Oleh : Adibah NF

Alumni Quantum Writing AMK


Pujian hakikatnya adalah ujian, karena dalam pujian mengandung fitnah (ujian). Dan fitnah/ujian itu bisa berupa ujian kebaikan maupun keburukan. Dalam hal ini, Allah Swt. tunjukkan dalam firman-Nya,

ﻭَﻧَﺒْﻠُﻮﻛُﻢ ﺑِﺎﻟﺸَّﺮِّ ﻭَﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻓِﺘْﻨَﺔً ﻭَﺇِﻟَﻴْﻨَﺎ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’ : 35)

Adapun ujian berupa keburukan, misalnya ketika seseorang mendapat pujian, bisa jadi orang tersebut akan merasa sombong dan merasa takjub pada diri sendiri, bahkan lupa bahwa semua nikmat ini adalah dari Allah Swt., kemudian kita merasa hebat serta lupa bersyukur. 

Kekaguman terhadap diri sendiri yang berlebih merupakan suatu sifat yang bisa membinasakan. Hingga kelalaian dalam mengingat dan menjalankan kewajiban-kewajibannya dari Allah Swt. yang menjadi tanggung jawabnya. 

Dari sinilah, apabila kita menyayangi saudara kita, maka do'akanlah terkait dengan kebaikan yang dimiliki orang tersebut, kalau hanya sekadar memuji hal yang memang apa adanya, tidak mengapa. Menjadi tidak boleh itu adalah memujinya secara berlebihan. Sebab pujian yang berlebihan itu bisa membinasakan seseorang yang dipuji. Sedangkan doa kepada seseorang itu mampu menghidupkan.

Dalam hal memuji seseorang, terdapat larangan memuji secara berlebihan. Diriwayatkan dari sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

"Ada seseorang yang memuji orang lain di sisi Rasulullah saw., kemudian beliau bersabda, yang artinya: 'Celaka kamu, kamu telah memenggal leher sahabatmu.' ." (Muttafaq 'alaihi)

Artinya dia sudah berusaha untuk "mematikan" kemuliaan yang ada pada dirinya. Yaitu adanya peluang orang yang dipuji karena kebaikannya, namun terdapat celah untuk melakukan kemaksiatan. 

Jika salah seorang di antara kalian memuji temannya, maka hendaknya dia mengatakan, "Aku mengira dia seperti itu dan Allah-lah yang menghisabnya, aku tidak memuji siapapun di hadapan Allah.” (HR. Muslim)

Rasulullah saw. mengajari kita ketika kita mendapat pujian dari seseorang tentang kebaikan, maka ucapkanlah jazakallah khair (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan). Pujian ini semata-mata dimaksudkan untuk mendo'akan.

Demikian pula dalam riwayat lainnya, Rasulullah saw. dengan sangat tegas memerintahkan agar memberi hukuman kepada orang yang terlalu sering dan berlebihan memuji orang lain. Atau terkategori pujian yang mengada-ada. Sabda Nabi saw.,

"Jika engkau melihat orang yang memuji, taburkanlah debu di wajahnya." (HR. Muslim)

Hal tersebut menunjukkan adanya indikasi untuk memuji secara berlebihan dari apa yang dilihatnya. 

Bahkan Umar bin Khaththab ra. berkata,

المدح هو الذبح

“Pujian adalah sembelihan.” (Fath al-Bari, 10/477)

Artinya, bisa berpeluang menghilangkan kebaikan yang ada pada orang tersebut. Namun dia lalai bahkan takjub atau menyombongkan diri dari apa yang dia dapatkan dari pujian tersebut.

Jika pada pujian terdapat kebaikan dan motivasi baginya atas sifatnya yang terpuji dan akhlak yang mulia, hal ini tidak mengapa karena bisa memberikan motivasi kepada orang tersebut. Sehingga, orang yang dipuji tadi akan senantiasa menjaga dan selalu hati-hati dalam berpikir dan bersikap.

Inilah yang dikatakan pujian mengandung maslahat, karena mampu membuat orang yang dipuji itu selalu intropeksi diri karena ada kekhawatiran berbuat salah. Dengan kata lain, pujian yang membuat dia istiqamah dalam sikap dan pemikirannya. Tidak terbawa arus, namun punya standar dan tolok ukur yang benar yakni hukum syariah. 

Maka dari itu saat kita dipuji orang lain, berdoalah, agar kita tidak tertipu oleh pujian tersebut sehingga membuat kita menjadi lalai atau lupa. 

Sahabat Ali bin Abi Thalib ra. senantiasa berdoa ketika pujian menghampirinya.

“Ya Allah ampunilah aku atas apa yang mereka tidak ketahui (soal diriku). Dan janganlah Engkau menyiksaku karena perkataan mereka. Dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan."

Demikianlah, segala puji milik Allah Rabb Pemelihara semesta alam. Pencipta seluruh makhluk-Nya. Dialah yang berhak memuji diri-Nya sendiri. Dia berhak memuji atas segala kekuasaan-Nya. Seluruh makhluknya wajib memuji Allah Swt. karena hanya Dia yang pantas dipuji.

"Sesungguhnya Akulah Allah, tidak ada Tuhan kecuali Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku." (TQS. Thaha [21]:14)

Selain pada diri-Nya sendiri, Allah juga memuji makhluknya. Memuji kemuliaan akhlak Nabi saw.,

"Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar di atas akhlak yang agung." (TQS. al-Qalam [68]: 4)

Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa menjaga lisan, pendengaran dan hati agar terhindar dari berbagai kesalahan dalam berucap dan bersikap, aamiin Allahumma aamiin.

WalLahu a'lam bi ash-shawab. [ANF]

 
Top