Perempuan Berdaya Hanya Ada Dalam Keluarga Islam


Oleh: Siti Aisah, S. Pd

(Praktisi Pendidikan Anak Usia Dini Kabupaten Subang)


61 tahun sudah sejak penetapan Hari Nasional yang bukan Hari Libur, pemerintah melalui keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 memutuskan bahwasanya tanggal 22 Desember merupakan Hari Ibu. Perempuan Berdaya Indonesia Maju adalah tema peringatan hari ibu tahun ini. Tujuannya tiada lain agar bangsa Indonesia bisa mengenang dan menghargai perjuangan perempuan Indonesia dalam merebut dan mengisi kemerdekaan. 


Salah satu subtema yang dipilih adalah bagaimana Perjuangan Perempuan Masa Kini dengan tema : “Perempuan – Inspirasiku untuk Kemajuan Bangsaku”. Adapun tujuan subtemanya ini meliputi bagaimana memaknai perjuangan perempuan masa kini untuk Indonesia maju dilihat dari 12 critical areas Beijing Plat Form for Action (BPFA). Serta mampu memberikan inspirasi bagi generasi muda demi menerapkan nilai-nilai perjuangan perempuan untuk kemajuan Indonesia masa kini serta upaya Kesetaraan demi mengangkat keberhasilan perempuan Indonesia. (Tribunnews.com, 20/12/2020)


Saat ini, perempuan dituntut agar sejajar dengan laki-laki. Intensitas jumlah perempuan bekerja lebih banyak bila dibanding pria. Beberapa pekerjaan itu pun memiliki tuntutan tersendiri yang harus dipenuhi para perempuan. Tak terkecuali perempuan yang berperan sebagai ibu. Tragisnya saat ini mengalami pergeseran dalam tugasnya. Salah satu dari sekian pekerjaan yang rak bisa dihindarkan adalah perempuan yang bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW). Mereka harus bersusah payah mencari uang sampai ke luar negeri. Walaupun dengan taruhan nyawa sekalipun. 


Secara individual, seorang perempuan khususnya ibu adalah sekolah pertama si buah hati. Sebagai pendidikan pertama, anak semestinya memahami tentang akidah. Mulai dari sisi keislamannya. Sehingga mereka akan paham bahwa Islam menjadi solusi dari segala permasalahan kehidupan. Oleh karena itu, agar perempuan berdaya sebagai ibu berkualitas, istri spesial, anak yang berbakti dan terlebih hamba yang taat hanya terwujud dalam pola pendidikan islam. Adapun secara sosial perempuan pun harus melakukan amar makruf nahi mungkar ditengah-tengah masyarakat. Sehingga eksistensinya pun diakui. Namun semua itu hanya bisa terwujud dengan pendidikan islam. Baik itu dirumah, disekolah ataupun dimasyarakat yang serta merta ada peran penting negara. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan oleh negara. Yaitu:


Pertama, negara sebagai pondasi pembangun dimensi kesehatan mental dan fisik dalam menjaga keimanan. Melalui sistem pendidikan Islam yang akan membentuk proses keimanan yang melibatkan akal akan membentuk pemenuhan kebutuhan naluri beragama, juga menghasilkan keimanan yang sempurna dan menutup semua keraguan (tashdhiq al-jazm). Hal ini karena dari keimanan yang sempurna inilah yang akan memuaskan akal, menentramkan hati, dan sesuai fitrah manusia terhadap kebenaran Islam. Kondisi ini akan membentuk pemenuhan kebutuhan naluri beragama. Sehingga, mampu menjalankan konsekuensi keimanannya. Rasa bergantungnya pada Pencipta menjadi pengukur satu persatu aktivitasnya. Apakah sesuai dengan syariat-Nya atau tidak. Ketika kenyataan hidup tidak sesuai dengan rencana, maka akan terdorong untuk memuhasabahi diri. Sehingga meminimalkan kelalaian yang dilakukan pada syariat Allah.


Kedua, Negara harus menjamin setiap kesehatan individu dan masyarakat. Hal ini merupakan bentuk ketaatan penguasa terhadap syariat-Nya. Negara pun bertanggung jawab penuh mewujudkan kestabilan ekonomi yang menjadi urat nadi kehidupan rakyat. Politik ekonomi Islam meletakkan pengelolaan kekayaan berdasar tiga prinsip kepemilikan yaitu kepemilikan umum, kepemilikan negara, dan kepemilikan individu. 


Jika sistem kehidupan Islam diterapkan, tidak akan terlihat lagi seorang ibu hamil sibuk mengumpulkan dana persiapan persalinan. Ibu hamil akan lebih berkonsentrasi terhadap kesehatan diri dan janinnya. Menjaga kedekatan pada Allah dengan memperbanyak dzikir dan membaca tilawah. Tidak lagi kita dapatkan keluarga condong mencari pertolongan persalinan pada tenaga tidak terdidik. Namun, akan menuju tempat pelayanan persalinan terbaik didampingi tenaga kesehatan yang ramah dan terlatih. Jika akses pelayanan terbaik masih sulit, akan dihadirkan rumah sakit keliling tanpa mengurangi kualitas pelayanan. Sebagaimana yang terjadi pada masa Sultan Mahmud (511-525 H). Ibu hamil tidak lagi khawatir kekurangan asupan nutrisi dan gizi. Negaralah  yang menyiapkan menu diet seimbang dan bergizi tinggi melalui ahli gizi yang kompeten. 

Itulah sistem Khilafah Islamiyah yang membentangkan jalan menuju kesejahteraan dan kemuliaan umat secara universal. Sistem itulah yang diperlukan saat ini. Bersegeralah menegakkannya untuk membangun negeri tercinta ini. Menerapkan syariat Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Aamiin. 


 Wallahu a’lam bi-ashshawab.

 
Top