Oleh : Endang Seruni

(Muslimah Peduli Generasi)


Saat ini Indonesia sedang perang melawan Covid-19 pada saat yang sama, Indonesia juga menghadapi permasalahan gizi buruk yang mengakibatkan stunting. Dan kondisi ini dikhawatirkan akan semakin buruk akibat pandemi Covid-19.

Anggota komisi IX DPR RI Intan Fauzi mendesak pemerintah agar tetap  memprioritaskan program perlindungan anak Indonesia dari stunting. Masalah ini tidak bisa dikesampingkan apalagi di masa pandemi.

Stunting dapat mengancam produktivitas sumber daya manusia. Selain stunting, kekurangan gizi pada anak, berdampak juga pada kemampuan berpikir dan menghambat kecerdasan pada anak.

Menurut data riset, Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan sebanyak 6,3 juta balita dari populasi 23 juta balita di Indonesia stunting di Indonesia  berada di urutan keempat dunia.

Program Nasional penurunan gizi buruk dan stunting tidak akan tercapai karena kondisi pandemi. Dan target penurunan angka stunting 14 persen pada tahun 2024 akan sulit dicapai. (Jawa pos.com, 23/06/2020)

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang terjadi pada anak, yang ditandai tinggi badan lebih rendah dari standar usianya. Akibat kurangnya asupan gizi pada anak dalam jangka waktu yang lama pada saat pertumbuhan anak atau pada saat dalam kandungan.

Ini terjadi karena kondisi kemampuan ekonomi masyarakat tidak memadai  karena kemiskinan dan kesenjangan sosial yang tinggi. Ini adalah buah dari abainya negara dalam memenuhi kebutuhan dan menyejahterakan rakyatnya, seperti gagalnya pemenuhan kebutuhan pangan yang bergizi untuk masyarakat.

Penerapan sistem ekonomi kapitalis yang hanya mementingkan kepentingan koorporasi sementara negara hanya berperan sebagai regulator saja. Hal ini dilakukan sebagi balas jasa kepada pemilik modal yang membantu mereka meraih kursi kekuasaan.

Selain itu ketimpangan sosial yang tajam akibat distribusi pangan yang tidak merata dan adil.

Sehingga wajar jika stunting menghantui negeri ini. Ini adalah salah satu permasalahan yang kita hadapi, dari sekian banyak permasalahan yang membutuhkan solusi.

Sementara pemerintahan dalam sistem Islam memenuhi seluruh kebutuhan rakyat berupa sandang pangan dan papan, kesehatan, pendidikan,dan keamanan rakyatnya.

Kepala negara dalam sistem Islam digariskan sebagai penanggung jawab dalam urusan rakyat dengan menerapkan syariat Islam kafah. Islam memerintahkan kepada setiap laki-laki (sebagai kepala keluarga) untuk bekerja sebagai bentuk tanggung jawab untuk menghidupi keluarganya. 

Negara berperan menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya. Dengan cara mengelola sumber daya alam secara mandiri, tanpa campur tangan asing. Dengan demikian akan tercipta lapangan pekerjaan yang luas dan besar, sehingga rakyat akan mudah mendapatkan pekerjaan.

Negara juga mempermudah birokrasi dan administrasi yang sederhana, cepat, dan tidak ada pungutan.

Negara menjamin kesehatan, pendidikan, dan keamanan rakyat secara gratis untuk semua warga negara tanpa terkecuali. 

Sehingga penghasilan individu-individu masyarakat dari mereka bekerja digunakan hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi mereka. 

Sementara pembiayaan dan pemenuhan kebutuhan pokok yang dilakukan oleh negara, diambil dari Baitul mal. Yang bersumber dari pengelolaan harta kemilikan umum yang dilakukan oleh negara, seperti pengelolaan sumber daya alam berupa gas bumi, emas, minyak bumi dan lain sebagainya. Selain itu juga berasal dari harta Fa'i, Ghanimah, Kharaj, dan lain-lain. 

Demikianlah Islam mengatur tata kehidupan yang semata-mata hanyalah untuk kesejahteraan umat. Oleh karena itu pentingnya peran negara untuk memenuhi semua kebutuhan rakyat. Stunting dan kekurangan gizi tidak akan terjadi, karena dampak dari kemiskinan yang mendera. 

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top