Oleh : Siti Ningrum, M.Pd.

Pegiat Literasi


Pada dasarnya setiap manusia menginginkan kebahagiaan baik di dunia maupun di akherat. Namun, dalam perjalanannya terkadang manusia berubah haluan, berbelok arah. Bahkan tidak sedikit yang kian tersesat jauh dari persimpangan jalan. Kembali dan memutar arah, berpijak pada yang semestinya. Berlari, berjalan atau pun merangkak tak jadi soal. Dia akan tetap menunggu. 


Pengendalian diri adalah sebuah kunci agar tetap berada pada jalan-Nya. Menapaki sebuah perjalanan panjang, memang tidak mudah. Banyak sekali onak dan duri, pun aral melintang yang akan mengakibatkan manusia jatuh dan tengelam dalam jurang kehancuran. Hanya ketaatan pada-Nya sebagai bekal untuk tetap melaju dalam hiruk pikuk kehidupan. Pun meraih ampunan-Nya, agar kelak kembali pada-Nya dalam keadaan tenang. 


Pintu taubat akan selalu terbuka. Dialah Allah yang Maha Pengampun akan selalu merengkuh jiwa-jiwa yang haus akan sebuah ampunan. Dialah Allah yang akan menunggu hamba-hamba-Nya, dalam keheningan di sepertiga malam. Menaklukan diri sendiri dalam sebuah ketaatan, adalah sebuah kemenangan besar. Di mana kemenangan besar lain telah menunggu kedatangan hamba-hamba yang bertakwa. 


Akhir-akhir ini di barat, kembali Islam dinistakan dengan membakar kitab suci Al-Qur'an. Tidak hanya itu,  para 0pembenci risalah Islam pun habis-habisan menghina pembawa risalah-Nya. Majalah Charlie Hebdo kembali merilis kartun Nabi Muhammad saw. Tindakan itu pun didukung oleh presidennya, Macron. Bahwasannya tindakan tersebut termasuk ekspresi dari sebuah kebebasan. (Republika.co.id, 04/11/20)


Selama Islam tidak punya perisai, selama itu pula akan terus dihina dan dinista oleh para pembencinya. 


Namun setelah kejadian demi kejadian menerpa agama Islam dan kaum muslimin, terutama setelah tragedi 11 September, di barat banyak sekali orang yang ingin masuk Islam. Ini membuktikan bahwa agama Islam, sejalan dengan pemikiran mereka yang modern, tidak jumud, akan tetapi produktif. Menurutnya ilmu pengetahuan selalu sejalan dengan ajaran Islam. 


Pernyataan ini sesuai dengan hadits Rasulullah saw., yang artinya: 


"Jika kiamat hampir datang sedangkan di tangan salah seorang dari kamu ada biji benih yang hendak ditanamnya, maka jika dia mampu hendaklah dia menanamnya!'' (HR. al-Bukhari dan Imam Ahmad)


Sebentar lagi Islam akan mengubah tatanan dunia dengan diterapkannya segala hukum-Nya di alam semesta. Kemenangan itu akan segera tiba. Semburatnya telah tampak, dan fajar yang kian menyingsing itu adalah sebuah tanda dimulainya kehidupan dan peradaban baru manusia. 


Meski para pembenci tidak menyukainya, namun tetap cahaya Allah tak mampu dipadamkan. Allah Swt. berfirman, “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” 


Peradaban dan kekuasaan akan selalu bergilir sesuai dengan ketentuan-Nya. Pun dengan sebuah kemenangan. Ibarat petarung di medan laga, siapa yang kuat maka dialah pemenangnya. Islam kuat karena bersama dengan Sang Pencipta Allah Aza Wazala. 


Rasulullah saw bersabda, yang artinya: “Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw. diam.” (HR. Ahmad; Sahih)


Pada peradaban baru itu, tidak akan ada lagi yang akan menghina agama Allah, kitab-Nya, ajaran-Nya, Rasul-Nya, dan kaum muslimin di seluruh dunia.  


Semesta pun akan bertasbih menyambutnya. Adidaya itu bernama khilafah, dengan perisainya bernama khalifah. Islam rahmatan lil 'alamin pun akan terwujud. 


Wallaahu a'lam bishshawab.

 
Top