Oleh : Anna Ummu Maryam

Pegiat Literasi Peduli Negeri


Ketua Yayasan Syekh Ali Jaber, Habib Abdurrahman Al-Habsyi, secara singkat kepada Republika.co.id, Kamis (14/1). "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, telah wafat Syekh Ali Jaber, saya sedang menuju RS Yarsi Jakarta Pusat," ujar dia. Secara detail, beliau belum menjabarkan perihal meninggalnya dai asal Madinah, Arab Saudi itu.

Sebelumnya, Syekh Ali Jaber dilaporkan semakin menunjukkan perkembangan yang baik. Selama dirawat intensif karena Covid-19 sejak Selasa (29/12/2020) lalu, kesehatan dai kelahiran Madinah ini terus memperlihatkan perkembangan baik setiap harinya. 

Setiap media dihiasi dengan kabar meninggalnya Syekh Ali Jaber, yang akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya setelah beberapa hari diberitakan positif Covid-19. Seperti tak percaya, namun inilah fakta bahwa takdir Allah Swt. tiada yang mampu melampauinya jika memang ajal telah ditetapkan.

Indonesia Waspada Virus  Corona

Meninggalnya Syekh Ali Jaber adalah  salah satu akibat dari ganasnya virus Covid-19 ini dan pelajaran bagi negeri ini bahwa negara harus bertanggung jawab sepenuhnya dalam menyudahi virus mematikan ini. Negeri ini terus ditimpa dengan berbagai musibah yang bahkan merata di setiap wilayahnya. Ribuan nyawa berjatuhan dengan virus ini, namun masih saja ada masyarakat kita yang meragukan kebaradaan virus corona ini adalah rekayasa saja.

Walaupun tidak kita pungkiri bahwa ada oknum yang coba memanfaatkan kondisi ini untuk mendapatkan keuntungan di tengah wabah. Dan juga mengetahui bahwa dana yang dikucurkan untuk penanggulangan Covid-19 ini pun sangat besar.

Deputi Kepala BPKP Bidang Pengawasan Instansi Pemerintah Bidang Perekonomian dan Kemaritiman Salamat Simanulang menjabarkan pemerintah mengalokasikan dana untuk menangani pandemi dari APBN sebesar Rp695,2 triliun, APBD Rp78,2 triliun, dan dana desa Rp28,46 triliun. (CCN.Indonesia.com, 29/9/2020)

Sungguh fantastis angkanya, namun muncul pertanyaan apakah sudah tepat sasaran?

Maka, jika kita terus menelusuri permasalahan ini, akan didapati apa saja yang menyebabkan hal ini tidak ditangani dengan tepat. Maka puncak dari kemelut permasalahan ini adalah penerapan negara berdasarkan sistem kapitalis demokrasi liberal.

Dimana dalam sistem ini manusia adalah pembuat aturan dalam setiap kegiatan manusia. Sedangkan sistem ini  juga menganggap bahwa Allah Swt. tidak berhak mengatur manusia, namun hanya sebagai pencipta saja. Sehingga manusia diajak untuk membuang syariat-Nya dan mengambil demokrasi sebagai sistem yang baik.

Sehingga solusi yang ditawarkan pasti akan disesuaikan dengan paham kapitalis demokrasi liberal. Dimana fokusnya adalah keuntungan dan kemaslahatan orang yang punya duit saja atau dengan kata lain para kapitalis.

Sedangkan rakyat dibiarkan hidup tanpa pengayoman yang benar dan dibiarkan mengurusi hidupnya sendiri tanpa tanggung jawab pemerintah sepenuhnya. Sehingga wajar dalam sistem ini kesejahteraan dan kesehatan yang maksimal hanya dirasakan oleh orang kaya.

Sedangkan yang lainnya dibiarkan menyelesaikan masalah mereka sendiri. Sehingga, wajar kita dapati banyak kasus dalam penanganan covid ini ribuan nyawa tak bisa diselamatkan dengan segera.

Padahal ini menyangkut nyawa orang banyak. Karena begitu banyaknya kepentingan para kapital, sehingga kompromi dalam menyelesaikan masalah ini melihat untung dan rugi bagi para kapital. 

Sehingga proses penyembuhan terkesan uji coba bukan penyelesaian yang tepat dan benar. Maka wajar kepercayaan rakyat pada pemerintah kian berkurang karena lepasnya tanggung jawab penuh negara dalam menyelesaikan permasalahan ini dengan segera.

Rakyat Butuh Kehidupan Sehat

Hal inilah yang terus diimpikan oleh setiap rakyat setelah hampir setahun virus corona ini memakan banyak korban. Rakyat berharap virus ini ditangani dengan cepat, tepat dan benar. Sehingga aktivitas kembali berjalan normal.

Pada sejatinya kondisi ini semakin menyadarkan kita, bahwa alangkah penguasa dan rakyatnya kian jauh dari aturan Islam yang sejatinya adalah solusi atas segala permasalahan manusia.

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. al-Maidah : 3)

Maka cukuplah bagi kita meyakini bahwa dengan menjalankan perintah-Nya akan dicukupkan segala nikmat yang kita cari di dunia dan akhirat ini.  Lantas mengapa masih ada keraguan dalam hati kita, bahwa ada aturan selain Islam yang mampu memberi solusi bagi segala urusan hidup dan mati kita.

Kesejahteraan hidup manusia hanya akan nyata jika Islam kafah dalam bingkai khilafah yang diterapkan oleh manusia untuk mengatur dirinya. Allah Swt. menjaga kerusakan di muka bumi dengan takwa hamba-Nya.

Dan harus dipahami oleh setiap muslim, bahwa setiap cobaan yang diberikan Allah Swt. adalah untuk introspeksi diri akan kemaksiatan yang dilakukan dan peringatan untuk kembali kepada Islam sebagai peraturan. Karena kerusakan baik berupa virus dan lainnya adalah kuasa Allah Swt.

: فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى

"Lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka." [QS. Thaha : 123]

. وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا

"Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit." [QS. Thaha :124]

Semoga dengan kematian setiap hambanya dapat menyadarkan kita, bahwa tidak ada peraturan paling baik dan sempurna kecuali kita kembali menerapkan Islam dalam segala sisi dan interaksi manusia.

Wallahu a'lam bishshawwab.

 
Top