Rohingya Sayang Rohingyaku Malang

 


Oleh: Darni Salamah

Aktivis Muslimah Sukabumi


 Beberapa tahun belakangan, problematika etnis muslim Rohingya menjadi salah satu kaum tertindas di Myanmar tak pernah berkesudahan. Penindasan, pelanggaran HAM, dan ketidak adilan tak pernah berpihak pada etnis muslim Rohingya hingga kini. Alih-alih sebagai organisasi kemanusiaan PBB malah bungkam terkait masalah kemanusiaan di Myanmar itu, seakan abai dan tidak memberikan penyelesaian. Dibuang dari Myanmar dan diperlakukan kejam, etnis muslim Rohingya pun diombang ambing, diungsikan ke berbagai negara, hingga dibuang dan di relokasi pada pulau yang tak layak ditinggali, terlebih pemimpin-pemimpin muslim menolak untuk menolong mereka. 


 Dikutip dari bbc.com, Pulau Bhasan Char merupakan pulau yang muncul kepermukaan laut secara alami oleh lumpur Himalaya kurang dari 20 tahun lalu di teluk Banggala. Wilayahnya rentan dengan bencana serta tidak cocok untuk pemukiman manusia. Dikutip dari Muslimahnews.id (12 Desember 2020) Diketahui terdapat kapal AL Bangladesh yang membawa lebih 1600 penghuni Rohingya yang berangkat dari Coxs Bazar berangkat ke Bhasan Char pada 4 Desember pagi. 


 Derita muslim Rohingya yang tak pernah berkesudahan merupakan sebuah kebobrokan nyata dari kapitalisme. Jika PBB merupakan wadah keadilan untuk mengurusi masalah kemanusiaan, lantas mengapa kasus Rohingya terabaikan dan tak pernah mendapat perhatian khusus apalagi mendapat jaminan keadilan. Pun dengan pemimpin-pemimpin muslim khususnya kawasan ASEAN yang dekat dengan Myanmar, lebih berpegang teguh pada prinsip noninterference policy yakni tidak mencampuri urusan dalam negeri ,negara lain. 


 Secara politik memang negara asing tidak berhak mencampuri urusan dalam negeri negara lain, tetapi secara kemanusiaan seharusnya memiliki kewajiban para pemimpin muslim bersatu menanggulangi masalah kemanusiaan. Namun nyatanya saat ini sangat sulit meraih ukhuwah islamiyah seluruh negeri-negeri muslim. Hal ini terjadi karena nation state yang terus menghujam di setiap dada kaum muslimin pun dengan penguasanya. 

Hampir semua negara saat ini ikut terhadap arahan Barat bahkan tunduk tidak berani melakukan perlawanan sekalipun untuk menolong saudaranya seakidah. 


Adalah sebuah kezaliman bila kita membisu membiarkan kezaliman itu sendiri. Sementara kita tahu masalah kemanusiaan Rohingya akibat diskriminasi dari agama mayoritas di Myanmar. 

 “Janganlah kamu sekalian saling mendengki dan saling mmbenci. Muslim yang satu adalah bersaudara dengan muslim yang lain. Oleh karena itu ia tidak boleh menganiaya, membiarkan, menghinanya. Takwa itu ada di sini (Rasul sambil menunjuk dadanya tiga kali). Seseorang itu dianggap jahat bila ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim yang satu dengan muslim yang lain itu haram mengganggu darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim)


 Mustahil keadilan akan ditegakkan bila kapitalisme masih menjadi prinsip setiap negara muslim. Tentu segala persoalan sosial akan terpecahkan bila sistem yang digunakan merupakan sistem Islam. 


Kegemilangan Islam terdahulu, menjadi bukti bahwa pemimpin-pemimpin Islam sanggup membebaskan masygul negara-negara terjajah. Amirul Mukminin Umar bin Khathab pada masa Khulafaurrasyidin yang membebaskan Syam, sehingga Yerussalam mendapat kebebasannya pada 637 M. Salahuddin Al Ayyubi, yang mampu membebaskan Baitul Maqdis pada 1187 M, Al Fatih yang gagah menaklukkan Konstantinopel pada 1453 M. Seharusnya dari sejarah kita belajar bahwa keadilan akan didapati tidak hanya oleh etnis Rohingya tapi seluruh negara-negara yang kini terjajah sistematis. Keadialan pun akan merata bagi seluruh penduduk bumi ketika yang diterapkan adalah sistem yang berdasarkan Quran dan Sunah. 


Wallahu a’lam bishshawab.