Oleh : Ummu Fauzi


Memasuki penghujung tahun, kata tolerasi makin banyak dibahas karena ada dua perayaan yang berdekatan    yaitu adanya Hari Raya Natal dan Tahun Baru. Dua-duanya bukan hari raya umat Islam tetapi secara tidak langsung  umat muslim ikut meramaikan  perayaan itu  karena sudah tradisi atau kebiasaan turun temurun  katanya. 

Toleransi, itulah yang selalu diucapkan oleh mereka yang suka ikut latah  merayakan hari besar umat lain. Benarkah seperti itu? Apa itu toleransi?

Toleransi (Tasamuh) menurut kamus al-Munawir, halaman 702, pustaka Progresif, cet. 14 adalah membiarkan, menghargai, lapang dada. Dalam Islam, toleransi bukan berarti menerima keyakinan yang bertentangan dengan syariat. Maka dari itu biarkanlah mereka merayakan hari rayanya, tidak  usah ikut menemani meramaikannya baik Natal maupun Tahun Baru. Bagi merekalah amal dan agamnya, Al-Kafirun 1-6. 

Rasulullah saw.  pun tegas tidak mau berkompromi untuk melakukan toleransi dalam bentuk terlibat, memfasilitasi apalagi mengamalkan ajaran agama lain. Beliau juga menolak keras toleransi yang kebablasan.

Rasuluulsh saw. sudah bnyak memberi teladan bagaimana bermuamalah dan memperlakukan non muslim tanpa melakukan toleransi yang salah kaprah dan kebablasan. Beliau menjenguk tetangga yang non muslim yang sedang sakit beliau juga biasa bersikap dan berbuat baik kepada nonmuslim.

Haram hukumnya  memberikan ucapan selamat kepada  perayaan  agama lain, walau hanya sekedar ucapan tapi itu tidak boleh dianggap remeh. Ucapan selamat mengandung doa dan harapan kebaikan untuk orang yang diberi selamat. Padahal perayaan Natal adalah Kelahiran anak Tuhan dan Tuhan anak. Dengan kata lain itu adalah perayaan atas kesyirikan (menyekutukan Allah).

Dalam hal keharaman mengucapkan selamat kepada penganut agama lain MUI mengeluarkan fatwa yang dikeluarkan Komisi Fatwa MUI pada 7 Maret 1981 diantaranya:

1. Mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram.                                                                                      2. Agar umat Islam tidak terjerumus pada syubhat dan larangan Allah swt dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.

Dari sini jelas umat Islam haram terlibat dalam perayaan agama lain. Begitu pula dengan mengenakan atribut-atribut mereka  yang identik dengan hari raya mereka  yang berarti menyerupai mereka, dan Rasulullah saw. melarangnya seperti dalam hadisnya:

“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia sebagian dari mereka.” (HR Abu Dawud dan Ahmad)

Kaum muslim juga tidak boleh ikut menyemarakkan, meramaikan atau membantu mempublikasikan hari raya agama lain.

“Sebagian kaum musyrik tidak boleh menampakkan syiar-syiar mereka, tidak boleh juga kaum muslim menyetujui dan membantu mereka melakukan syiar itu dan hadir bersama mereka. Demikian menurut kesepakatan ahli ilmu.” (Ibnu qayyim al jauziyyah, Ahkam Ahl al-Dzimmah, 1/235)

Dengan demikian umat Islam harus tetap teguh  dalam memegang syariatnya. Jangan sampai terpengaruh dengan propaganda, seruan bahkan tipudaya dari pihak manapun yang sekilas terkesan baik, namun sejatinya menggiring kaum muslimin untuk menjauhi dan menanggalkan ajaran Islam sedikit demi sedikit. Umat Islam harus  terus  belajar tentang Islam serta memperdalam tsaqofah Islam agar kita tidak mudah dibohongi dan disusupi  ajaran-ajaran yang menyesatkan sehingga tidak ada lagi toleransi yang kebablasan. Hanya penerapan Islam yang kafah yang akan memberikan kebaikan, keadilan dan sikap toleransi yang benar yang akan membawa ketentraman hidup  baik muslim maupun non muslim. 

Wallaahu a'lam bi ash-shawaab

 
Top