Oleh : Hamsina Halisi Alfatih


Permasalahan di negeri ini semakin hari mencuat seperti tak kunjung adanya penyelesaian yang real. Beragam persoalan yang terjadi seolah mengisyaratkan bangsa ini memang tidak baik-baik saja. Kembali potret dunia pendidikan harus disuguhkan dengan permasalahan kemiskinan seperti anak kembar yang tak terpisahkan.

Kemiskinan dan pendidikan seakan hanya menghantui mereka yang memang benar-benar berada dalam garis kemiskinan. Lantas kesejahteraan pendidikan yang baik itu sebenarnya layak itu siapa? Bagi setiap insan? Ataukah hanya untuk mereka yang kaya dan mampu? Pertanyaan ini akan mewakili gambaran kemiskinan seorang petani rumput laut yang harus berjuang menanggung biaya pendidikan anak-anaknya di masa kritis ini.

Dilansir oleh Telisik.id (18/12/20), La Taila merupakan petani rumput laut bersama sang istri yang selalu menemaninya, pria berusia 40 tahun ini bertempat tinggal di Desa Moko, Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah. Dalam kesehariannya selama tiga tahun lamanya menekuni profesi sebagai petani rumput laut, La Taila bersama istrinya harus berjuang membesarkan keenam orang anaknya. Empat di antaranya tengah menempuh pendidikan yang harus ditanggungnya saat ini.

Menjadi petani rumput laut dengan penghasilan pas-pasan, membuat La Taila bersama istrinya harus bekerja ekstra keras untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Di samping lonjakan kebutuhan rumah tangga yang harus terus dipenuhi setiap hari kadang kala menjadi 'hambatan' apakah penghasilan tersebut untuk pendidikan sang anak atau untuk rumah tangga. Hal ini terkadang menjadi dilematik hampir setiap orangtua, apalagi mereka yang hidupnya serba kekurangan.

Kemiskinan dan Pendidikan, Bagaimana Memandangnya?

Seiring dengan perkembangan zaman dari tahun ke tahun biaya pendidikan di Indonesia semakin mahal. Bagi kalangan masyarakat kelas atas, tingginya biaya pendidikan tidak menjadi suatu masalah baginya, karena menurut mereka pendidikan merupakan hal yang penting dan simbol yang memiliki makna tersendiri bagi mereka yang dapat menggambarkan dan mempertahankan status sosial ekonominya. Akan tetapi bagi masyarakat kelas bawah, mahalnya pendidikan tentu saja bukanlah suatu hal yang diinginkan oleh mereka.

Menyoal sistem pendidikan saat ini sungguh sangat jauh dari kata sejahtera. Mengapa demikian? Seolah pendidikan saat ini hanya mampu dinikmati oleh mereka yang berduit saja. Bahkan pendidikan saat ini seolah-olah menjadikan dinding pemisah antara si kaya dan si miskin. Walhasil, kesejahteraan pendidikan bisa dikatakan hanya pantas untuk mereka yang kaya.

Potret pendidikan dalam sistem kapitalisme begitu pelik dan miris untuk dipandang sebelah mata. Banyak anak-anak putus sekolah diakibatkan tidak adanya biaya hingga terkadang di usia yang semestinya harus mengenyam pendidikan justru mereka ikut membanting tulang mencari nafkah bagi orangtuanya. Padahal berdasarkan Undang-Undang No. 30 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. 

Namun sayang, pendidikan saat ini tak hanya dipolitisasi, tetapi juga distandarkan pada kapitalisasi pendidikan. Hal ini menjadikan pendidikan sebagai ajang bisnis para kapitalis dengan pihak pengelola pendidikan. Karenanya, buntut permasalahan pendidikan haruslah dilihat bagaimana seharusnya mekanisme pendidikan agar sesuai dengan standarisasi nasional seperti yang tercantum dalam perundang-undangan.

Islam Menyeratakan Sistem Pendidikan

Problem yang ditumbulkan oleh kapitalisme tak hanya merambah pada dunia ekonomi, politik, sosial, pemerintahan dan sebagainya. Tetapi, nyata adanya kapitalisasi pendidikan yang semakin kompleks permasalahannya. Bukan tak lain permasalahan pendidikan ini akibat dari hilangnya peran negara dalam menyeratakan sistem pendidikan sehingga berdampak pada semakin banyaknya kemiskinan di negeri ini. 

Tak hanya itu, adanya masyarakat yang semakin terpetakan oleh status sosial, sehingga pendidikan yang berkualitas hanya bisa dinikmati oleh mereka yang berduit. Sementara bagi mereka yang berada dalam garis kemiskinan, hanya mampu menikmati pendidikan ala kadarnya bahkan berujung tak bersekolah. Selain itu, terkungkungnya Indonesia dalam kapitalisme global semakin membawa kehancuran tak hanya di sektor perekonomiannya saja, namun pendidikannya pula.

Oleh karena itu, hadirnya Islam sebagai ideologi yang menjadi solusi atas problematika umat akan menuntaskan semua permasalahan termaksuk masalah pendidikan. Di dalam Islam pendidikan menjadi prioritas utama, karena hal ini menyangkut masalah kesejahteraan yang mampu mencetak generasi pilihan dan cemerlang. Hal ini sudah terbukti, ketika Islam menghasilkan para ilmuwan ternama seperti Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Al Battani, Ibnu Khaldun dan masih banyak lagi. Atas hasil didikan dalam pendidikan Islam, para ilmuwan ini mampu mengahasilkan karya yang bisa kita nikmati saat ini. Bahkan, tak ilmu sains saja yang mampu mereka kuasai, tetapi ilmu hadis serta hafalan suci Al-Qur'an pun di luar kepala.

Apa yang menjadikan para ilmuwan ini sukses menghasilkan karya ilmiah adalah karena ketekunan dan ketakwaan mereka kepada Allah Swt. Di samping itu, Islam tidak memilah siapa saja yang pantas untuk mendapatkan pendidikan. Sebab, setiap generasi wajib diberi pendidikan yang layak dan wajib bagi negara untuk memfasilitasinya. 

Adanya pendidikan yang layak dengan fasilitas yang memumpuni akan memudahkan proses belajar mengajar para peserta didik. Tak hanya itu, pendidikan yang sesuai dengan kurikulum Islam akan membentuk karakter generasi yang bersyakhsyiah Islam. Karenanya, wajib bagi negara seyogyanya mengambil peran penting dalam urusan pendidikan. Sebab, pendidikan merupakan corong utama dalam membentuk karakteristik tiap generasi tanpa memilah antara kaya dan miskin.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top