Oleh : Tri S, S.Si

Penulis adalah Pemerhati Perempuan dan Generasi


Sebanyak 600 pegawai PT Alpen Food Industry (es krim Aice) melakukan aksi mogok kerja. Mereka menuntut adanya keadilan bagi para pekerja wanita yang sedang hamil namun tetap dieksploitasi oleh perusahaan. (Acehsatu, 28/11/2020) 

Menurut Sarinah, buruh hamil dipekerjakan pada malam hari hingga tingginya kasus keguguran dan kematian bayi baru lahir. Para pekerja wanita hamil dipaksa untuk bekerja sesuai dengan target normal, mengangkat beban 10 gulung rol plastik, dimana berat satu gulung adalah 10 kilogram. Mereka juga diharuskan menyapu dan mengepel secara jongkok sebelum mulai bekerja hingga ditempatkan di bagian produksi yang menggunakan bahan kimia berbahaya dan mengganggu kesehatan ibu hamil. Meskipun sudah melaporkan kehamilan, mereka tetap diminta menunggu sampai kehamilan berusia lima bulan. Padahal usia awal kehamilan adalah usia yang paling rentan. (Acehsatu, 28/11/2020) 

Poin lainnya yang dipermasalahkan oleh SKBBI, menurut Sarinah, adalah jam kerja malam masih diberlakukan kepada perempuan hamil meski telah dikeluarkan surat rekomendasi oleh Komnas Perempuan. Hal itu menurutnya menjadi pemicu tingginya angka keguguran karyawan wanita. (Cnnindonesia, 1/3/2020)

Peristiwa ini merupakan salah satu kasus yang menimpa perempuan. Diluar sana masih banyak kasus serupa yang tidak terendus media. Upaya pegiat gender yang berupaya menghilangkan kesenjangan dalam lapangan pekerjaan antara laki-laki dan perempuan patut dipertanyakan. Faktanya perempuan yang bekerja diluar, kurang mendapatkan hak dasar dan perlindungan. Belum lagi kekerasan fisik dan verbal yang dialami perempuan butuh segera diselesaikan. Tentunya kondisi ini tidak bisa dipisahkan dari keberadaan sistem yang berorientasi manfaat, yaitu kapitalisme. Sistem ini telah gagal mewujudkan kondisi ideal, utamanya dalam masalah ekonomi. Akhirnya para perempuan turut jadi penopang ekonomi kapitalisme. Para perempuan dipaksa berdaya dengan tolak ukur berupa materi semata. 

Islam telah memberikan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan sesuai kodratnya. Secara fitrah perempuan memiliki tugas sebagai istri dan ibu calon generasi. Dan laki-laki secara fitrah adalah mencari nafkah. Maka kewajiban laki-laki dalam mencari nafkah ini harus diimbangi dengan lapangan kerja yang luas sehingga kaum pria bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. 

Namun sayang, sistem kapitalisme yang diterapkan di negara ini menjadikan sebagian besar kaum perempuan harus melepaskan fitrahnya untuk bekerja diluar membantu perekonomian keluarga. Tak ayal kasus pelecehan, pekerjaan yang berat, upah yang murah bahkan tanpa tunjangan harus dialami para perempuan. 

Upaya menuntut kesetaraan upah maupun tuntutan kesetaraan gender sebagai solusi untuk menghapuskan kekerasan pekerja perempuan ini bukanlah solusi. Maka harus ada alternatif solusi yang bersifat sistemis dan tuntas. Solusi ini hanya ada di Islam. 

Islam akan menjamin kebutuhan pokok semua rakyatnya. Negara harus menyediakan lapangan kerja, memberikan pendidikan dan pelatihan kerja, bahkan bantuan modal jika diperlukan. Sehingga perempuan tidak harus bekerja keluar rumah membantu perekonomian keluarga sebab seluruh keperluannya telah dipenuhi suami atau walinya. Islam juga akan menindak suami yang tidak memenuhi kebutuhan keluarganya dengan baik. 

Meski perempuan tidak bekerja dan mempunyai uang, kedudukan mereka tidak menjadi rendah. Sebab, istri berhak mendapatkan perlakuan baik dari suaminya. Tugas perempuan sebagai pendidik generasi, sekolah pertama (madrasatul ula) bagi anak akan terlaksana dengan baik, tanpa harus dipusingkan dengan susahnya ekonomi, kekerasan dan kekhawatiran anak-anak yang terlantar. Maka disini jelas bahwa Islamlah satu satunya solusi tuntas mengatasi permasalahan perempuan. Bukan persamaan gender. Karena Ibu akan mulia dengan Islam.

Wallaahu a’lam bishshawaab.

 
Top