Oleh : Ani Hayati, S.H.I (Ummu Rozan)


Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), meminta warga khususnya petani di daerah itu tidak mengalihfungsikan lahan pertanian menjadi lahan pemukiman. "Sebab kenyataan di lapangan saat ini lahan pertanian yang ada di kota itu semakin berkurang akibat alih fungsi," kata Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Kendari, Sitti Ganef, di Kendari, Kamis.

Penurunan luas lahan pertanian tersebut, kata dia, merupakan konsekuensi dari perkembangan Kota Kendari. Banyak lahan pertanian produktif, kata dia, beralih fungsi untuk berbagai kepentingan pembangunan.

Ia menyebutkan bahwa produksi padi di Kota Kendari selama tahun 2020 sebesar 2.808 ton Gabah Kering Giling (GKG) dengan rata-rata produksi 34,78 kuintal per hektare. "Jumlah produksi padi tersebut berasal dari lahan tanam seluas 807 hektare milik petani yang ada di Kecamatan Baruga dan Kecamatan Mandonga," katanya.

Produksi padi tersebut berasal dari dua lokasi persawahan yakni di Amohalo Kecamatan Baruga dan Labibia Kecamatan Mandonga. Ia mengaku pemerintah memberi perhatian serius pada upaya pengembangan pertanian, antara lain dengan pemberian bantuan berupa sarana pertanian dan bantuan pengembangan kapasitas petani. (Sultra.antaranews, 01/01/2021)

Sumber daya lahan merupakan sumber daya alam yang sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia. Lahan diperlukan dalam setiap kegiatan manusia, seperti untuk pertanian yang menunjang kebutuhan pangan jika adanya alih fungsi lahan ini ke pembangunan, maka berakibat fatal bagi kebutuhan rakyat yang tak merata bahkan tak tercukupi, dimana alih fungsi lahan pertanian akan membuat kesejahteraan petani menurun. 

Hal itu disebabkan berubahnya lahan pertanian yang telah dikelolanya. hal itu juga bisa menyebabkan bergesernya lapangan kerja dari sektor pertanian ke non-pertanian. Sisi lain juga alih fungsi berdampak bisa mengurangi ketersediaan pangan pokok yang dibutuhkan masyarakat lokal kota Kendari.

Hal ini tidak terlepas dari pengaruh kapitalisasi lahan pertanian akan selalu ada ketika sistem yang tidak adil saat ini dijalankan yang tidak berpihak pada rakyat. Karena orientasi materi akan selalu ada ketika mengeluarkan kebijakan. Bukan berdasar atas kemaslahatan rakyat.

Dalam Islam sangat memperhatikan kebutuhan rakyat, termasuk perihal lahan pertanian. 

Sebagai contoh dari Kisah Khalifah Umar yang lebih mengutamakan menyerahkan tanah kharaj kepada pemilik asal dari pada dibagi-bagi sebagai ghanimah perang, bukti bahwa Islam sangat memperhatikan pengelolaan lahan pertanian.

Konsep mashlahah merupakan dasar dan landasan pokok bagi Umar bin Khattab dalam memenuhi kebutuhan rakyat sebagai bentuk ibadah dari perintah Allah subhanahu wa ta’ala, karena dalam urusan muamalah (ekonomi), termasuk kebutuhan pangan rakyat yang menjadi pertimbangan utama adalah asas mashlahah dan manfaat bagi masyarakat. Inilah konsep rahmatan lil a’lamin yaitu membawa rahmat bagi semesta alam. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

 
Top