Oleh: Nabila Zidane

(Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Masa Pandemi sudah berjalan sembilan bulan lebih. Peran ibu menjadi lebih kompleks. Selain mengurus tugas rumah tangga sehari-hari, kini beban ibu bertambah menjadi guru dadakan bagi putra putrinya di rumah. Ibu wajib menguasai segala mata pelajaran di berbagai jenjang pendidikan mulai TK, SD, SMP  hingga SMA. Belum lagi adanya tugas membuat video aneka prakarya dan kegiatan olah raga. Tentu ini adalah sesuatu yang baru bagi kaum ibu. Kebiasaan baru kadang membuat kaum ibu merasa penat yang kemudian memunculkan berbagai problem dalam rumah tangga.

Perlu diketahui bahwa perilaku anak terbentuk melalui dua proses;

1. Melalui proses imitasi yaitu dengan cara melihat, mendengar serta meniru model yang di idolakannya atau yang sering dilihatnya. Oleh karena itu, kita sebagai ibu wajib ekstra hati-hati dalam berucap, berperilaku dan bertindak di hadapan anak-anak karena anak adalah peniru handal kita.

2. Melalui proses Identifikasi dimana seseorang terutama anak-anak akan berusaha membentuk identitas dirinya dengan cara mengadopsi secara total mulai gaya bicara, gaya berpakaian, gaya rambut hingga gaya hidup idolanya untuk dijadikan identitasnya.

Anak terdidik dari orang tuanya, karenanya jika kita merindukan putra-putri kita taat syariat dan tidak tergelincir menjadikan artis-artis sekuler menjadi idolanya, maka ibu harus membekali diri dengan banyak belajar tsaqafah Islam, salah satunya dengan menghadiri majelis ta'lim dan bersedia mengikuti kajian mingguan yang akan mendidik Ibu agar senantiasa taat pada syariat Islam secara kafah.

Dengan ilmu Islam, maka kita kaum ibu akan menjadi jauh lebih sabar karena memahami bahwa anak-anak juga manusia yang memiliki potensi naluri seperti kita. Salah satunya adalah naluri mempertahankan diri. 

Jika anak sering diperlakukan kasar baik verbal maupun fisik, maka secara tidak sadar sang ibu telah mengajarkan bahwa begitulah cara menyelesaikan masalah. Maka jangan kaget jika anak-anak kita tumbuh menjadi anak yang temperamental, suka membantah dan berbicara dengan berteriak bahkan membentak orang tua.

Maka benahilah diri, agar anak meniru kebiasaan baik kita. Tak ada teladan sebaik Rasulullah Saw. Banyak kisah yang menggambarkan besarnya kecintaan beliau kepada anak-anak. Suatu hari, Rasulullah harus memendekkan bacaan shalatnya ketika mendengar anak menangis. Rasulullah Saw juga pernah mengangkat anak yang jatuh di dekatnya ketika sedang khotbah.

Jabir bin Samurah, sahabat Nabi Muhammad Saw, mengatakan bahwa Rasulullah suka mengusap kepala anak-anak. Suatu ketika, dirinya pernah shalat bersama Rasulullah pada shalat Dhuhur.

Seusai shalat, Rasulullah keluar ke tempat keluarganya, dia pun keluar bersama Rasulullah. Rasulullah tampak menciumi anak-anaknya dan mengusap kedua pipi mereka satu persatu.

Menyayangi anak adalah perintah agama, karena Islam banyak mengajarkan kasih sayang kepada siapapun. Nabi Muhammad Saw telah mencontohkan bagaimana cara menyayangi anak, seperti menciumnya, lemah lembut, belas kasihan, menahan marah dan memaafkan anak-anak.

Suatu ketika seorang anak kecil dibawa kepada Nabi Muhammad untuk didoakan dan diberi nama. Anak tersebut dipangku oleh Beliau. Tiba-tiba anak itu kencing, lalu orang-orang yang melihatnya berteriak. Beliau berkata, "Jangan diputuskan anak yang sedang kencing, biarkanlah dia sampai selesai dahulu kencingnya". Beliau pun berdoa dan memberi nama kemudian membisiki orang tuanya supaya jangan mempunyai perasaan bahwa beliau tidak senang terkena air kencing anaknya. Ketika mereka telah pergi rasulullah Saw mencuci sendiri pakaian yang terkena kencing tadi.

Rasulullah saw. juga bersabda,

“Barangsiapa yang tidak menyayangi orang yang lebih muda di antara kami dan tidak mengerti hak orang yang lebih besar (tua) maka dia bukan termasuk golongan kami.” (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang diceritakan oleh Abu Hurairah)

Maka Seorang ibu yang senantiasa mengharapkan rida Allah Swt akan berusaha bersabar dan istiqomah dalam ketaatan, karena siapa yang taat Allah akan memberikan padanya jalan keluar dari berbagai persoalan.

 وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا

"Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”. (QS at-Thalaq: 4).

Begitulah semestinya para orangtua memperlakukan anak sehingga dia kelak akan menjadi manusia yang penyayang. Semoga kita semua diberikan kesabaran dan kemudahan oleh Allah Swt dalam mendampingi anak-anak di masa pandemi ini.

Wallahu a'lam

 
Top