Oleh : Nelliya Azzahra


Sebuah kenyataan menyayat hati kala seorang ibu di Nias Utara menghabisi nyawa ketiga anak kandungnya sendiri. Alangkah hancur perasaan sang ibu ketika tangan yang dulu membelai penuh kasih, tapi tangan itu pula yang mencabut nyawa sang buah hati. 

Kewarasan sang ibu tergerus seiring himpitan dan beban ekonomi yang semakin berat. Tersangka gelap mata, sehingga setan merasuki jiwa dan pikirannya. Tanpa belas kasih dia menjagal ketiga anaknya.

Selanjutnya setelah berhasil menggorok leher ketiga anaknya, dia pun berniat buhuh diri seperti yang dituturkan Perwira Urusan Hubungan Masyarakat (Paur Humas) Polres Nias, Aiptu Yadsen Hulu, kepada wartawan Viva.co.id, Minggu siang 13 Desember 2020.

Yadsen menjelaskan, tersangka punya niat bunuh diri setelah aksi pembunuhan terhadap tiga anak kandungnya, dengan cara menyayat lehernya sendiri dengan menggunakan parang.

"Namun, niatnya tersebut tidak jadi, karena dihalangi atau diselamatkan oleh suaminya, Nofedi Lahagu alias Ama Fina, dan hanya mengalami luka pada bagian leher depan," tutur Yadsen.

Kejadian ini semakin membuka mata kita, bahwa keadaan masyarakat hari ini tidak baik-baik saja. Baik psikis maupun fisik. Jauh dari kata aman apatah lagi sejahtera. Kesulitan ekonomi mencabut kewarasan membuat hal mengerikan seperti ini bisa saja terjadi. Naluri seorang ibu yang seharusnya menjaga dan menyayangi anak-anaknya telah dicabut paksa. Terganggunya kesehatan mental seseorang bisa mendorong pada pada perbuatan nekat. Seperti apa yang ibu ini lakukan.

Negara seharusnya memberikan jaminan keamanan pada setiap masyarakatnya. Berkaca dari kejadian ini, artinya negara gagal memberikan perlindungan baik psikis maupun fisik. Rakyat dibiarkan menanggung beban hidup yang semakin hari kian berat. Kehidupan yang semakin mencekik tanpa solusi apa pun.

Sikap penguasa kental sekali dengan perhitungan-perhitungan ekonomi ketika dihadapkan pada kondisi harus melayani rakyatnya tanpa pamrih. 

Rasulullah saw. menunjukkan betapa pentingnya pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok bagi individu dan umat itu. Beliau menjelaskan bahwa ketersedian kebutuhan-kebutuhan itu bagi seseorang membuat dirinya seperti memperoleh dunia secara keseluruhan. Ini sebagai kiasan dari pentingnya kebutuhan-kebutuhan ini.

"Siapa dari kalian yang bangun pagi dalam keadaan hatinya aman/damai, sehat badannya dan memiliki makan hariannya, maka seolah-olah telah dikumpulkan dunia untuk dirinya." (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad, al-Qudha’i dalam Musnad Syihâb, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Îmân dan al-Humaidi dalam Musnad al-Humaidi)

Islam, telah mencontohkan bagaimana sebuah negara memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya. 

Islam telah mewajibkan terealisasinya jaminan atas pemenuhan kebutuhan pokok individu dan masyarakat. Islam memberikan serangkaian hukum syariah untuk menjamin pemenuhan kebutuhan pokok berupa pangan, papan dan sandang bagi tiap individu rakyat dengan mekanisme langsung dan tak langsung; oleh laki-laki, keluarga, masyarakat dan negara.

Dengan terjaminnya kebutuhan dasar masyarakat, otomatis rakyat tidak merasakan dilema himpitan dan beban hidup yang membuat mereka tidak lagi fokus pada kewarasan.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top