Oleh : Maryatiningsih

(Ibu rumah tangga) 


Wanita adalah sosok yang dimuliakan karena pengorbanan dan perannya yang sangat penting bagi suami dan anak-anaknya di dalam sebuah keluarga. Tidak pernah mengenal lelah untuk mengurusi keluarganya, terkadang sakit pun tidak terasa karena kesibukan dan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Sampai-sampai makan pun lupa karena keikhlasannya mengurusi rumah tangga. Tetapi saat ini dengan sistem sekuler demokrasi, wanita menjadi sosok yang minimalis untuk dimuliakan. Banyak wanita yang sudah berkeluarga ataupun yang belum berkeluarga menjadi korban dari sistem yang bertolak belakang dengan sistem yang sahih yakni sistem Islam.  

Beberapa data mengenai kasus, betapa wanita tidak dihargai dalam sistem saat ini. Seperti yang dialami beberapa buruh perempuan di sebuah perusahaan Aice. Salah satu di antaranya seorang perempuan berusia 25 tahun ini sudah berusaha mengajukan pemindahan divisi kerja karena penyakit endometriosisnya kambuh. Tapi apa daya, perusahaan justru mengancam akan menghentikannya dari pekerjaan. Elitha terdesak dan tidak punya pilihan lain selain terus bekerja. Akhirnya, dia pun mengalami pendarahan hebat akibat bobot pekerjaannya yang berlebihan. Elitha terpaksa melakukan operasi kuret pada Februari lalu, yang berarti jaringan dari dalam rahimnya diangkat.

Sarinah, Juru Bicara Federasi Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan (F-SEDAR), yang mewakili serikat buruh Aice, menyatakan bahwa sejak tahun 2019 hingga saat ini sudah terdapat 15 kasus keguguran dan enam kasus bayi yang dilahirkan dalam kondisi tak bernyawa dialami oleh buruh perempuan Aice. (kompas.com)

Ini bukti nyata dan jelas bahwa perempuan di negeri ini tidak dimuliakan ataupun dilindungi. Fakta di atas baru contoh kecil yang terkuak di permukaan publik, yang jelas masih banyak kasus lain yang ditutup rapih. Apakah kasus seperti ini akan tetap dibiarkan? Emansipasi wanita yang dibanggakan justru tidak tepat malah menjadi petaka. Banyaknya pelecehan terhadap wanita terjadi di mana-mana, perceraian dan ketidakadilan bagi wanita sering terjadi.

Sampai saat ini belum ada titik terang dari pemerintah yang menangani dengan serius dan maksimal terhadap perempuan. Apalagi dengan kondisi negeri yang sedang dilanda wabah Covid-19, dimana pengangguran terjadi di mana-mana yang membuat para wanita memutar otak untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Ini dilakukan disebabkan karena para suami yang menganggur.

Dalam sistem Islam wanita sangat dimuliakan dan dilindungi, bahkan wanita yang berstatus janda pun ditanggung kebutuhan hidupnya oleh negara, ketika keluarga suaminya tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Ketika ada kekerasan dan pelecehan terhadap para wanita langsung diselesaikan dengan tegas. Dan wanita bekerja di luar rumah atau menjadi buruh pabrik itu tidak wajib, atau mubah. Artinya laki-laki wajib untuk bekerja guna menafkahi keluarganya, maka negara akan membantu memudahkan menyediakan lapangan pekerjaan bagi kaum laki-laki. Sehingga wanita tetap terjaga menjadi ummun warobbatul bayt. 

Wallahu a’lam bishshawab.

 
Top