Oleh : Liza khairina


Bincang perempuan memang asyik, unik, dan heroik. Makhluk ciptaan Allah yang satu ini selalu menjadi alasan maju dan mundurnya sebuah peradaban. Dilahirkan satu di antara 3 fitnah kehidupan (harta, tahta, dan wanita). Sejak gadis sudah menjadi alasan kaum laki-laki harus menundukkan kepalanya. Ketika menikah menjadi alasan suaminya menghuni neraka ataukah surga. Dan ketika seorang anak memanggilnya "Ibu", lidahnya adalah alasan bagi Allah mendatangkan kemanfaatan atau kemudharatan.


Sungguh, kemuliaan yang diberikan Allah kepada perempuan sangat sempurna. Terlebih ketika perempuan itu Allah anugerahkan anak dan gelar ibu tersemat dalam dirinya, maka Islam menyandingkan perintah birrul walidain setelah larangan menyekutukan Allah. Bahkan lisan nabiNya secara khusus memerintahkan agar berbuat baik pada ibunya tiga kali berturut-turut sebelum ayahnya. Sungguh, dimana terdapat kemuliaan itu kalau bukan di dalam Islam. Mahabenar Allah dengan segala firmanNya.


Yang selanjutnya dipertanyakan adalah: Ibu seperti apakah yang tersebut kemuliaannya dalam Islam?


Alquran menyebut perempuan yang dikaruniai anak dengan dua sebutan. Pertama, "Ummun" (perempuan yang penuh keberkahan dan kemuliaan). Dan yang kedua, al-Walidatu (perempuan yang melahirkan anak). Sebutan keduanya dalam bahasa kita adalah "Ibu".


Menjadi perempuan kaya literasi, punya banyak referensi bahkan cukup mumpuni bukan berarti dengan sendirinya siap menyandang gelar Umi. Betapa banyak perempuan penuh kasih tapi Allah cukupkan dirinya hanya menjadi istri. Begitu banyak pula perempuan rahimnya padat isi, tapi Allah gelari Walidati sekedar melahirkan bayi tapi miskin visi. Kita berlindung dari kondisi-kondisi ini.


Allah menjadikan perempuan penuh perasaan. Karunia rahim yang akan melahirkan banyak generasi adalah kemuliaan yang tidak diberikan pada kaum laki-laki. Pahala dan ridhaNya melekat pada setiap aktivitasnya ketika hamil, melahirkan, masa pengasuhan sampai anak tumbuh dewasa. Maka bersabar ketika mendidiknya adalah wujud syukur hamba pada Dzat Yang Maha Pencipta dan Pengatur segala.


Tidak hanya karunia rahim yang menjadi ladang pahala bagi perempuan. Akan tetapi seluruh urusan rumah seperti dapur, sumur dan kasur adalah pahala jariyah baginya. Insya Allah berbuah kenikmatan baik di dunia maupun kelak di akhirat.


Menjadi seorang ibu adalah impian setiap kaum Hawa, lebih-lebih perempuan yang sudah berkesempatan menjadi istri. Selain tugas menjaga kehormatan suaminya, seorang istri tentu ingin memberikan hadiah pernikahan dengan hadirnya anak dalam keluarga. Tak heran, adakalanya sebagian perempuan kecil nyali bila dalam bincang keluarga dan masyarakat disapa dengan pertanyaan dan pernyataan tentang pernikahan dan jumlah anak.


Menjadi ibu tidak segampang membangun rumah impian, menyiapkan peralatannya, menata asesorisnya, kemudian menikmatinya. Menjadi ibu  

butuh perjuangan panjang dan berliku. Menjadi ibu harus banyak makan asam garam kehidupan. Begitu pula, menjadi ibu tentunya bukan sekedar melahirkan. Tapi lebih agung daripada itu, karena tugas ibu adalah mencetak generasi mutiara umat.


Banyak kisah heroik yang disajikan para ibu di balik kesuksesan anak-anaknya. Perasaan, pemikiran dan peraturan Islam telah menginspirasi perjalanan mereka menjadi seorang ibu. Sebutlah Ummahatul Mukminiin, shahabiyah, ibu para imamul mujtahidin, para intelektual Muslim, para pemimpin Islam, ulama kharismatik. Bahkan perempuan heroik itu tidak hanya menjadi ibu yang melahirkan generasi cemerlang. Mereka sekaligus seorang istri yang memotivasi para suaminya untuk terus berkarya mempersembahkan yang terbaik untuk umat.


Orang-orang berjiwa besar itu hanya lahir dari rahim seorang perempuan yang mempersembahkan seluruh hidupnya dengan hanya mencintai Allah dan rasulNya. Dari kemuliaan mencintaNya, membuahkan cinta pada sesamanya. Terwujudkan salah satunya dengan berupaya membesarkan anak-anaknya untuk kemuliaan Islam dan kaum Muslimin. Memahamkan hakikat hidup dengan menguatkan aqidah pada anak-anak mereka. Senantiasa mengikatkan aktivitas mereka dengan Syariah, kemudian menyempurnakan impian mereka dengan cita-cita mulia menyambut bisyarah Rasul, yakni meninggikan kalimat "Lailahaillallah Muhammadur Rasulullah". Turut bergerak menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia.


Tentu saja ini bukan kerja ringan, melainkan tugas besar yang harus terwujud dengan banyak mrngumpulkan ilmu, amal ikhlas dan senantiasa mengharap pertolongan Allah semata. Menerima anak sebagai titipan tentu membuat kita lebih hati-hati agar tidak salah mendidiknya. Membentuknya sebagaimana dituntunkan aturan pemilikNya, sehingga sadar diri bahwa kelak ada masa mempertanggungjawabkan seluruh amal, pada diri keluarga dan juga umat.


Berbekal kesadaran ini akan lahir sebuah keadaan sabar, istiqamah dan senantiasa berprasangka baik pada Allah. Inilah yang menjadi inti kekuatan para ibu hebat sekelas Khadijah, Fatimah, Siti Maryam, ibu Muhammad al-Fatih, ibu Imam Syafi'i, ibu Ahmad bin Hanbal dan para ibu hebat selain mereka yang terinspirasi dengan keagungan Islam.


Karenanya, Islam menuntut para perempuan yang diamanahi anak tidak sekedar menjadi perempuan yang melahirkan dan membesarkan dengan pemenuhan materi (ibu biologis). Tapi menjadi perempuan yang melahirkan dan membesarkan dengan ketundukan pada Sang Mahaperkasa, ikut mengemban risalahNya dari gelap menuju cahaya (ibu ideologis).

Maka tidaklah cukup aktivitas di rumah sebagai literasi mendidik generasi ideologis. Hendaknya merekapun mengambil bagian dalam perjuangan publik dengan bertemu para perempuan lainnya. Berupaya sungguh-sungguh membentuk kesadaran umat akan kewajiban berislam, saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.


Semoga Allah menolong kita mampu meneladani mereka, para ibu yang berada di balik kesuksesan anak-anak yang tumbuh hebat. Serta suami-suami yang penuh energi dan karya perjuangan. Hingga pada saatnya, kita digolongkan para perempuan yang memetik kebaikan di dunia dan di akhirat. Aamiin.


Waallahu A'lam.

 
Top