Abad Khilafah Dinanti untuk Atasi Persoalan Negeri


Oleh : Silmi Kaffah

(Pemerhati Sosial)


Dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, pandemi Covid-19 tidak akan menjadi pandemi terakhir. WHO juga menuturkan upaya untuk meningkatkan kesehatan manusia "ditakdirkan" tanpa mengatasi perubahan iklim dan kesejahteraan hewan. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengutuk siklus "berpandangan sempit dan berbahaya" dari membuang uang tunai pada wabah, tetapi tidak melakukan apa pun untuk mempersiapkan kemungkinan pandemi berikutnya. Dia mengatakan, sudah waktunya untuk belajar dari pandemi Covid-19. "Sudah terlalu lama, dunia telah beroperasi dalam siklus kepanikan dan pengabaian," katanya, seperti dilansir oleh Channel News Asia (27/12/2020).

Kepala ekonom CIMB Niaga, Adrian Panggabean, menilai krisis ekonomi 2020 memiliki karakteristik yang berbeda jika dibandingkan dengan krisis 1997-1998. Beliau mengatakan, ada tiga dimensi besar yang saling berhubungan satu sama lain tentang krisis ekonomi 2020. Yakni pertama, wabah Covid-19. Kedua kebijakan sosio-politik untuk menekan penyebaran Covid-19 melalui kebijakan social distancing ditentukan oleh kemampuan negara di dunia untuk mengatasi Covid-19 dan physical distancing terkait bagaimana dan berapa lama durasinya. Ketiga, pengaruh negatif bagi perekonomian dunia. (Republika.co, 27/04/2020) 

Pandemi virus corona betul-betul mematikan perekonomian dunia. Negara adidaya pun tak mampu mengatasi krisisnya. Virus kecil ini mampu membuat negara tak berdaya. China misalnya, meski dikatakan sudah pulih keadaannya, tetap saja dibayang-bayangi gelombang kedua yang mungkin bisa bertambah parah. Sistem kapitalisme yang digadang-gadang mampu mengatasi pandemi, nyatanya semakin lemah tak berdaya. Alhasil, kebijakan new normal dipaksakan, alih-alih untuk menyembuhkan ekonomi yang semakin sakit, justru bertambahnya kasus baru yang terus meningkat.

Akar Masalah

Melihat fakta di atas, corona seolah membuka mata dunia. Kegagahan ideologi kapitalisme yang diemban negara saat ini tak mampu memutus rantai penyebaran corona. Bahkan, penularannya semakin massif dan tak terkendali. Bisa menginfeksi siapa saja yang dikehendaki. Tak memandang tua atau muda, semua bisa terpapar. Solusi yang ditawarkan dalam ideologi kapitalis tak juga dapat menghantarkan pada solusi hakiki. Justru, ekonomi semakin menunjukkan tanda-tanda resesi. Bahkan bukan hanya kesehatan yang terdampak, juga ada krisis lain yakni krisis pangan hingga krisis keuangan.

Lihat saja bagaimana penanganan wabah corona yang terkesan setengah hati. Menerapkan karantina wilayah tapi kebutuhan pokok masyarakat tak tercukupi. Alhasil, masih banyak masyarakat keluar rumah bekerja meskipun protokol kesehatan ditaati. Sebab, apabila tak bekerja, kebutuhan sehari-hari tak terpenuhi. Karantina saja hanya dilakukan beberapa wilayah, sementara akses keluar masuk warga negara asing dibuka lebar. Padahal, peluang masuknya virus sangat besar dari sana.

Tidakkah corona memberi sebuah pelajaran. Bahwa apabila tidak menerapkan prinsip syariah dalam menyelesaikan wabah, justru akan menimbulkan masalah-masalah baru. Dalam hal makanan misalnya, Islam telah memerintahkan manusia untuk memakan makanan yang halal lagi thayyib, bukan asal enak, unik dan mengenyangkan saja. Termasuk menjaga kebersihan dan adab-adab makan lainnya. Maka, pentingnya kembali kepada Islam, sebagai jalan satu-satunya mengembalikan tatanan kehidupan. Rusaknya ideologi kapitalis adalah tanda bahwa ideologi ini harus diganti.

Solusi Dalam Islam

Tantangan menghadirkan kembali ideologi yang sahih yakni sistem Islam memang sangat berat. Karena pasti ada musuh-musuh yang selalu menghadangi jalan perjuangan ini. Seperti dengan jumawa mengatakan, “Orang corona solusinya dikasih obat, bukan khilafah”. Padahal, yang sakit bukan hanya manusia saja. Tapi sistem yang mengatur kehidupan negara pun ikut sakit. Maka harus diberi obat yang mujarab. Artinya, tidaklah cukup mengembalikan kesembuhan individu secara fisik, tapi kesembuhan negara dengan tata kelolanya agar diatur sesuai dengan syariat Islam secara kafah (keseluruhan).

Karena negara adalah institusi tertinggi yang memiliki tanggung jawab untuk melindungi rakyatnya. Ibarat sebuah tameng, negara akan menghalau segala hal yang dapat merusak atau membahayakan negerinya dan setiap orang yang ada di dalamnya. Selain itu, negara juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan suasana aman dan tentram bagi seluruh warga negaranya. Abai dan lengahnya negara di dalam melakukan kontrol terhadap rakyat dapat mengakibatkan keresahan di mana-mana. 

Inilah keadilan hakiki yang akan terwujud sebagai implikasi penerapan syariat Islam dalam masyarakat. “Para khalifah juga telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapa pun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas, dimana fenomena seperti itu belum pernah tercatat dalam sejarah setelah zaman mereka. Apalagi dalam mengatasi penyakit yang menular. 

Wallahu a'lam bishshawab.