Oleh : Apt. Dian Budiarti, S.Farm

Muslimah Perindu Surga


Kasus pemenggalan seorang guru oleh muridnya di Perancis bulan lalu akibat sang guru menunjukan gambar karikatur dari Rasulullah saw. Berbuntut pada pernyataan kontroversial Presiden Perancis, Emmanuel Macron. 

Kali ini Macron kembali membuat kontroversi dengan meminta para pemimpin muslim menerima 'piagam nilai-nilai Republik', sebagai bagian dari tindakan keras terhadap Islam radikal. Macron memberikan ultimatum 15 hari kepada Dewan Kepercayaan Muslim Prancis (CFCM) untuk menerima piagam tersebut. (Republika.com, 20/11/2020)

Piagam tersebut akan menyatakan Islam adalah agama dan bukan gerakan politik, di samping juga melarang campur tangan asing dalam kelompok muslim. Dikutip dari cnbcindonesia.com (22/11/2020). 

Pembentukan Dewan Imam Nasional juga disepakati. CFCM sendiri dilaporkan telah sepakat membentuk Dewan Imam Nasional, yang kabarnya akan memberikan akreditasi resmi bagi para imam yang dapat ditarik. Dikutip dari Republika.com, Jumat (20/11).

Seorang pembela hak asasi manusia Perancis yang memimpin LSM 'Committee for Justice & Liberties For All' Yasser Louati mengatakan, rancangan undang-undang yang akan dibahas bulan depan, disebutkan bahwa pemerintah akan membubarkan LSM muslim jika "tindakan mereka mengancam martabat manusia" atau jika mereka "melakukan tekanan psikologis atau fisik pada orang lain." (cnbcindonesia.com, 22/11/20) 

Ia juga mengatakan bahwa, langkah terbaru Macron dinilai "mengalihkan perhatian publik dari kegagalannya sendiri dalam mencegah serangan". Hal ini tidak lain berkaitan dengan pemilu 2022 mendatang. (cnbcindonesia.com 22/11/20)

Perancis memiliki populasi muslim terbesar di Eropa. Namun, masyarakat muslim Perancis menerima tekanan yang lebih besar dibandingkan saudaranya yang lain di Eropa. Kebijakan dan anti-Islam yang diadopsi oleh para pejabat Perancis, menjadi bukti bahwa negara tersebut menjadi bentuk representatif permusuhan dunia Barat terhadap Islam politk. 

Kezaliman yang terjadi di Perancis tidak lepas dari sistem sekularisme yang menjadi pusat identitas nasional negara. Pada dasarnya, Presiden Perancis menyadari akan pengaruh umat Islam sehingga ia berusaha untuk membatasi kegiatan politik dan sosial mereka, dengan menghentikan negara-negara muslim lain untuk membantu komunitas muslim Perancis yang terkepung dalam apa yang dipandang Paris sebagai "campur tangan asing".

Serta menekan Dewan Muslim Perancis untuk memberikan pernyataan bahwa Islam hanyalah agama, bukan sebuah gerakan politik. Padahal Islam dan politik tidak bisa dipisahkan. Ketika Islam disekularisasi oleh para musuhnya justru Islam menjadi lemah dan berujung pada kemunduran dunia Islam dan runtuhnya kekhilafahan serta umat tak lagi memiliki perisai pelindung. 

Sehingga ketika terjadinya islamofobia seperti saat ini, tak ada yang mampu membela umat dan melindunginya. Sudah seharusnya kaum muslimin untuk kembali pada identitas Islam yang merupakan ideologi sempurna. 

Sebagai ideologi, Islam akan menjadikan masalah politik sebagai bagian terpenting untuk mengembalikan kemuliaan Islam serta terciptanya perisai untuk umat dan menghentikan serangan serangan Barat terhadap Islam. Hal ini hanya dapat terjadi jika Islam politik dilaksanakan dalam bingkai khilafah ala minhajin nubuwwah. 

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top