Oleh : Ummu Yusuf


Nyawa adalah anugerah Allah Swt. yang begitu dijaga dan dilindungi dalam Islam. Tidak ada agama yang begitu menghargai dan melindungi nyawa manusia melebihi Islam. Darah dan jiwa manusia mendapatkan perlindungan kuat. Jangankan pembunuhan, menimpakan bahaya dan kesusahan kepada sesama juga diharamkan Islam. 

Tindakan mengacungkan senjata tajam atau senjata apa saja, atau sesuatu yang sekiranya mengancam keselamatan orang lain, adalah haram walaupun dilakukan dengan main-main, hukumnya tetap haram. Jika mengarahkan senjata tanpa niat mencelakakan saja diharamkan, apalagi secara sengaja menakut-nakuti dan mengancam orang beriman dengan senjata. Allah Swt. mengancam para pelakunya dengan ancaman yang keras. 

Harga nyawa manusia, apalagi orang Mukmin, amatlah mahal di sisi Allah Swt. Karena itulah darah seorang Mukmin mesti terjaga kecuali dengan alasan yang haq.

Ancaman Allah Swt. dan Rasul-Nya terhadap pelaku pembunuhan, terutama kepada orang mukmin: 

1. Pelakunya dinilai telah melakukan dosa besar. Para ulama menyatakan bahwa seorang muslim bisa jatuh dalam kekufuran andaikan ia menghalalkan darah seorang mukmin yang sebenarnya terjaga. Namun, jika semata karena hawa nafsu amarah, misalnya, maka tidak menyebabkan pelakunya _riddah,_ keluar dari agama Allah Swt., meski dia tetap berdosa besar.

2. Pelakunya diancam dengan Neraka Jahanam dan dia kekal di dalamnya.

3. Jika pelakunya banyak, maka seluruh pelakunya akan diazab dengan keras.

3. Para pembunuh akan dituntut pada Hari Kiamat oleh para korban pembunuhan mereka. Di dunia, sering para pembunuh kaum mukmin lolos dari jerat hukum atau malah mendapatkan pembelaan dan perlindungan hukum dari para penguasa. Namun, tidak demikian pada hari akhir. 

4. Para pelaku pembunuhan yang bergembira dengan tindak pembunuhan mereka tidak berhak mendapatkan pengampunan dari Allah Swt. 

Untuk mencegah pembunuhan yang disengaja, Islam memberikan sanksi yang keras berupa hukuman qishash kepada pelaku pembunuhan. Qishash adalah tuntutan hukuman mati atas pembunuh karena permintaan keluarga korban. Hukum ini memberikan rasa keadilan bagi keluarga yang ditinggalkan, sekaligus menjadi pencegah tindakan kejahatan serupa. Namun jika keluarga korban tidak menghendaki qishash, mereka juga bisa menuntut diyat atau denda pada para pelaku pembunuhan. Diyat yang dimaksud adalah 100 ekor unta, 40 di antaranya dalam keadaan bunting. 

Begitulah mulianya syariat Islam dalam melindungi nyawa manusia. Karena itu sepanjang negara Islam tegak sejak Nabi saw. di Madinah, kemudian dilanjutkan oleh Khulafa’ ar-Rasyidin, kaum muslim mendapatkan perlindungan yang luar biasa. Tidak setetes pun darah tumpah melainkan ada pembelaan dari negara Islam. Bahkan para pelaku kriminal pun masih mendapatkan perlindungan sampai kemudian terbukti mereka bersalah di pengadilan dan layak mendapatkan hukuman setimpal, termasuk hukuman mati.

Keadaan saat ini betapa nyawa muslim tidak terjaga dan tidak mendapat perlindungan dan pembelaan. Bahkan seolah-olah ada opini bahwa darah seorang nuslim itu murah dan boleh ditumpahkan kapan saja. Cukup melabeli mereka dengan sebutan radikal atau teroris, maka kehormatan dan darah mereka bisa dirusak kapan saja. Alhasil, terbukti bahwa sistem sekular yang diterapkan saat ini —dengan konsep HAM dan demokrasinya— telah gagal melindungi kehormatan dan nyawa manusia. Saatnya sistem sekular dicampakkan. Saatnya umat kembali pada sistem Islam yang menerapkan syariat Islam secara _kafah_ dalam seluruh aspek kehidupan

 
Top