurat secara cepat, masif, dan luas. Tidak ada biaya sedikit pun. Lalu dilakukan tracing kontak orang yang positif dan dilakukan penanganan lebih lanjut. Yang positif dirawat secara gratis ditanggung negara. Negara akan bertanggung jawab memenuhi segala kebutuhan diri dan keluarganya selama masa perawatan. Dimana negara tidak bergantung pajak dan utang luar negeri untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya, melainkan mendapatkan pemasukan dari semua pendapatan SDA yang melimpah dan bisa juga dari aset-aset negara lainnya.


Itulah solusi yang dihadirkan oleh Islam. Oleh karena itu, mari kembali kepada hukum syariah, agar dampak pandemi Covid-19 tidak semakin parah. Dunia pun bisa kembali menghirup udara segar sebagaimana sebelum adanya virus. Hal ini akan terwujud jika kita menerapkan Islam secara kaffah.

Wallahu a'lam bi ash-shawab.


 
Top