Hukum Kebiri yang Tidak Solutif


Oleh : Ummu Haura


Peraturan Presiden tentang hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual pada anak sudah ditandatangani oleh Presiden Jokowi per tanggal 7 Desember 2020. Peraturan tersebut tertuang dalam PP Nomor 70 Tahun 2020 yang bertujuan untuk menekan dan mengatasi kekerasan seksual terhadap anak serta memberikan efek jera kepada pelaku. Namun, benarkah hukuman kebiri menjadi solusi tuntas yang mampu menyelesaikan permasalahan kekerasan seksual terhadap anak?

Wacana hukuman kebiri di Indonesia sudah bergulir sejak tahun 2014. Namun banyak menuai pro dan kontra di kalangan medis. Pasalnya, hukuman kebiri yang dilakukan dengan mekanisme pemberian suntikan kimia, mampu untuk menekan produksi hormon testosteron yang berfungsi menekan gairah seksual pada diri pelakunya. Sehingga pada tahun 2019, dilansir dari kompas.com, Aris harus menjalani hukuman kebiri kimia setelah terbukti melakukan pemerkosaan terhadap 9 anak. Berdasarkan putusan pengadilan, terpidana kasus pelecehan dan kekerasan anak itu juga harus mendekam di penjara selama 12 tahun. Namun, benarkah hukuman kebiri menjadi solusi tuntas? 

Nyatanya, hukuman kebiri tak mampu menyelesaikan permasalahan kekerasan seksual terhadap anak. Hal ini karena dilihat dari cara kerja suntik kebiri kimia yang hanya bersifat sementara. 

Selain itu, jika diamati pelaku kekerasan seksual terhadap anak tidak hanya disebabkan oleh penyimpangan seksual dari pelakunya, namun banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Seperti minimnya iman, gaya hidup bebas, pemikiran liberal, sanksi yang kurang efektif bahkan cenderung ringan dan masih banyak penyebab lainnya. Namun dari sekian faktor penyebab tersebut akar pemasalahan yang mengakibatkan kerusakan perilaku masyarakat adalah aturan yang dipakai berasal dari manusia yang serba terbatas, sehingga kerusakan yang terjadi adalah sebuah keniscayaan. 

Oleh karena itu, sebagai manusia yang penuh dengan keterbatasan tidak layak untuk membuat aturan bagi manusia yang lain dan diperlukan aturan dari Dzat yang Maha Mengetahui yaitu Allah, yang telah tertuang dalam Al-Qur'an yang disampaikan melalui Nabi Muhammad saw. serta dipraktikkan selama kurang lebih 13 abad lamanya.

Wallahu a'lam bishshawab.