Oleh : Mira Sutami H

(Pemerhati Sosial dan Generasi) 


Permasalahan pandemi Covid-19 belum juga usai. Sudah hampir satu tahun lamanya. Namun bukan menunjukkan penurunan, angka terkonfirmasi positif makin meningkat tiap harinya. Dampak akibat dari terjadinya wabah ini membut seluruh sendi kehidupan lumpuh total dari ekonomi, sosial, dan lainnya. 

Umat mulai sadar bahwa semua ini akibat dari sistem yang digunakan manusia saat ini yaitu kapitalisme yang membuat masalah umat makin pelik. Keresahan umat yang kian bertumpuk karena seluruh problem hidupnya tak kunjung terurai. Makin hari kian membebani pundak mereka. 

Bagaimana umat tidak gerah, kasus korupsi misalnya makin hari kian marak. Banyak oknum penguasa yang tertangkap tangan oleh KPK. Tapi ternyata deretan kasus yang sama masih dalam penyelidikan. Tentu saja apabila data sudah terkumpul, KPK baru akan bertindak. Belum lagi utang luar negeri yang kian hari kian mencekik. Sehingga menurut pakar ekonomi sekarang seluruh  penduduk termasuk bayi yang  baru lahir pun harus menanggung beban hutang lebih dari 20 juta rupiah. Kasus kriminal semakin meningkat, kenakalan remaja makin tak terkendali, kasus LGBT makin menggila, kasus  ketahanan pangan juga tak kalah mengerikannya. Masih banyak kasus lain yang semakin parah saja di era kapitalis ini. 

Namun dengan permasalahan akibat penerapan sistem kapitalis yang makin menyengsarakan umat ini, justru membawa dampak baik yaitu umat mencari solusi dari permasalahan itu. Tak lain umat makin giat dan getol belajar agama dan memperdalam agamanya. Sehingga umat makin cinta terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah. Bukti cinta Rasul adalah cinta syariahnya. 

Sayangnya, kesadaran umat ini malah dibidik oleh sekelompok pembenci lslam. Narasi kontra radikalisme disematkan kepada keluarga muslim untuk menghalangi umat mengenal lslam kafah. Serta implementasi syariah dalam lingkup keluarga, masyarakat hingga bangsa ingin dikebiri.

Sebenarnya sudah lama narasi radikalisme disematkan pada umat lslam. Cikal bakalnya Islam disebut teroris adalah pada peristiwa peledakan gedung kembar WTC. Narasi teroris terus digulirkan namun upaya ini tak berhasil. Umat tak juga jera karena lslam memang tidak pernah mengajarkan kekerasan. Dengan daya dan upaya terus saja narasi lain digulirkan. 

Di lndonesia sebenarnya pada tahun 2018 lalu terjadi ledakan bom di Surabaya yang katanya didalangi oleh oknum berpaham radikal. 

Menurut berita yang dilansir dari CNN lndonesia pada 15 Mei 2018, modus terbaru para teroris memanfaatkan anak-anak. Dalam kondisi tertentu, sebaran ajaran radikal menyusup ke berbagai jaringan dan lapisan masyarakat di tempat yang tak terduga. 

Narasi radikalisne ini akhirnya menggelinding bak bola salju. Apa pun aktivitas umat yang berkaitan dengan agama lslam terus disulut. Semisal kasus pembelajaran bagi peserta didik paud dan TK yang mengajarkan tepuk anak saleh saja dipermasalahkan dan dianggap mengajarkan radikalisme.

Kasus terbaru adalah tayangan film kartu Nusa dan Rara juga kena imbas dari narasi radikalisme ini. Sehingga tayangan Nusa dan Rara berhenti tayang. Tayangan terakhir pada Jumat 1 Januari 2021. Menurut Ustadz Felix dari akun lnstagramnya ada beberapa orang menyatakan kalau Nusa dan Rara mengandung unsur radikal. Selain ada kendala dari dampak pandemi yakni 70% anggota tim telah dirumahkan turut mengakibatkan film ini berhenti tayang.

Miris memang umat yang mulai paham akan lslam kafah malah difitnah. Namun kita tak boleh berkecil hati karena ini adalah ujian dari Allah. Ketika umat ingin menuju rida Allah pasti akan mendapatkan ujian baik kecil maupun  besar. Hal ini sesuai dengan firman Allah: 

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" lngatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS. al-Baqarah : 214)

Untuk itu kita harus sabar menghadapi fitnah dan narasi buruk yang dialamatkan pada lslam. 

Yang perlu diingat bahwa narasi-narasi baik terorisme, radikalisme, dan lainnya yang disematkan pada lslam adalah upaya penjajah Barat untuk membendung kemenangan lslam. Mereka tak ingin kapitalisme runtuh dan berganti dengan kemenangan lslam. 

Oleh karena itu, sikap kita sebagai keluarga muslim mesti tetap kokoh dan  konsisten dalam berislam kafah. Umat mesti sadar bahwa solusi seluruh problematika saat ini hanyalah lslam kafah. Sebagai seorang muslim harus yakin bahwa hukum Allah pasti yang terbaik, karena Allah sebagai pencipta mengetahui kelemahan makhluk ciptaan-Nya. Tentu solusi yang tepat  harus dari Sang Pencipta juga. 

Hal yang perlu diingat bahwa lslam kafah hanya bisa diterapkan dengan perjuangan menurut metode Rasulullah bukan dengan jalan demokrasi. Penerapan lslam secara kafah apabila ada institusi khilafah. Karena sekarang belum ada institusi ini maka tugas kita semua untuk memperjuangkannya bersama-sama agar perisai umat lekas kembali. 

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top