Pendidikan Islam Solusi di Tengah Pandemi


Oleh : Nisa Rahmi Fadhilah, S.Pd

Member Akademi Menulis Kreatif


Tak terasa, sudah 1 semester tahun ajaran 2020-2021 sekolah-sekolah di Indonesia khususnya melaksanakan pembelajaran daring. Kondisi ini terjadi karena sampai saat ini belum ada titik terang kapan berakhirnya pandemi Covid-19.

Bukan kabar bahagia yang kami dengar, tetapi semakin hari kasus Covid-19 ini terus bertambah dan meresahkan masyarakat. Dilansir oleh pikobar.jabarprov.go.id hingga tanggal 1 Desember 2020 sebanyak 538.883 kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19. Ini bukan hanya sekadar angka melainkan jiwa masyarakat Indonesia yang terancam virus Corona.

Alih-alih bukan semakin memperketat ikat pinggang melainkan mulai melepaskan kebijakan yang dibuat. Dilansir oleh cnnindonesia.com, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengizinkan pemerintah daerah untuk memutuskan pembukaan atau kegiatan belajar tatap muka di sekolah, di seluruh zona risiko virus Corona mulai Januari 2021.

Meski demikian, ia menegaskan orangtua masing-masing siswa dibebaskan untuk menentukan apakah anaknya diperbolehkan ikut masuk sekolah atau tidak. Sekalipun, sekolah dan daerah tertentu telah memutuskan untuk membuka kembali kegiatan belajar tatap muka.

Keputusan tersebut didukung oleh Ketua Komisi X DPR RI dengan beberapa syarat, salah satunya adalah dilakukannya protokol kesehatan secara ketat. Ia mengatakan pembukaan tatap muka memang menjadi kebutuhan, terutama di daerah-daerah. Hal ini terjadi karena pola pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak bisa berjalan efektif karena minimnya sarana prasarana pendukung, seperti tidak adanya gawai dari siswa dan akses internet yang tidak merata.

Menurutnya kondisi tersebut akan memunculkan efek domino di mana peserta didik akan kehilangan kompetensi sesuai usia mereka. Lebih parahnya lagi, peserta didik banyak yang harus putus sekolah karena tidak mempunyai biaya atau terpaksa harus membantu orantua mereka. Pembukaan sekolah dengan pola tatap muka, Ia akan mengembalikan ekosistem pembelajaran bagi para peserta didik. Hampir satu tahun ini, sebagian peserta didik tidak merasakan hawa dan nuansa sekolah tatap muka.

Ia menegaskan bahwa pemerintah harus memastikan syarat-syarat pembukaan sekolah tatap muka terpenuhi. Di antaranya ketersediaan bilik disinfektan, sabun dan wastafel untuk cuci tangan, hingga pola pembelajaran yang fleksibel. Penyelenggara sekolah juga harus memastikan bahwa physical distancing benar-benar diterapkan dengan mengatur letak duduk siswa dalam kelas.

Dilansir oleh cnnindonesia.com, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan masih banyak sekolah yang belum siap secara protokol kesehatan dalam penerapan kembali pembelajaran tatap muka.

Sementara Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mengkritik penggunaan zonasi sebagai tolak ukur pembukaan sekolah. Sebab menurut pantauan organisasi profesi ini, banyak pula sekolah yang melanggar ketentuan pembukaan sekolah akan tetapi bebas dari sanksi.

Sehingga, kebijakan ini menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan. Tentu hal ini memperlihatkan bahwa kebijakan hanya bersifat sektoral, tidak memperhatikan seluruh aspek yang terkait.

Kebolehan pembukaan sekolah pada Januari 2021 tidak diiringi dengan kemajuan dalam penanganan Covid-19, pandemi ini merupakn kunci utama dari berbagai problem, ketika penanganan Covid-19 sudah tepat, kasus menurun, serta kondisi membaik pasti di sektor pendidikan memulai tatap muka dengan nyaman tidak dengan rasa was-was atau diselumuti rasa dilema seperti saat ini.

Dalam Islam, kurikulum yang diemban menggunakan kurikulum yang sahih. Sejatinya kurikulum sahih sejatinya akan bisa berlaku baik pada saat pandemi maupun bukan, yang membedakan hanyalah teknis pelaksanaannya saja. Adapun asas, tujuan, metode, dan konten dasarnya tetap. Inilah yang dihadirkan sistem pendidikan Islam dengan kurikulumnya.

Tujuan kurikulum pun harus mengacu pada aturan Islam, yakni membentuk kepribadian islami dan membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan (tsaqafah Islam maupun ilmu kehidupan), sehingga mampu menyelesaikan tantangan kehidupan.

Dengan paradigma di atas, negara tidak akan mengacu pada capaian pendidikan arahan Barat yang sekuler. Kurikulum akan diarahkan untuk membentuk kepribadian islami.

Secara produktif menghasilkan sumber daya manusia yang andal menghadapi tantangan pandemi. Bukan saja semangat untuk terus berjuang mencari jalan keluar sesuai syariat, mereka juga amanah menjalankan hukum Allah dalam menangani wabah.

Kurikulum pendidikan Islam berlaku seragam dalam semua jenjang. Teknis pelaksanaannya tentu menyesuaikan kondisi. Apabila terjadi pandemi, asas, tujuan, dan metode tak akan berubah. Konten rinciannya saja yang akan menyesuaikan.

Metode pembelajarannya pun sahih. Penyampaian materi pembelajaran oleh guru dan penerimaan oleh siswa harus terjadi proses berpikir. Guru harus mampu menggambarkan fakta (ilmu yang disampaikan) kepada siswa, yakni proses penerimaan yang disertai proses berpikir (talqiyan fikriyan) yang berhasil memengaruhi perilaku.

Dalam kondisi pandemi, prinsip ini sangat penting diperhatikan. Standar keberhasilan belajar bukanlah nilai, tapi perilaku dan kemampuan memahami ilmu untuk diamalkan. Hal ini akan menghasilkan dorongan amal supercerdas dalam menghadapi tantangan pandemi, misalnya penemuan berbagai teknologi antiwabah dan sebagainya. 

Wallahu a’lam bishshawab[]