Oleh : Aisyah Yusuf (Aktivis Subang dan Member AMK)


Tahun 2020 baru saja berlalu, dan masih meninggalkan luka dan duka yang belum juga selesai, misalnya masalah Covid-19.

 

Diawal tahun 2021 tanah pertiwi kembali dirundung duka yang bertubi-tubi.


Diawali dengan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di Kepulauan Seribu (9/1/2021).

Kemudian bencana tanah longsor di Sumedang, Jawa Barat.


Pada tanggal 12 -14 Januari 2021 banjir menggenangi sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan, dan dikatakan bahwa ini banjir terparah.


Pada kamis 14 dan 15 Januari 2021 gempa mengguncang wilayah Majene dan Mamuju Sulawesi Barat, dengan kekuatan 5,9 SR. Kemudian terjadi gempa susulan dengan kekuatan 6,2 SR. (Kompas.com 19/01/2021)


Belum lagi, banyaknya para alim ulama yang wafat, yang menambah duka bagi kaum muslimin.


Semua bencana atau musibah itu merupakan ketetapan atau qadha dari Allah Swt.yang harus kita terima dengan sabar dan ikhlas, karena baik atau buruk semua dari Allah Swt.


Allah Swt. berfirman,


"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).

Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Q.S. Al-Baqoroh : 155-157)


Sabar, ikhlas dan tawakal adalah kunci dari menghadapi semua bencana itu, akan tetapi bukan dengan hanya pasrah.


Karena setiap peristiwa yang terjadi ada sebabnya, dan itulah yang harus senantiasa kita pahami.

Bisa jadi semua bencana dan musibah itu disebabkan oleh tangan-tangan rakus manusia, dan kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan.


Allah Swt. berfirman,

"Telah nyata kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan Allah Swt." (Q.S. Ar-Rum : 41)


Salah satu penyebab dari semua bencana ini adalah selain dari pembalakan liar oleh orang-orang tak bertanggung jawab, juga dikarenakan kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia itu sendiri. Karena tidak diterapkan aturan Islam secara kaffah.


Seperti firman Allah Swt.,


"Maka jika datang kepadamu petunjuk daripadaku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjukku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang diapa berpaling dari peringatanku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, "ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang melihat?" Allah berfirman, "Demikianlah telah datang kepadamu ayat-ayat kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan." (Q.S. Thaha : 123-126)


Boleh jadi akar masalah dari semua ini adalah tidak diterapkannya sistem Islam secara kaffah, yang menjadikan pemerintah saat ini abai dalam hal pengelolaan pembangunan, pengaturan dalam hal perhutanan, juga abai dalam hal kesejahteraan rakyatnya. Sehingga rakyatlah yang menanggung deritanya.


Islam memandang bahwa semua permasalahan, musibah, dan bencana adalah sebagai persoalan manusia semata.


Dalam hal ini, manusia ketika melakukan aktivitas atau perbuatan semata hanya untuk memenuhi hajatul udhuwiyah dan gharizah (kebutuhan jasmani dan naluri) saja.

Oleh karenanya penyelesaiannya pun harus ditempatkan sebagai solusi manusiawi.


Islam telah memberi solusi atas masalah-masalah ini yakni dengan hukum syara, dimana manusia diperintahkan Allah Swt. dalam menjalankan aktivitasnya harus sesuai dengan syariat-Nya.

Oleh karenanya Islam tidak membeda-bedakan masalah sebagai masalah ekonomi, masyarakat atau pemerintahan saja, akan tetapi dipandang sebagai masalah manusia saja.


Dengan demikian, manusia dituntut untuk senantiasa selalu mengaitkan perbuatannya dengan hukum syara dalam seluruh aspek kehidupan.


Sebelum bencana-bencana dan musibah itu melanda kembali. Kini saatnya kita bertaubat dan kembali pada hukum Allah Swt. secara kaffah.


Wallahu a'lam bishshawab

 
Top