Oleh : Nelliya Azzahra


Puluhan tahun sudah penduduk muslim Rohingya hidup terlunta-lunta dalam bayang-bayang ketakutan. Mereka tinggal di wilayah Arakan, bagian dari Rakhine- di Myanmar Barat yang berbatasan langsung dengan Bangladesh. Hidup berpindah-pindah karena ketiadaan negara. 

Orang Rohingya bukan satu-satunya kelompok etnis yang beragama muslim di Myanmar. Mereka ada yang keturunan Arab, Moor, Pathans, Moghuls, Bengali dan Indo-Mongoloid. 

Duka Rohingya sampai hari ini masih menganga. Bukan hanya sekadar luka fisik, tapi juga psikis. Puluhan tahun bertahan dengan status manusia tanpa negara. Hidup dari satu tempat ke tempat lainnya berharap tetap bisa bertahan meskipun kehidupan yang dijalani jauh dari layak apalagi sejahtera.

Derita yang menimpa Rohingya ini tentu saja menyentuh nurani kita sebagai sesama muslim. Rasulullah saw. memberi perumpamaan saudara sesama muslim seperti satu tubuh.

"Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.'' (HR Bukhari dan Muslim)

Rohingya yang berhasil mengungsi ke Bangladesh secara mengejutkan dipindahkan oleh pihak berwenang Bangladesh ke Pulau terpencil.

Sekitar 1.600 pengungsi dipindahkan ke Pulau Bhasan Char, sebuah pulau yang rentan diterjang banjir di Teluk Bengal, pada Jumat (04/12), menurut laporan kantor berita Reuters. Dilansir oleh Viva.co.id, (6/12/2020).

Berdasarkan keterangan Bangladesh, semua yang dipindahkan ke Pulau itu sudah melalui persetujuan.

Sungguh suatu keadaan yang memprihatinkan di kala ukhuwah islamiyah sulit dibentuk karena benturan nasionalisme. Karena faktor nasionalisme, masing-masing negara sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. 

Nasib Rohingya menjadi manusia terbuang dari negaranya sendiri. Hidup terlunta-lunta berharap uluran tangan saudara sesama muslim yang justru hari ini disekat-sekat oleh nasionalisme. Entah sampai kapan penderitaan mereka akan berakhir.

Alangkah sedihnya hanya untuk mencari tempat tinggal saja harus mempertaruhkan nyawa, belum lagi bicara tempat tinggal itu layak atau nyaman dan aman.

Berkaca dari apa yang menimpa Rohingya, umat butuh perisai. Adanya pelindung yang bisa mengayomi keberadaan mereka sangat urgen. 

Islam, sebagai agama sempurna dan paripurna terbukti selama tiga belas abad mampu mewujudkan ukhuwah islamiyah di bawah kepemimpinan seorang khalifah.

Sungguhnya kaum mukmin telah Allah Swt. tetapkan sebagai saudara. Sebagaimana Allah Swt. berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

Artinya: "Sungguh kaum mukmin itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) di antara kedua saudara kalian itu." (TQS. al-Hujurat [49] : 10)

Ketiadaan khilafah seperti saat ini, menyebabkan umat Islam tercerai-berai dalam banyak negara. Mereka banyak tapi layaknya buih di lautan.

Salah satunya di masa khilafah yang gemilang dan di bawah pemimpin pemberani yang mengayomi, seperti Khalifah Al-Mu’tashim Billah yang akan menaklukkan Amerika, Eropa, Rusia dan Cina; menyatukan berbagai negeri Islam; menjaga kehormatan kaum muslim; dan menolong kaum tertindas.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top