Dibalik Pengaduan Berkedok Mencari Keadilan


Oleh : Heni Satika

(Praktisi Pendidikan)


Beberapa hari ini berita tentang seorang anak yang ingin memenjarakan ibu kandungnya marak diberitakan. Dipicu tentang persoalan pakaian yang akan diambil di rumah ibunya, ternyata pakaian tersebut sudah dibuang. Kemudian terjadi cekcok yang berujung pada terlukanya anak di bagian pelipisnya.

Berbekal hasil visum, anak tersebut melaporkan ibunya kepada polisi dengan tuduhan tindak kekerasan. Karena pengaduan tersebut, akhirnya membuat ibunya mendekam di penjara. Berbeda ungkapan ayah pelapor yang mengatakan bahwa itu bukan hanya persoalan pakaian saja. Tetapi karena perselingkuhan yang sudah dilakukan ibunya hingga menyebabkan kedua orangtuanya harus bercerai. (Tribunnews.com, 9/1/ 2021)

Rupanya perceraian itu membuat luka kepada anak-anaknya, hingga menyimpan kebencian yang sangat kepada ibunya. Kebencian itulah yang akhirnya meluap karena persoalan sepele yang terjadi.

Pengaduan serupa juga terjadi beberapa waktu yang lalu, terjadi di daerah Lombok. Seorang anak tega melaporkan ibunya yang berusia 60 tahun ke polisi, karena ibunya menggunakan uang hasil penjualan warisan bagian ibunya untuk membeli sepeda motor. Sepeda motor tersebut diletakkan di rumah saudaranya. (kompas.com, 29/6/2020)

Sebenarnya apa yang terjadi dalam keluarga muslim sekarang ini, sehingga tidak ada lagi rasa kasih sayang antar keluarga. Mandulnya fungsi keluarga membuat kekacauan di masyarakat. Kasih sayang hanya dinilai dengan persoalan materi. Meninggalkan adab atas nama mencari keadilan. Marilah kita lihat, apakah yang menjadi penyebab utama munculnya persoalan tersebut?

Penerapan sistem kapitalisme yang salah satu asasnya adalah kebebasan ekonomi membuat perusahaan besar menguasai sektor-sektor publik. Pada satu sisi, negara melepaskan tanggung jawabnya sebagai pelindung bagi rakyatnya. Semuanya diserahkan pada masing-masing, sehingga masyarakat harus bekerja mati-matian untuk bertahan hidup. Seluruh potensi keluarga termasuk istri dikerahkan untuk memenuhi persoalan ekonomi. Hingga perhatian pada pendidikan anak dan kasih sayang terabaikan.

Persoalan menjadi lebih rumit dengan dijaminnya kebebasan bertingkah laku dan berekspresi oleh negara. Sistem kapitalisme menjadikan sekularisme menjadi tonggak berdirinya sistem ini. Sehingga aturan Allah tidak boleh mengatur kehidupan manusia dan bertumpu pada kebebasan akalnya. Inilah yang menyebabkan terjadinya perselingkuhan, menilai kebahagiaan sebatas materi, terabaikannya pendidikan akhlak dan adab dalam keluarga menjadi sesuatu yang lazim.

Islam menilai pentingnya menjamin keharmonisan keluarga. Dimulai dari setiap anggota keluarga menjalankan perannya secara maksimal. Ibu sebagai pengatur rumah tangga memberikan perhatian yang luar biasa kepada keluarganya terutama pendidikan anak dan kebahagiaan suaminya. Kemudian suami menjalankan perannya sebagai kepala rumah tangga, sebagai pemimpin keluarga. Anak-anak menjalankan kewajibannya untuk berbakti kepada orangtua.

Negara mempunyai peran luar biasa untuk turut menjaga keharmonisan tersebut. Dengan cara menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup, sehingga setiap kepala keluarga bisa memberi nafkah yang layak kepada keluarganya. Faktor ekonomi yang banyak menjadi latar belakang perceraian pun akan bisa dikurangi.

Pendidikan yang layak untuk setiap penduduk harus disediakan oleh negara. Terutama seorang ibu, harus mempunyai bekal yang cukup untuk mendampingi keluarganya. Cara mendidik anak dengan baik dan mengurus rumah tangganya sehingga anak-anak mendapat cukup kasih sayang. Dampak selanjutnya muncul saling mencintai dan pengertian dalam keluarga. Ditunjang dengan aturan di masyarakat yang menjaga pergaulan, tidak adanya tayangan yang merusak pemikiran masyarakat. 

Berbeda halnya dalam kehidupan keluarga sekularisme dimana keluarga hanya sebagai tempat penyedia kebutuhan materi semata bagi anaknya. Bukan sebagai penempa kepribadian anak. orangtua merasa cukup ketika bisa menyediakan seluruh kebutuhan materi anaknya.

Semua itu hanya bisa terjadi dalam sistem yang menjadikan Islam sebagai aturan dalam kehidupan.

Wallahu a'lamu bish showab.