Utang Memblutak Saat Pandemi, Amankah Bagi Negeri?


Oleh : Silmi Kaffah

(Pemerhati Sosial)


Partai Demokrat (PD) meyakini Indonesia masih kebal dari imbas krisis utang di AS dan Eropa. Karena rasio utang Indonesia jauh lebih kecil dari AS dan Eropa. Demikian disampaikan oleh Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum di Gedung Bursa Efek Indonesia, SCBD, Jalan Sudirman. Detik Finance (11/8/2011). 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, pada acara The 5th G20 Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting yang diselenggarakan secara daring pada Jumat (20/11/2020), disepakati adanya perpanjangan masa cicilan utang. Perpanjangan masa cicilan utang tersebut dinamakan Debt Service Suspension Inisiative (DSSI). "Ini adalah fasilitas relaksasi bagi pembayaran utang negara-negara miskin yang tadinya pada sampai akhir tahun ini, kemudian diperpanjang hingga pertengahan tahun 2021," jelas Sri Mulyani di Istana Bogor yang ditayangkan secara virtual, dikutip dalam CNBC Indonesia (22/11/2020).

Walaupun Utang indonesia dicicil sedemikian rupa tetap saja utang Indonesia akan selalu bertambah lagi. Bahkan jumlahnya cukup besar dalam waktu yang relatif berdekatan atau tak sampai dua minggu. Total utang baru Indonesia bertambah sebesar lebih dari Rp24,5 triliun. Utang baru tersebut merupakan kategori pinjaman bilateral. Rincian utang luar negeri itu berasal dari Australia sebesar Rp15,45 triliun dan utang bilateral dari Jerman sebesar Rp9,1 triliun. (Kompas TV, 21/11/2020)

Akar Masalah

Lagi-lagi, demi menanggulangi pandemi Covid-19, menjadi alasan terbaik pemerintah untuk berutang kembali. Tentu mereka akan katakan semua demi rakyat dan negara. Apakah benar rakyat menginginkan utang semakin bertambah? Apa benar negara ini aman dan tidak mendapat masalah jika kembali berutang? Dukungan yang menghancurkan bangsa, kok diterima? Penguasa mengatakan pinjaman dari Pemerintah Australia merupakan dukungan yang memberi ruang bagi penguasa untuk melakukan manuver kebijakan dalam penanganan pandemi. 

Publik paham watak rezim kapitalisme, menjadikan utang sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah ekonomi. Lantas kemana kekayaan SDA yang melimpah? Memang layak jika kita mengatakan pemerintah telah gagal mengelolanya, bahkan sebagian besar dinikmati para kapitalis.

Jangan bangga dengan utang, perkara utang dianggap bukan masalah, justru menjadi solusi jitu bagi rezim. Malah bangga karena dianggap utang Indonesia relatif cukup baik dibanding dengan negara-negara di dunia. Meski tingkat utang Indonesia naik di kisaran 36-37 persen dari sebelumnya hanya 30 persen. Padahal berutang justru membuat hidup terasa sempit, karena terus dihantui dengan pembayaran selangit, belum lagi disertai bunga riba. Rakyat sengsara, negara bisa ambyar. Bahkan yang mengerikan, akan mengundang murka dan azab Sang Pemilik Jagat Raya. Di manakah letak amannya?

Solusi Dalam Islam

Dalam konsep kapitalisme, utang berperan dalam penempatan modal awal yang akan digunakan untuk memulai suatu usaha dengan mengandung ribawi. Sementara dalam Islam utang tidak menjadi pilihan untuk menyelesaikan berbagai masalah ekonomi negara. Karena baiknya pengelolaan pemasukan negara yang berasal dari kepemilikan negara (milkiyyah ad-daulah) seperti usyur, fai, ghanimah, kharaj, jizyah dan lain sebagainya. Selain itu dapat pula diperoleh dari pemasukan pemilikan umum (milkiyyah ammah) seperti pengelolaan hasil pertambangan, minyak bumi, gas alam, kehutanan dan lainnya.

Beralih dari sistem pencetak utang, menuju sistem bebas utang. Olehnya itu dapat dipastikan bahwa ledakan utang takkan mungkin terjadi dalam kepemimpinan Islam. Karena  negara bertanggung jawab atas optimalisasi dari harta kepemilikan umum dan negara tanpa adanya liberalisasi dalam lima aspek ekonomi, yaitu liberalisasi barang, jasa, investasi, modal dan tenaga kerja terampil. Dan juga diperoleh dari zakat maal (ternak, pertanian, perdagangan, emas dan perak) itulah yang terdapat dalam aturan Islam. Tidak ada dosa yang lebih sadis diperingatkan Allah Swt. dalam Al-Qur'an, kecuali dosa memakan harta riba. Bahkan Allah Swt. mengumumkan perang kepada pelakunya. Hal ini tentu menunjukkan bahwa dosa riba sangat besar dan berat. Rasulullah saw. melaknat pemakan riba yang memberi, yang mencatat dan dua saksinya. Beliau bersabda, mereka semua sama. (HR. Muslim)

Jika negeri ini merindukan hidup tenang, aman, dan penuh keberkahan, hendaknya segera mengganti sistem kapitalisme dengan sistem Islam. Insya Allah, bebas dari segala jerat utang dan terbebas dari laknat Allah Swt. Semua itu bisa terwujud secara terstruktur dan sistematis manakala sistem Islam diterapkan dalam institusi negara khilafah.

Wallahu a'lam bishshawab.