Oleh : Tri Sundari, A.KS

Member AMK dan Pendidik Generasi


Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita

Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa

Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita

Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

Lagu yang dinyanyikan oleh Ebiet G. Ade pada tahun 70an, masih sering diperdengarkan ketika terjadi musibah. Lirik lagu tersebut seolah menggambarkan kondisi alam, yang sudah tidak lagi bersahabat dengan manusia.

Mengawali tahun 2021, negeri kita diwarnai dengan rentetan musibah dan bencana alam yang datang silih berganti. Musibah tersebut telah menimbulkan kerugian materi dan menelan korban jiwa yang tidak sedikit jumlahnya.

Diawali bencana longsor yang terjadi di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat pada Sabtu (9/1/2020). Tidak lama kemudian disusul jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan Jakarta. Belum habis air mata korban jatuhnya pesawat, banjir melanda hampir seluruh wilayah di Kalimantan Selatan, yang diakibatkan tingginya intensitas hujan yang mengguyur daerah tersebut.

Duka rakyat masih belum berakhir, pada hari Kamis (14/1/2021) dan Jumat (15/1/2021), wilayah Mamuju dan Majene di Sulawesi Barat diguncang gempa. Disusul kemudian, Gunung Semeru yang berada di Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur meletus pada Sabtu sore (16/1/2021). Berita terbaru, terjadinya banjir bandang di Kabupaten Bogor menambah duka rakyat di negeri ini.

Dilansir oleh CNN Indonesia, 19/01/2021, Berdasarkan keterangan tertulis dari Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, sebanyak 900 jiwa terdampak banjir bandang di Kabupaten Bogor. Banjir yang terjadi di Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor pada Selasa (19/1) tersebut, disebabkan oleh hujan dengan intensitas tinggi yang disertai longsoran dari gunung.

Berbagai musibah dan bencana silih berganti menyapa negeri. Sejatinya menjadi bahan untuk melakukan introspeksi diri. Mengapa alam seolah tidak mau lagi bersahabat dengan manusia? 

Bagi rakyat yang terkena musibah, dituntut untuk bersabar atas semua musibah yang menimpanya, dalam Al-Qur'an surah al-Baqarah ayat 153, Allah Swt. berfirman :"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."

Sedangkan bagi kaum korporasi, sejatinya musibah ini dapat menyadarkan bahwa apa yang dilakukannya sudah merugikan orang banyak. Bukan rahasia lagi ketika kita melihat hutan yang awalnya lebat, ditumbuhi berbagai jenis pohon, saat ini keadaannya sudah sangat mengkhawatirkan. Hutan telah beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit yang dimiliki korporasi. 

Dalam sistem kapitalis, manusia berlomba untuk mendapatkan materi yang sebanyak-banyaknya. Tidak peduli lagi apakah yang dilakukannya akan merugikan orang lain atau tidak.

Bencana yang terjadi saat ini sejatinya menjadi muhasabah bagi seluruh rakyat, khususnya kaum korporasi. Dengan keserakahan mereka, maka banyak rakyat tidak berdosa yang menjadi korban. Saatnya kita untuk kembali pada sistem Islam.

Dalam Islam sudah diatur bagaimana memanfaatkan sumber daya alam, karena Islam mengatur tentang hak kepemilikan, yaitu:

- Kepemilikan Individu (Milkiyah Fardhiah) 

- Kepemilikan Umum (Milkiyah ‘Ammah) 

- Kepemilikan Negara (Milkiyah Daulah) 

Kepemilikan Umum dalam Islam tidak dapat dikuasai oleh individu, seperti yang terjadi saat ini. Kepemilikan umum seperti air, sumber energi dan barang tambang (gas, batu bara, emas, minyak bumi dan lain-lain), hasil hutan, dan lain sebagainya, akan dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat. 

Negara tidak boleh memberikan hak pengelolaan hutan kepada perorangan, karena negara dengan izin syariat, hanya sebagai pengelola secara bersama-sama dengan masyarakat untuk memanfaatkan suatu kekayaan yang berupa barang-barang yang mutlak diperlukan manusia dalam kehidupan sehari-hari seperti hasil hutan, dan lain-lain.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top