Oleh : Sri Indrianti

(Pemerhati Sosial dan Generasi)


Peringatan hari AIDS sedunia tiap tahun digelar baik secara skala nasional maupun skala daerah. Berbagai aktivitas kemanusiaan digeber sebagai bentuk perhelatan dan dukungan terhadap para penyandang ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Himbauan merangkul ODHA pun senantiasa digemakan oleh para pemangku kebijakan. 

Begitu juga pada tanggal 1 Desember 2020, Kabupaten  Tulungagung turut menyelenggarakan peringatan HIV/AIDS di kantor Dinas Kesehatan dengan mengambil tema "Pererat Rangkulan Kolaborasi Guna Keakraban Solidaritas, Tulungagung Ayem Tanpa Negatif Stikma". Tema tersebut memadukan antara beragamnya kearifan lokal dan nasionalisme yang ada dalam sistem pencegahan AIDS di dalam lingkup Kabupaten Tulungagung. (deteksi online.com, 2/12/2020)

Kurva kasus HIV/AIDS di Kabupaten Tulungagung selama kurun 14 tahun ini senantiasa menunjukkan kenaikan secara signifikan. Lonjakan kasus tertinggi terjadi pada tahun 2018 yakni mencapai 392 kasus. Sedangkan  pada tahun 2020 hingga Oktober tercatat 209 kasus.  Sebanyak 98 persen penularan masih dikarenakan hubungan seksual. (kongkrit.com, 1/12/2020)

Penurunan yang terjadi pada tahun ini lebih disebabkan karena adanya pandemi Covid-19 menyebabkan bagi yang fobia tidak mau berkunjung ke layanan kesehatan. Petugas masih berupaya menemukan kasus dengan berkunjung ke rumah warga yang rentan HIV/AIDS. 

Program Triple Ninety

Program Triple Ninety atau 90-90-90 dicanangkan oleh badan PBB yang fokus menangani AIDS yakni UNAIDS. Target pada tahun 2030 bebas AIDS. Caranya dengan program 90-90-90 yang terdiri dari tiga poin. Pertama, pada 2020, 90% orang dengan HIV/AIDS (ODHA) telah mengetahui stasus kondisi mereka. Kedua, pada 2020, 90% orang yang telah didiagnosa terinfeksi HIV, sudah menerima terapi antiretroviral (ARV). Ketiga, pada 2020, 90% dari penerima terapi ARV telah mengalami penurunan jumlah virus hingga tidak terdeteksi lagi. (gatra.com, 1/12/2020)

Tulungagung sendiri terkait penemuan kasus HIV/AIDS sudah mencapai 100%. Kemudian untuk terapi antiretroviral (ARV) bagi penderita HIV/AIDS mencapai 75%. Sedangkan penerima terapi yang mengalami penurunan jumlah virus baru mencapai 15%. (news.detik.com, 1/12/2020)

Program Triple Ninety ini merupakan solusi terkait penanganan teknis bagi penderita HIV/AIDS. Adanya fasilitas kesehatan dan tenaga medis sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah dalam memberikan penyelesaian semakin merebaknya HIV/AIDS ini secara kuratif. Namun, ada yang terlupakan oleh pemangku kebijakan sebagai langkah preventif agar virus ini tidak terus menjamur.

Memfokuskan penanganan HIV/AIDS pada Triple Ninety dan mengabaikan faktor pemicu penularan HIV/AIDS maka hanya akan seperti rantai yang tidak diketemukan pangkal ujungnya. Bagaimana tidak? Saat ini seakan-akan para pelaku pergaulan bebas mendapatkan panggung di negeri ini. Tak ada tindakan tegas dari pemangku kebijakan terkait pelaku pergaulan bebas. Sehingga celah-celah yang memicu penularan HIV/AIDS benar-benar terbuka lebar. 

Islam Mengatasi HIV/AIDS

Islam memiliki penyelesaian tuntas dalam menangani pandemi HIV/AIDS. Adanya hukuman jilid dan rajam hingga meninggal bagi pelaku perzinaan merupakan solusi tepat untuk mencegah adanya penularan HIV/AIDS yang kian merajalela. 

Hukuman tersebut memiliki dua fungsi  yakni sebagai penebus dosa dan pencegah. Ketika hukuman diterapkan dalam naungan institusi khilafah maka akan menebus dosa yang dilakukan di dunia. Pun masyarakat akan berpikir ribuan kali untuk melakukan zina karena beratnya hukuman yang akan diperoleh. 

Selain itu, pendidikan pada masa khilafah berlandaskan akidah Islam. Sehingga masyarakat memiliki pemahaman Islam yang benar.  Ditambah lagi, khilafah melalui Departemen Penerangan senantiasa memberikan edukasi dan mengatur segala konten media yang beredar. Jika ada media yang menyebarkan konten yang bertentangan dengan syari'at Islam, maka ada hukuman setimpal yang menanti. 

Khilafah benar-benar menutup segala celah yang bisa memicu munculnya pergaulan bebas yang kerap berujung pada perzinaan. Tak ada panggung dan pembenaran atas segala aktivitas pergaulan bebas. Upaya edukasi yang dilakukan juga berimbas pada dorongan takwa ketika melakukan sesuatu bukan atas dasar pemaksaan. 

Oleh sebab itu, solusi tuntas penanganan HIV/AIDS hanya bisa diperoleh ketika Islam benar-benar diterapkan secara kafah dalam semua aspek kehidupan di bawah naungan khilafah. 

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top