Sambut Tahun Baru, Gemilang dengan Generasi Cemerlang


Oleh : Dwi Indah Lestari, S.TP

(Penggiat literasi dan Member WCWH)


“Beri aku 1.000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kata bijak Bapak Proklamasi Indonesia Soekarno itu sangat tepat. Pemuda dengan segenap potensinya adalah aset yang sangat berharga bagi sebuah peradaban. Di tangannya ditentukan masa depan sebuah bangsa.

Pada 2030-2040, Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Potensi ini tentu saja memberikan peluang besar bagi pembangunan Indonesia menjadi negara maju. 

Besarnya angka usia produktif ini tentunya harus dapat dimanfaatkan sebaik mungkin menyongsong era baru yang semakin penuh tantangan. Harus ada sebuah gerakan untuk mempersiapkan para pemuda dengan potensi akal dan fisiknya tersebut agar mampu meraih kebangkitan yang sesungguhnya.

Pandangan Kapitalistik

Sayangnya, bonus demografi ini oleh pemerintah, baru dipandang dari potensi ekonomisnya semata. Hal ini nampak dari yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan, Anwar Sanusi dalam Webinar KPCPEN dengan tema ‘Menyiapkan Aset SDM yang Siap Mendukung Kebangkitan Dunia Usaha di Era Pandemi’. Ia menyatakan bahwa bonus demografi harus bisa dimanfaatkan dengan pengelolaan yang baik untuk menghadapi era industri 4.0 yang berfokus pada digitalisasi dan otomatisasi. (jawapos.com, 3 Desember 2020)

Wajar kiranya bila kemudian persiapan yang dilakukan oleh pemerintah dalam menghadapi bonus demografi ini selalu mengarah pada mempersiapkan skill dan pengetahuan pemuda untuk bisa bersaing di dunia kerja. Apalagi kemudian ternyata Indonesia harus menghadapi persoalan dari bonus demografi ini yaitu pemetaannya yang masih didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Pertama. Jika begitu tentu saja SDM di negeri ini akan kalah bersaing dengan SDM luar yang memiliki porsi lulusan perguruan tinggi atau kejuruan yang lebih besar. Meskipun jumlahnya banyak kurang produktif.

Pandangan yang selalu berorientasi pada ekonomi ini tak bisa dilepaskan dari sistem kapitalisme yang memang selalu mengukur segala sesuatu dari materi. Dan inilah yang mewarnai setiap interaksi penguasa dengan rakyatnya saat ini. Untung rugi menjadi pijakan kebijakan. Itulah sebabnya dalam mengukur manfaat bonus demografi juga dipandang dari sisi materi saja. Program vokasi menjadi fakta kebijakan yang menjadikan orientasi mencetak lulusan untuk memenuhi kebutuhan industri, lagi-lagi timbangannya adalah materi. 

Wajarlah kiranya bila output yang dihasilkan adalah pribadi-pribadi yang berambisi meraih kesuksesan materi semata. Sementara korporasilah yang paling diuntungkan. Para kapital itu bisa mendapatkan tenaga kerja yang bisa memenuhi kebutuhan industri yang dijalankan. Sedangkan rakyat lagi-lagi dipinggirkan hanya sebagai buruh saja.

Generasi Cemerlang Hanya Dengan Islam

Bonus demografi dengan pemuda sebagai pemegang juaranya, seharusnya diarahkan untuk kebangkitan hakiki, yaitu bangkit sebagai bangsa yang berperadaban agung dan mulia. Semua itu pernah diraih oleh sebuah negara yang menerapkan Islam sebagai sistem hidupnya. 

Dengan sistem pemerintahan Islam yaitu khilafah, pemuda mendapatkan perhatian besar dan diarahkan dengan benar oleh negara. Sebab sesuai dengan ungkapan dalam bahasa Arab yang artinya bahwa pemuda saat ini adalah tokoh di masa depan. Untuk itu khilafah akan menciptakan suasana yang mendukung terbentuknya generasi saleh, bahkan sejak dini.

Dimulai dari keluarga sebagai madrasah pertama, yang membekali putra putrinya dengan nilai-nilai islami. Bahkan sejak dalam kandungan calon generasi telah diperdengarkan Al-Qur’an. Mereka diajarkan membaca dan menghafalnya, sehingga saat mencapai usia 7-10 tahun banyak dari mereka yang sudah hafal Al-Qur’an.

Dalam sistem pendidikannya diterapkan kurikulum berasaskan Islam, yang menanamkan kepada anak-anak tentang tujuan hidup mereka yaitu meraih keridaan Allah semata. Dan untuk itu mereka harus menyibukkan diri dengan amal saleh. Dengan begitu seluruh keilmuan dan keterampilan yang mereka dapatkan di sekolah akan mereka gunakan untuk ketaatan.

Orientasi hidup mereka tak berputar pada materi atau hal-hal keduniawian semata. Namun mereka memahami materi diraih hanya agar mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Sementara negara sendiri telah memberikan jaminan kebutuhan rakyatnya pasti terpenuhi dengan sejumlah mekanisme. 

Sehingga para pemuda dapat memfokuskan energinya untuk menghasilkan karya-karya terbaik bagi kemaslahatan umat. Mereka juga jauh dari kehidupan hura-hura, hedonis dan permisif, sehingga tidak terjatuh pada aktivitas sia-sia dan merugikan. Segala persoalan yang dihadapi akan mampu diselesaikan dengan berpegang pada keimanan yang kokoh dan ketaatan pada aturan Islam saja.

Inilah gambaran pemuda Islam yang pernah lahir dalam sistem khilafah. Sejarah mencatat nama Muhammad Al Fatih yang mampu menaklukkan konstantinopel yang terkenal paling kuat benteng penjagaannya pada usia 21 tahun. Dunia pun mengenal Imam Al Nawawi yang di usia 20 an telah menghasilkan kitab berjilid-jilid. Atau Imam Al Bukhari yang mampu menghafal jutaan hadis. 

Begitulah sistem khilafah mempersiapkan pemuda dengan segala potensinya untuk kemajuan umat. Di tangan khilafah, bonus demografi akan dikelola dengan sebaik-baiknya untuk membentuk generasi cemerlang yang akan menciptakan peradaban gemilang di masa depan. Potensi waktu, umur, ilmu dan materi yang dimiliki akan benar-benar membuahkan keberkahan hidup. Dan khilafahlah sistem terpercaya yang akan mewujudkannya.

 Wallahu a'lam bishshawab.