Cinta Nabi Cinta Syariat-Nya

  


Oleh : Ummu Munib

Ibu Rumah Tangga


Rasa cinta adalah sebuah naluri yang Allah Swt. anugerahkan kepada setiap insan manusia. Hal ini merupakan rahmat yang patut disyukuri. Selain itu cinta juga adalah berkah,  karena dengannya manusia memiliki rasa saling berkasih sayang, berempati, dan saling peduli. Ketika cinta digunakan untuk ketaatan kepada pemberinya,  maka akan mewujudkan maslahat dan selamat. Sebaliknya, tatkala ia digunakan untuk kemaksiatan, maka akan mendatangkan kemudaratan dan laknat. Demikianlah uniknya cinta, kadang berbuah pahala, kadang juga berpotensi menabur dosa.

Sebagai keluarga muslim diwajibkan untuk menumbuhkan rasa cinta. Mencintai Allah dan Rasul-Nya  adalah hal yang paling utama. Dibutuhkan sebuah komitmen untuk  mewujudkannya.  Bukti  cinta kepada Allah Swt. adalah menaati  perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Begitu juga cinta kepada Nabi saw. maka  kita wajib men

cintai syariah  yang dibawanya.


Tak kenal maka tak sayang. Itulah ungkapan yang tepat ketika ingin mewujudkan cinta yang hakiki kepada Allah dan Rasul-Nya. Keluarga muslim harus mengenal agamanya lebih dalam.  Namun sayang tidak jarang tantangan menghadang. Ketika ingin mengenal agama lebih dalam, label radikal, teroris akan disematkan oleh musuh-musuh Islam terhadap muslim yang ingin mewujudkan cinta hakiki terhadap agamanya. CNN Indonesia (15/05/2018) melansir sebuah judul Peran Keluarga Untuk Tangkal Sebaran Radikalisme Pada Anak. Laman tersebut memberitakan bahwa ledakan bom yang terjadi Surabaya beberapa waktu (13/05/2018) didalangi oleh oknum-oknum berpaham radikal. Modus terbaru para teroris ini, yaitu memanfaatkan anak-anak. Dalam suasana tertentu, sebaran ajaran radikal masuk menyusup ke berbagai jaringan dan lapisan masyarakat di tempat yang tak disangka. Upaya  menghadang masuknya dan berakarnya paham radikalisme dalam diri anak, maka orangtua harus punya peranan yang kuat dalam kehidupan anak. Berbagai tips disampaikan agar radikalisme tidak  menyerang anak-anak. Orangtua wajib memberikan pemahaman agama secara benar dan utuh kepada anak. Kemudian memperkuat Pancasila sebagai ideologi bangsa dalam implementasi atau  praktik kehidupan sehari-hari. Kemudian mediaindonesia.com (14/03/2019) melansir juga sebuah judul Petaka Radikalisme Keluarga. Diberitakan bahwa polisi berhasil menangkap Abu Hamzah sebagai anggota jaringan terduga teroris RIN alias Putra Syuhada (PS) beserta sang istri yang dikenal sebagai sosok yang cukup radikal. Hal ini mengingatkan kasus bom Surabaya. Aksi tersebut adalah gambaran pertama pada bangsa ini tentang kuatnya doktrin terorisme.

Begitulah diksi radikal saat ini sangat popular di tengah masyarakat. Berbagai kalangan menjadikannya sebagai sebuah topik kajian, diskusi dan tidak ketinggalan solusinya sebagai sebuah  extraordinary. Ada juga kalangan yang memanfaatkan  isu radikal  sebagai  sebuah proyek primadona dan  bahan politisasi yang seksi. Sungguh hidup di tengah gempuran sistem kapitalisme sekulerisme sangat ironis. Wajar saja karena  sistem ini berasas memisahkan agama dari kehidupan. Setiap ranah harus terpisah dari agama baik politik, ekonomi, sosial, dan budaya. 

Dapat kita rasakan bahwa ghiroh keluarga muslim untuk mencintai Rasul-Nya serta syariat-Nya  begitu tinggi.  Keluarga muslim sudah banyak yang tersadarkan, mereka rindu terhadap Islam kaffah dan implementasinya  baik  dalam lingkup keluarga, masyarakat , hingga bernegara. Namun sayang tuduhan akan terlontar dengan sematan keluarga radikal bagi mereka yang ingin penerapan Islam secara kafah. Bahkan syariat itu sendiri dimonsterisasi. Contohnya sekalipun hanya tepuk islami pada anak-anak PAUD pernah diasosiasikan sebagai bentuk indoktrinasi paham radikal. Memang tak dapat dipungkiri label radikal di negeri ini seolah khusus dipersembahkan untuk  kaum muslim, dan dikonotasikan dengan radikalisme agama, yakni agama Islam. Tampak begitu kuat konotasi dan identifikasinya radikalisme tertuju pada Islam. Kadang terjadi  ambigu, di saat ada tindakan serupa di tempat dan golongan lain, nyaris tidak dikategorikan radikal. 

Wahai keluarga muslim janganlah lelah untuk terus mencintai Allah dan Rasul-Nya serta syariat-Nya. Tetaplah konsisten  mewujudkan kecintaan tersebut dengan berjuang agar syariat-Nya  kembali berjalan di muka  bumi.  Allah Swt. berfirman:

“Katakanlah (wahai Muhammad): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian.“ (TQS. Ali Imran : 31). 

Sungguh tiada suri tauladan terbaik bagi keluarga muslim kecuali Nabi Muhamad saw. Lebih dari itu, meneladani kehidupan Rasulullah saw. bagi keluarga muslim adalah ibadah di sisi Allah  yang merupakan  bagian dari perintah agama. Sangat wajar umat muslim berbondong-bondong berusaha meneladani  kehidupan keluarga Rasul. Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya telah terdapat pada (diri) Rasulullah  suri teladan yang baik bagimu,  bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (TQS. al-Ahzab: 21)

Maka tidak sepantasnya sebagai keluarga muslim untuk tidak mencintai bahkan meragukan terhadap Nabi dan syariat-Nya. Sebaliknya justru sudah sepatutnya  menegaskan kepada umat bahwa penerapan Syariat Islam kafah saja yang mampu menjadi solusi bagi setiap permasalahan yang muncul di muka bumi ini. Sebagaimana  telah  Rasulullah saw. dan para khulafaur rasyidin dan para khalifah selanjutnya contohkan pada masa silam. Islam mampu menjadi mercusuar peradaban yang gemilang selama 13 abad lamanya dan menguasai  dua pertiga dunia.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.