Oleh : Dra. Hj. Ummu Salma

Pendidik Generasi


Allah Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung. Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan salat, maka tidakkah kamu mau berhenti?” (QS. al-Maidah : 90-91)

Haram, satu kata untuk jenis minuman beralkohol (Minol). Keharamannya bukan karena Minol ini bisa memabukkan bagi para peminumnya, melainkan karena Allah Swt. telah mengharamkannya. Konsekuensi keimanan kita terhadap firman Allah Swt., dalam QS. al-Maidah ayat 90-91, menuntut kita untuk bersikap sami’na wa atha’na, atau rida terhadap ketetapan Allah Swt. Selain keharamannya yang sudah jelas, akibat yang ditimbulkannya pun sudah jelas, yakni akan menciptakan kerusakan sosial dan melalaikan dari mengingat Allah Swt. 

Hanya saja, sejelas apa pun keharamannya, fakta di masyarakat masih banyak yang  mengonsumsi Minol. Tidak terkecuali, kalangan atas hingga kalangan masyarakat jelata, mereka masih banyak yang mengonsumsi Minol. Meskipun belum ada hasil riset ilmiah, banyak tindak kejahatan bermula dari kebiasaan minum Minol. Sebagaimana kata Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Awi Setiyono. Selama 3 tahun terakhir 2018-2020 sudah ada 223 kasus kejahatan yang dimulai dari minuman alkohol. Kasus pengadaan minol oplosan pun mencapai 1.045 dalam kurun 3 tahun. (Jawapos.com, 14/11/20)

Tidak hanya itu, kasus kejahatan akibat Minol sudah lama terjadi. Pada 2011 saja, menurut Kepala Bidang Humas Polda Sulut Ajun Komisaris Besar Benny Bela di Sulawesi Utara, Manado, hampir 70% tindak kekerasan yang terjadi akibat mabuk Minol. Kejahatan ini hanya di satu tempat saja. Di tempat lain bisa jadi lebih parah lagi. (Kompas.com, 21/01/20)

Di AS, satu lembaga yang menangani kecanduan alkohol dan obat-obat terlarang, NCADD (National Council on Alcoholism and Drug Dependence), pernah merilis laporan 40% kekerasan terjadi disebabkan faktor alkohol. Lembaga itu melaporkan setiap tahunnya ada sekitar 3 juta tindak kekerasan. Para pelakunya dalam pengaruh minuman keras. Kejahatan itu meliputi pemerkosaan, pelecehan seksual, perampokan dan segala bentuk kekerasan mulai yang ringan hingga yang berat. (MMC)

Akibat Diterapkannya Sistem Rusak

Begitulah fakta kemadaratan yang ditimbulkan oleh Minol bagi manusia. Semua orang seharusnya mampu mengindra bahwa barang yang satu ini sungguh lebih banyak madaratnya dibandingkan dengan manfaatnya.

Sistem kehidupan ini dibangun dengan sistem demokrasi kapitalis, yang menjadikan manfaat sebagai asasnya. Sistem ekonomi kapitalis juga memiliki prinsip bahwa setiap barang atau jasa bisa dikategorikan sebagai komoditas. Apa pun yang menjadi permintaan pasar, maka barang itu akan diadakan, tanpa memperhatikan apakah barang atau jasa itu haram, merusak, dan banyak kemudaratan bagi umat. Contohnya Minol.

Minol tidak hanya merusak pribadi peminumnya, tetapi juga berpotensi menciptakan kerusakan pada orang lain.

Mereka yang sudah tertutup akalnya oleh khamr/Minol menjadi hilang kesadaran. Akibatnya, ia bisa bermusuhan dengan saudaranya, melakukan kekerasan, termasuk membunuh dan memperkosa. Pantas jika Nabi saw. menyebut khamr sebagai ummul khaba’its (induk dari segala kejahatan): "Khamr adalah induk dari kekejian dan dosa yang paling besar. Siapa saja yang meminum khamr, ia bisa berzina dengan ibunya, saudari ibunya dan saudari ayahnya." (HR. ath-Thabrani)

Perjalanan Pembahasan RUU Minuman Beralkohol (Minol)

RUU Larangan Minuman Beralkohol pertama kali diusung oleh DPR pada tahun 2009, tetapi tidak disahkan hingga dibahas lagi pada periode 2014 dan 2019.

Pembahasan ini kembali berhenti karena adanya perbedaan pendapat antara pengusung RUU yang ingin melarang minuman beralkohol dan pemerintah yang menginginkan konsumsi alkohol tidak dilarang tetapi diatur.

RUU Minuman Beralkohol tahun 2020 kembali muncul pembahasannya yakni yang diusung oleh PPP, PKS dan GERINDRA. Hanya saja, RUU Minol yang diajukan DPR menuai kontroversi. Ternyata tidak semua pihak menyetujui pelarangan minuman beralkohol. Padahal sebagaimana disampaikan oleh sejumlah fraksi di DPR yang mengusulkannya, RUU Larangan Minuman Beralkohol (RUU Minol) ini adalah untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif yang timbul karena minuman beralkohol. 

Berdasarkan temuan kepolisian, banyak tindakan kriminal dilatarbelakangi minuman keras. 

Para penentang RUU ini berargumen sebaliknya. Menurut mereka, tidak ada korelasi minuman beralkohol dengan tindak kriminal. RUU ini juga dianggap mengancam sejumlah sektor yang berhubungan dengan sejumlah kepentingan bisnis seperti industri minuman keras, pariwisata dan perhotelan. 

Pro kontra terhadap UU apa pun yang disusun oleh DPR selalu saja terjadi. Contoh UU Pornografi dan Pornoaksi, UU IT, serta yang terbaru UU Cipta Kerja (Omni Bus Law) hingga saat ini belum tuntas.

Tampaknya UU yang disusun saat ini tidak mampu untuk mengatasi berbagai persoalan umat. Alih-alih Minol ini diberantas (dihentikan peredarannya), malah dijadikan komoditas barang dagangan yang mampu menghasilkan devisa bagi negara. Artinya, dari produksi ini ikut menyumbang pembiayaan negara. Naudzubullahhimindzalik.

Mungkinkah ilusi Demokrasi akan mampu menyelesaikan masalah?

Bagaimana dengan solusi Islam?

Solusi Islam Terkait Masalah Minol

Islam menjadikan iman sebagai dasar segala keputusan. Segala aturan berada di tangan Asy-Syari’ (pembuat hukum) yang dilaksanakan dalam sistem pemerintahan Islam, yakni khilafah.

Dalam khilafah, kedaulatan ada di tangan Allah Swt., bukan manusia. Semua itu diambil dari akidah Islam sendiri, sehingga aturan yang dibuat pun akan berdasarkan akidah Islam. Halal, haram, baik maupun buruk, ditentukan hukum syariat.

Khilafah akan membuat aturan mengenai Minol ini. Mulai dari melarang pabrik-pabrik Minol berdiri, melarang peredarannya di kalangan masyarakat, hingga memberikan sanksi kepada orang muslim yang mengonsumsinya.

Sementara bagi nonmuslim, jika syariat mereka tak melarang penggunaan Minol, diperbolehkan untuk mengonsumsinya. Hanya saja produksi, peredaran, dan konsumsi Minol hanya dibatasi di kalangan mereka, tidak boleh diperjualbelikan secara umum. Jika mereka melanggar, akan mendapatkan sanksi.

Wallahu a’lam bishshawab.

 
Top