Bencana Alam Menerpa, Salah Siapa?

 



Oleh: Tri S, S.Si

Penulis adalah Pemerhati Perempuan dan Generasi


Kabut duka sudah mengungkung Indonesia sejak awal 2020 hingga pergantian tahun kini, 2021. Diawali dengan masuknya virus COVID-19 yang menyebabkan perubahan besar dari sisi ekonomi serta pendidikan, dan gempa Palu yang dukanya turut mengguncang seluruh negeri akibat berjatuhannya ribuan korban jiwa.

Dan di bulan Januari 2021 ini, hastag #prayforIndonesia kembali viral. Banjir setinggi 3 meter melanda Kalimantan Selatan, merendam puluhan rumah hingga atap. Belum selesai pemerintah menangani bencana banjir, Sulawesi kembali mengalami gempa berskala besar yang ikut menelan banyak korban.

Bela sungkawa pun tak lupa dihaturkan oleh pemerintah atas hal ini. Tapi sayang, jika terus menerus seperti ini maka bencana akan terus datang melanda negeri ini. Karena, penyebab utama bencana terjadi tidak diselesaikan dengan tuntas. Ibaratnya pemerintah hanya menambal lubang, tidak menutupnya secara permanen.

Dapat kita ketahui salah satu penyebab utama banjir adalah kurangnya daerah serapan air. Awalnya terasa ganjil saat kita menyebutkan penyebab ini untuk Kepulauan Kalimantan yang masih hijau ketimbang pulau-pulau besar lainnya, tapi dikarenakan adanya perkebunan sawit, yang menyebabkan penyerapan air pada tanah berkurang adalah alasan itu. Dari total wilayah 3,7 juta hektar hampir 50 persen dibebani dengan perizininan kebun sawit maupun tambang. Tumbuh suburnya perkebunan sawit di Kalimantan setiap tahunnya tak terbendung, pemerintah membiarkan investasi swasta maupun asing menjajaki tanah pribumi tanpa memperhatikan hubungan sebab-akibat yang akan terjadi.

Kasus yang sama pula dengan gempa yang seringkali terjadi dipulau Sulawesi. Pemerintah hanya menanggulangi gempa tanpa melakukan penanganan lebih lanjut. Memang bencana alam seperti gempa adalah hal yang tak bisa diprediksi penyebabnya selain bergesernya lempeng bumi. Namun jika dicermati lebih lanjut hal ini juga bisa terjadi disebabkan keadaan alam yang tidak terjaga dengan baik. Anggaplah penggalian tambang yang tidak henti dilakukan, hingga nampak ceruk galian seperti danau. Berdasarkan laporan di tahun 2020 saja sudah terdapat 814 lubang tambang milik 157 perusahaan batubara yang masih aktif, atau ditinggalkan tanpa reklamasi. 

Sungguh, miris sekali keadaan negeri pertiwi yang digelari Zamrud Khatulistiwa ini. Karena solusi untuk gempa dan banjir tidak hanya tentang mengungsikan penduduk atau berbela sungkawa atau mengirimkan bansos saja. Tapi solusi agar bencana di Indonesia tidak berkelanjutan harus ada pencegahan yang nyata. Bisa dengan menghentikan aktivitas tambang atau mengganti perkebunan sawit dengan tanaman yang lebih bermanfaat untuk menyerap air.

Namun adanya sistem kapitalis yang melingkupi Indonesia. Pemerintah tidak berani mengambil langkah, karena takut kehilangan investasi untuk pribadi. Apalagi sebagian hutang negara ada pada mereka yang berkuasa atas pertambangan maupun perkebunan itu, oleh karena itu pemerintah memilih diam. Sementara rakyatnya uring-uringan akibat bencana alam yang tiada henti melanda negeri. Siklus perekonomian serta pendidikan pun ikut tersendat.

Jika sistem kapitalis menghilang dari muka bumi ini, digantikan oleh sistem Islam yang sudah jaya dalam mengayomi masyarakat selama berabad-abad. Tidak ada kegagalan dalam aturan Islam, kecuali ada pelanggar, dan berbanding terbalik dengan sistem sekarang yang sudah kelihatan cacatnya. Perihal bencana alam ini akan langsung ditangani dengan tegas, serta dapat dipastikan bisa mencegah bencana terjadi.

Muslim maupun non muslim tak akan dibedakan, karena Islam tidak pernah memaksa untuk memeluk agama Islam atau mendiskriminasi selainnya. Sudah saatnya menerapkan syariat Islam  untuk memimpin kita.