Islam Memuliakan Wanita


Oleh : Nuni Toid

Pegiat Literasi dan Alumni Branding for Writer


Saat ini banyak dijumpai para pekerja perempuan. Baik itu di pabrik, toko, pasar maupun swalayan dan lain sebagainya. Tidak sedikit pula yang mendapatkan perlakuan yang tidak layak di tempat mereka bekerja. Teringat bagaimana kasus yang menimpa Elitha Tri Novianty, yang bekerja pada perusahaan produsen es krim PT. Alpen Food Industry (AFI) atau Aice. Ia mengalami pendarahan sampai harus melakukan operasi kuret karena bekerja dengan kapasitas yang terlalu berat. (theconversation.com,18/8/2020)

Masih laman yang sama, menurut Sarinah, juru bicara Federasi Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan (FSBDK) yang mewakili serikat buruh Aice menyatakan bahwa sejak tahun 2019 sudah terdapat 15 kasus keguguran dan enam kasus bayi yang dilahirkan dalam kondisi tidak bernyawa yang dialami oleh buruh perempuan Aice. Namun hal itu dibantah oleh pihak Aice, Simon Audry Halomoan Siagian. Ia menyatakan bahwa pihaknya sudah melarang pekerja perempuan yang sedang hamil untuk tidak bekerja pada shift malam. Walaupun begitu, tetap saja Aice mendapatkan kecaman dari berbagai pihak bahkan harus menghadapi pemboikotan.

Para pengamat buruh dan gender pun berargumen bahwa banyaknya praktik penindasan buruh perempuan merupakan akibat dari langgengnya budaya patriarki dan problem gender di sektor ketenagakerjaan di Indonesia. Begitulah nasib kaum perempuan saat ini. Mereka khususnya kaum buruh tidak mendapatkan perlakuan yang sesuai dengan hak-haknya. 

Menurut perspektif feminisme, adanya ketidaksetaraan gender dianggap merugikan kaum perempuan. Maka muncullah berbagai ketidakadilan sistemik perempuan. Seperti terjadinya praktik subordinasi dan marjinalisasi di berbagai bidang dan banyaknya kasus-kasus kekerasan, pelecehan dan lain sebagainya.

Kaum laki-laki diposisikan lebih hingga mempunyai power yang tinggi. Sedangkan kaum perempuan diposisikan di bawah kaum laki-laki. Sehingga merasa layak untuk diperlakukan secara semena-mena. Bahkan tak jarang dijadikan korban. Kaum perempuan dianggap lemah ketika tidak memiliki akses pada harta. Maka didoronglah para perempuan untuk bekerja demi meningkatkan martabatnya.

Pemikiran ini muncul dikarenakan pengaruh  paham demokrasi. Pemahaman ini menganggap bahwa masyarakat adalah kumpulan individu yang merdeka. Terdiri dari kaum laki-laki dan kaum perempuan yang terpisah.

Jelas prinsip ini telah menempatkan diri dengan keegoisan semata. Sebagai contoh, bila ada permasalahan yang menyangkut kelompok perempuan, maka mereka memandang permasalahan itu secara parsial. Sehingga solusi yang dihadirkan pun menjadi parsial juga. Tidak secara menyeluruh. Sebab hanya dilihat dari satu sudut saja yaitu perempuan.

Begitu kompleksnya permasalahan yang menimpa kaum perempuan di negeri ini. Dengan sistem kapitalisme-demokrasi yang dianutnya, negara mengeksploitasi kaum perempuan. Salah satunya dengan membuka lapangan pekerjaan. Seolah dengan para perempuan bekerja di luar rumah, kemuliaan dan derajat mereka akan menjadi terangkat. Begitupun dengan kesetaraan gender yang mengusung paham liberalnya. Mereka menuntut agar kaumnya mendapatkan kedudukan yang setara dengan kaum laki-laki, baik dalam kehidupan internal (rumah tangga) maupun publik. Padahal itu justru mengakibatkan para perempuan kehilangan martabat kemuliaannya. 

Begitulah paradigma kapitalisme-demokrasi. Memandang kaum perempuan dengan sebelah mata. Hingga kelompok kesetaraan gender merasa harus berjuang memperbaiki aturan bagi kaum perempuan. Tentu saja sesuai dengan perspektif mereka yaitu kebebasan dalam segala hal. 

Berbeda dengan paradigma Islam. Islam adalah aturan sahih yang sempurna dalam mengatur semua permasalahan manusia secara menyeluruh tanpa terkecuali. Sebab, semua permasalahan yang ada baik menimpa komunitas kaum laki-laki maupun perempuan merupakan permasalahan seluruh manusia. Sehingga solusi yang dihasilkan secara menyeluruh, tidak parsial.

Kaum perempuan dalam Islam mendapatkan kedudukan yang mulia. Kemuliaan itu dengan menempatkan kaum perempuan sebagai ummu warabbatul bayt (ibu dan pengatur rumah tangga) dan madrasatul ula (pendidik pertama). Itulah kewajiban yang harus dijalankan oleh kaum perempuan. 

Karena kewajibannya itu, Islam memberikan hak-hak yang istimewa bagi kaum perempuan. Kaum perempuan tidak wajib bekerja ke luar rumah, karena pekerjaannya adalah jelas di dalam rumah. 

Kaum perempuan juga berhak mendapatkan nafkah dan semua kebutuhannya menjadi tanggung jawab suaminya. Oleh karena itu, negara wajib menyediakan lapangan pekerjaan bagi kaum laki-laki. Sebab seorang pemimpin dalam Islam bertugas mengurusi semua kebutuhan pokok rakyatnya, yaitu dengan memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan bagi semua masyarakat. 

Negara juga akan menindak dengan tegas bagi suami yang malas atau lalai dalam memenuhi kewajibannya dalam bekerja. Namun bila suami tidak dapat memberikan nafkah kepada istrinya disebabkan meninggal dunia atau sakit keras, maka kewajiban memberikan nafkah diserahkan kepada pihak wali perempuan. Tetapi jika semua pihak sudah tidak ada atau tidak mampu dalam pemenuhan nafkah bagi perempuan, maka diserahkan kepada negara.

Bukan itu saja, negara juga akan memberikan fasilitas yang diperlukan kepada semua masyarakatnya termasuk perempuan. Seperti fasilitas dalam bidang pendidikan, kesehatan dan keamanan. 

Inilah keagungan Islam yang sangat memuliakan kaum perempuan. Sudah banyak saksi sejarah yang mengungkapkan bagaimana Islam sangat melindungi dan menjaga kehormatan kaum perempuan. Sebagai contoh, bagaimana kisah Khalifah Umar bin Khattab yang biasa melakukan blusukan di malam hari. Hingga pada satu malam beliau mendapati seorang ibu dengan anak-anaknya yang sedang menangis disebabkan kelaparan. Tentu saja yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab saat itu segera membawa satu karung gandum dengan memanggul sendiri dan diberikan langsung kepada ibu tersebut. Masih banyak kisah-kisah sejarah lain yang membuktikan betapa Islam sangat memuliakan kaum perempuan. 

Maka agar kaum perempuan kembali mendapatkan kedudukan yang mulia, sudah saatnya umat Islam menerapkan syariat Islam dalam berbagai aspek kehidupan. 

Wallahu a'lam bish-shawab.