Nasib Rohingya dalam Belenggu Nasionalisme


Oleh : Inayah

Ibu Rumah Tangga Dan Pegiat Dakwah


Allah Swt. berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. al-Hujurat : 10)

Ayat di atas menggambarkan persaudaraan dilandasi oleh kesamaan akidah atau keyakinan. Dan layaknya saudara, maka ia akan merasakan penderitaan atau kesusahan saudaranya. Ia akan mencintai saudaranya dan tidak akan menimpakan kesusahan pada saudaranya.

Dunia telah menyaksikan derita kaum muslim Rohingya pada beberapa tahun terakhir. Dengan meningkatnya permusuhan terhadap mereka, sementara pemimpin menolak untuk membantu mereka dan negara yang terdekat pun menolak untuk menolongnya.

Tapi yang dialami saudara kita yaitu etnis Rohingya yang pada faktanya mereka terisolasi dari negaranya sendiri bahkan terusir dari tanah kelahirannya. Terlunta-lunta mencari suaka dari negeri yang satu ke negeri yang lain.

Bahkan Bangladesh mulai memindahkan mereka ke pulau terpencil, meskipun ada kekhawatiran tentang keamanan mereka. Tapi Bangladesh telah memindahkan sekitar 1.600 pengungsi Rohingya ke Bhasan Chan, pulau terpencil yang rentan terkena bencana alam seperti banjir dan tidak cocok untuk dijadikan pemukiman. (viva.co.id, Jumat, 04/12/ 2020)

Menurut Bangladesh bahwa semua pengungsi yang dipindahkan sudah memberikan persetujuanya. Namun kelompok pegiat hak asasi manusia telah menyuarakan keprihatinan bahwa banyak yang dipindahkan ke pulau itu di luar keinginan mereka. 

Pengungsi Rohingya di Bangladesh mengatakan kepada BBC pada bulan Oktober bahwa mereka tidak ingin dipindahkan ke pulau tersebut. 

Kelompok kemanusiaan dan hak asasi manusia telah mendesak penghentian pengiriman etnis Rohingya ke pulau terpencil tersebut.

Penderitaan Muslim Rohingya adalah gambaran yang jelas atas kebobrokan kehidupan nasionalisme yang diagung-agungkan saat ini. Para pemimpin muslim justru menutup mata dan tidak memperjuangkan kedaulatan bagi muslim Rohingya. Nasionalisme telah meracuni dan telah menghancurkan ukhuwah Islamiyah sehingga para pemimpin muslim terlebih kawasan ASEAN telah menolak dan  berlepas diri dari kewajiban membantu saudaranya. 

Terlebih nasionalisme telah menjadikan pemimpin muslim berprinsip politik yang tidak mau mencampuri urusan dalam negeri negara lain di wilayah ASEAN. Maka tidak ada pembelaan bahkan sekadar menolak melakukan perlindungan terhadap saudaranya.

Diperkuat dengan penerapan sistem kapitalis demokrasi yang melahirkan pemimpin muslim yang lemah, dalam mewujudkan kedaulatan untuk membebaskn Rohingya. Bahkan tidak ada desakan untuk  menghentikan perlakuan yang tidak manusiawi terhadap etnis Rohingya. Termasuk dari  lembaga internasional seperti PBB yang digadang-gadang sebagai organisasi internasional, agen perdamaian dunia. Akan tetapi, PBB hanya merespon dan memberi komentar kosong sambil memastikan Burma untuk tidak melakukan kekerasan secara militer. PBB hanya menonton derita yang terjadi, seraya diam tanpa melakukan apa pun. Hanya sekadar menyampaikan berita tentang kekejaman yang dialami oleh etnis muslim Rohingya.

Inilah potret kehidupan manusia di dunia yang didominasi  kapitalisme. Ia mengabaikan nilai-nilai  kemanusiaan dan martabat. Semua yang ada di dunia diam, tidak bergerak untuk membantu saudaranya yang tertindas. Kecuali jika ada keuntungan ekonomi dan politik yang bisa didapat.

Sejatinya nestapa yang menimpa umat sedunia termasuk Rohingya bisa diatasi dengan adanya bantuan dari negara-negara terdekat terutama kawasan ASEAN. 

Sejatinya yang tertindas hanya dapat diselesaikan jika mereka memiliki junnah (penjaga). Yang akan menjaga dan memberi perlindungan secara menyeluruh. Baik yang mengalami kekejaman ataupun ketidakadilan dalam kehidupan, yaitu adanya junnah.  

Junnah ini adalah solusi yang hakiki bagi penyelesaian kasus Rohingya, khususnya ataupun permasalahan hidup lainnya yang lahir dari sistem Islam. Karena berasal dari Allah Swt. Dalam Islam tidak ada konsep nation state, tidak ada ashabiyah (cinta golongan) atau nasionalisme yang telah menyebabkan negara-negara lain kesulitan menolong muslim Rohingya.

Karena seperti hadis Rasulullah saw. yang menyebutkan bahwa muslim itu ibarat satu tubuh. Jadi perbatasan wilayah bukanlah alasan untuk tidak mau menolong sesama muslim.

”Janganlah kalian saling mendengki, saling menipu, saling memarahi dan saling membenci muslim yang satu adalah saudara muslim yang lain. Oleh karena itu ia tidak boleh menganiaya, dan membiarkan dan menghinanya. Setiap muslim haram mengganggu darahnya, hartanya dan kehormatanya.” (HR. Muslim)

Masalah Rohingya tidak bisa diselesaikan hanya dengan upaya repatriasi dari ASEAN. Sudah saatnya seruan “Khilafah untuk Rohingya” kita gaungkan ke seluruh dunia. Karena hanya khilafah yang akan menolong warga muslim Rohingya dari ketertindasan selama ini.

Negara khilafah yang bisa menerapkan secara nyata konsep bahwa muslim yang satu dengan muslim yang lain bagaikan satu tubuh. Karena tidak ada lagi sekat-sekat kebangsaan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.,

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang dengan sesama mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan, baik (sakit) demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dengan demikian khilafah akan melindungi darah seluruh kaum muslim, melindungi mereka dari segala bentuk penindasan terutama dari orang kafir.

“Imam atau khalifah laksana perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng.” (HR. Bukhari-Muslim)

Makna al-Imam junnatun (imam/khalifah itu laksana perisai) dijelaskan oleh Imam an-Nawawi, maksudnya ibarat tameng. Karena dia akan mencegah musuh menyerang dan menyakiti kaum muslim. Mencegah masyarakat satu dengan yang lain dari serangan. Melindungi keutuhan Islam. Dia disegani masyarakat dan mereka pun takut terhadap kekuatannya.”

Di bawah naungan khilafah, 1,8 miliar umat Islam bisa bersatu dan menjadi kuat. Sehingga perlindungan terhadap harkat dan martabat umat Islam di berbagai wilayah termasuk muslim Rohingya dapat diwujudkan secara nyata dalam kehidupan.

Wallahu a'lam bishshawab.