Oleh : Durrotul Hikmah 

(Aktivis Dakwah)

Pandemi Covid-19  semakin hari kian meningkat. Hal ini membuat semua orang semakin pusing. Pasalnya, virus Corona yang tak kunjung menghilang membuat sejumlah usaha terpaksa gulung tikar. Sejak pandemi melanda, perekonomian semakin anjlok, yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang makin menurun tajam dan pengangguran yang makin hari melonjak apalagi yang terjadi di Kalsel sekarang ini.

Kepala BPS Kalsel, Moh. Edy Mahmud mengatakan, pengangguran yang mereka catat merupakan masyarakat yang masuk dalam angkatan kerja berusia di atas 15 tahun. "Penduduk angkatan kerja di Kalsel saat ini ada 2,19 juta. Terdiri dari 2,08 juta orang yang bekerja dan 103,6 ribu orang yang menganggur," katanya dalam Kanal Youtube BPS Kalsel.(Kalsel.prokal.com, 6/11/2020).

Ketua Yayasan Perlindungan Konsumen Indonesia (YLK) Kalsel, Achmad Murjani mengatakan "Banyak pekerja dirumahkan dengan alasan biaya operasional inilah penyebab utama bertambahnya jumlah pengangguran di Kalsel". Dimana, angka pengangguran Kalsel meningkat sebesar 70 %, jika dibanding sebelum masa pandemi. (Apahabar.com, Selasa 29/9/2020).

Pada masa pendemi ini memang membuat stres meningkat, pasalnya selain krisis kesehatan secara global, Corona ini juga menyebabkan terjadinya  krisis ekonomi. Sejumlah karyawan terpaksa harus di PHK yang di akibatkan karena krisis perekonomian yang kian menajam. Itulah yang menjadi pemicu utamanya. Akibat dari krisis inilah ancaman kehidupan sosial kepada masyarakat semakin membesar, ada yang pusing bahkan sampai mengalami gangguan jiwa.

Berbagai bantuan yang datang dari pemerintah, sebagai bagian dari  jaring pengaman sosial, belum bisa menjadi solusi, karena sama sekali tidak membuat ekonomi masyarakat membaik. Karena bantuan yang diberikan oleh pemerintah belum merata, hanya sebagian rakyat saja yang mendapatkannya. Padahal hampir seluruh rakyat Indonesia sangat membutuhkannya. Apalagi pada masa pandemi ini, untuk menyambung hidup mereka sangat kesulitan. 

Hal ini membuktikan bahwa sistem yang ada saat ini belum mampu mengatasi dan menangani pandemi. Sehingga menimbulkan efek jangka panjang yang merambah ke sektor  ekonomi rakyatnya. 

Sistem kapitalis yang diterapkan saat ini menyebabkan mudahnya perekonomian dalam negeri maupun dunia tergoncang. Inilah wajah asli kapitalisme yang tak mampu menyelesaikan persoalan umat. 

Jika kondisi tidak kunjung membaik lalu apa yang bisa diharapkan dari sistem saat ini? Hanya ketidaksejahteraan yang ada sekarang.

Saatnya beralih kepada sistem yang sempurna yakni sistem Islam dibawah naungan Khilafah. Sistem Sempurna ini mampu menyelesaikan masalah umat. 

Dalam Islam, penanganan pandemi yang tepat sangat mampu menekan tingkat kematian. Sehingga ekonomi rakyat tetap berjalan dan kebutuhan mereka juga pastinya akan terpenuhi sesuai dengan syariat. Pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab pernah mengalami krisis ekonomi yang hebat.

Rakyat mengalami kelaparan massal. Jumlah yang sakit pun mencapai ribuan. Karena roda ekonomi berjalan terseok-seok, bahkan sudah mencapai level tingkat tinggi. Lantas bagaimana Khalifah Umar bin al-Khaththab menanganinya? Hal pertama yang dilakukan adalah menjadi teladan terbaik bagi rakyatnya dalam menghadapi krisis ekonomi ini. Ia mengambil langkah untuk tidak bergaya hidup mewah. Musibah yang melanda, juga membuat khalifah semakin mendekatkan diri kepada Allah, meminta pertolongan Allah Swt Pemilik alam seisinya. 

Kehidupan umat pada khilafah ini benar-benar terjamin dan pastinya sangat menyejahterakan umatnya. Dengan demikian, konsep Islam mampu mengatasi resesi ekonomi dengan solusi tuntasnya bukan dengan solusi semaunya aja. Allah pun memilihkan pemimpin amanah dan mampu menjalankan tugasnya sebagai pelayan sekaligus pelindung manusia. Karena itu mari berbenah menuju negara yang berlandaskan Islam dibawah naungan khilafah.

Allah Swt berfirman :

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatnya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk". (TQS Ali Imran [3]: 103). 

Tidak kah kita rindu hidup dalam suasana seperti itu?

Wallahu a'lam bishawab

 
Top