Potret Masyarakat dalam Sistem Kapitalisme


Oleh : Selviana

Aktivis Dakwah Kampus


Pendidikan seolah mencekam dan menjadi bencana saat ini. Dilansir oleh kompas.TV (15/09/2020), Seorang ibu tega menganiaya anak perempuannya hingga tewas, gara-gara si anak tak mengerti saat belajar melalui daring.

Polres Lebak, Banten, mengungkap motif pembunuhan anak perempuan berusia 8 tahun oleh orangtua kandungnya, warga Jakarta Pusat.

Kasat Reskrim Polres Lebak, AKP David Adhi Kusuma mengatakan, ibu korban melakukan penganiayaan karena putrinya sulit memahami pelajaran, saat belajar daring.  

Pelaku IS, yang juga ibu korban, mengaku menganiaya korban pada 26 Agustus lalu, hingga tewas. Untuk meninggalkan jejak, IS mengajak suaminya LH, untuk membawa jenazah korban ke Cijaku, Lebak, dengan menggunakan sepeda motor. Sementara LH mengaku meminjam cangkul dari warga setempat, untuk mengubur anaknya. Keduanya bergantian menggali kubur. LH menambahkan, sempat membuat laporan kehilangan anak untuk mengelabui polisi.

Peristiwa ini terbongkar setelah warga setempat menemukan gundukan tanah yang masih basah, namun tidak ada satu pun warga yang tahu kuburan siapa itu. Saat digali, ditemukan jenazah anak berpakaian lengkap.

Fakta lainnya di daerah Sumatera Utara, telah terjadi hal yang sama, namun motifnya berbeda. Dilansir oleh kompas.com (15/09/2020), kasus pembunuhan sadis terjadi di Dusun 2, Desa Banua Sibohou, Kecamatan Namohalu Esiwa, Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara. Seorang ibu berinisial MT (30), tega membunuh tiga anak kandungnya sendiri yang masih balita. Ketiga korban itu diketahui berinisial YL (5), SL (4), dan DL (2). Usai membunuh ketiga anaknya itu, pelaku sempat berusaha melakukan upaya bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri dengan parang.

Problem sistem kapitalis tidak pernah selesai karena memang dalam sistem ini tidak ada harapan bagi rakyat kecil, hanya menguntungkan bagi mereka yang memiliki kedudukan dan jabatan.

Memperjuangkan mereka yang mendaftar sebagai wakil rakyat dan pejabat daerah pun akan menjadi sia-sia, karena di saat mereka terpilih kerap lupa pada tujuan mereka dipilih.

Fakta pembunuhan di Nias itu memperlihatkan hal yang sangat miris. Di saat sang suami pelaku mengharapkan pemimpin baru, istri dan anaknya justru kehilangan harapan hidup dalam sistem ini.

Sungguh ironi, berbagai permasalahan muncul dalam sistem ini, namun tetap dilanjutkan dan tetap digaungkan. Diiming-imingi kesejahteraan namun hasilnya menyengsarakan.

Sejauh apa pun sistem ini membuat peraturan dan ingin menyelesaikan masalah, tetap akan sama. Ibarat tutup lobang gali lobang. Membuat kebijakan untuk menutupi masalah pertama dan membuat masalah baru dari kebijakan yang diterapkan.

Berbeda halnya jika dalam sistem Islam semua hak diberikan dengan adil. Termasuk kebutuhan ekonomi dan pendidikan.

Kisah Sang Pemimpin umat yakni Umar bin Abdul Aziz. Adil, jujur, sederhana dan bijaksana. Itulah ciri khas kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Tak salah bila sejarah Islam menempatkannya sebagai ‘khalifah kelima’ yang bergelar Amirul Mukminin, setelah Khulafa Ar-Rasyidin. Pada era kepemimpinannya, Dinasti Umayyah mampu menorehkan tinta emas kejayaan yang mengharumkan nama Islam.

Tak seperti penguasa kebanyakan yang ada di alam kapitalis, dimana begitu berambisi mengincar kursi kekuasaan, Umar justru menangis ketika tahta dianugerahkan kepadanya.

Umar bin Abdul Aziz pun begitu mencintai dan memperhatikan rakyatnya. Bahkan di era kepemimpinan beliau, ekonomi dan pendidikan sejahtera dan Islam mengalami masa keemasan.

Begitulah gambaran jika sistem Islam yang berkuasa, semua dilandasi dengan keimanan kepada Allah. Maka akan paham bahwa setiap perbuatan yang dilakukan pada masa kepemimpinannya akan dimintai pertanggungjawaban di yaumil akhir nanti.

Islam Rahmatan lil Alamin, Islam adalah solusi dari segala permasalahan hidup maupun permasalahan negara.

Wallahu a'lam bi ash-shawwab.