Merindu Keadilan dengan Revolusi Akhlak?


Oleh : Pri Afifah

Anggota Komunitas Peduli Generasi


10 November 2020, Habib Rizieq Syihab (HRS) dijadwalkan tiba di Indonesia. Habib Rizieq telah meninggalkan Tanah Air dan tinggal di Arab Saudi selama tiga setengah tahun.

Habib Rizieq bertolak dari Arab Saudi ke Indonesia menumpangi pesawat Saudia pukul 19.30 waktu setempat. Pesawat yang ditumpangi Habib Rizieq diperkirakan akan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada 10 November sekitar pukul 09.00 WIB.

Gempita penyambutan HRS memenuhi sepanjang jalan menuju terminal bandara Soekarno Hatta. Dengan mengenakan pakaian serba putih, umat Islam menyambut kedatangannya. 

Massa sudah memadati Gang Petamburan 3, Jakarta, demi menyambut kepulangan Habib Rizieq Shihab. Dari anak kecil hingga orang dewasa memenuhi gang tersebut.

Tampak pedagang poster Habib Rizieq juga memenuhi jalan. Sejumlah laskar FPI juga terlihat berjaga di sekitar lokasi.

Karangan bunga, poster hingga baliho yang berisi pesan menyambut kedatangan Habib Rizieq bertebaran di mana-mana. Beberapa poster ada yang ditempel di gang, ada pula yang di pasang di warung kelontong.

Beberapa massa terlihat melantunkan selawat. Mereka berselawat menggunakan pengeras suara.

Sambutan umat yang begitu luar biasa terhadap kembalinya Habib Rizieq Shihab (HRS) ke tanah air dinilai Sekretaris Umum (Sekum) Front Pembela Islam (FPI) Munarman merupakan representasi simbol kerinduan umat akan keadilan.

“Saya kira ini bukan sekadar perasaan cinta secara personality, tapi ini adalah representasi simbol kerinduan umat akan keadilan,” tuturnya dalam acara Fokus: Kedatangan HRS, Kemana Arah Perjuangan Umat? Di kanal Youtube Fokus Khilafah Channel, Ahad (15/11/2020).

Antusiasme umat begitu besar dalam menyambut HRS, pertanda kerinduan umat yang mendalam atas sosok pemimpin yang adil. Sosok yang terkenal khutbahnya dalam acara reuni 212 di Silang Monas, mengungkapkan ayat suci harus di atas ayat konstitusi. Di hadapan peserta aksi 212, ia membeberkan rumusan singkat tentang bagaimana semestinya peraturan di negeri ini disusun.

Meski mendapatkan berbagai tekanan, bujukan uang, serta ancaman fisik yang dialamatkan padanya, tak membuat surut sedikit pun langkah perjuangan dakwahnya. Ini yang membuat umat Islam banyak berharap, bahkan tagar Habib Rizieq Presiden pun menjadi viral di sosial media sosial.

Kini Habib Rizieq Shihab telah berada di Indonesia, menurut Ustadz Shobri Lubis, Ketua Umum FPI mengatakan bahwa agenda selanjutnya adalah menjalankan revolusi akhlak di segala bidang. Di beberapa kesempatan agenda tersebut disampaikan oleh Habib Rizieq Shihab.

Habib Rizieq Shihab menjelaskan, revolusi akhlak merupakan cerminan dari tindakan Nabi Muhammad saw. Revolusi yang mengedepankan dialog, perdamaian dan rekonsiliasi kepada musuh. Namun jika dalam dialog tidak membuahkan hasil, maka perang menjadi pilihan terakhir. Ia menjelaskan, perubahan pola perjuangan bisa terjadi, dari revolusi akhlak menjadi jihad fi sabilillah jika kezaliman tidak berhenti, padahal ajakan perdamaian sudah digaungkan. (Okezone.com, 15/11/2020)

Akhlak Rasulullah

Ketika Aisyah ditanya bagaimana akhlak Rasulullah? Beliau menjawab, bahwasanya akhlak Rasulullah adalah Al-Qur'an.

“Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur'an.” (HR. Ahmad)

Jika kita menelisik kehidupan Rasulullah saw., maka kita akan dapati bahwa seluruh kehidupannya adalah cerminan Al-Qur'an. Ketika Rasulullah sawm menjelaskan tentang salat, beliaulah yang layak dijadikan teladan dalam urusan salat. 

Juga ketika Rasulullah saw. menjalankan kehidupannya sebagai kepala negara. Beliau pun mengaplikasikan Al-Qur'an sebagai aturan dalam bernegara. Tak heran jika konsep Islam yang telah diterapkan sejak berdirinya negara Islam pertama di Madinah, hingga berakhir pada tahun 1924 mengalami puncak kejayaannya.

Keislaman beliau benar-benar sesuai dengan istilah Al-Qur'an, kafah atau menyeluruh dalam segenap aspek kehidupan. Beliau tidak hentinya memandu, membimbing para sahabat agar Islam kembali kepada fitrahnya, yaitu tauhid.

Hingga Islam didakwahkan serta diterapkan di sepertiga dunia, selama kurun lebih dari seribu tahun, Islam berhasil menjadi kiblat dunia, ini adalah buah dari keseriusan para sahabat yang meneladani Rasulullah saw. sebagai Al-Qur'an berjalan.

Revolusi Hakiki

Belum terbukti dalam sejarah, kebangkitan umat dimulai dari akhlak setiap individu. Karena masyarakat tidak bisa dilihat dari segi individu. Islam memandang masyarakat adalah sekumpulan individu yang memiliki perasaan, pemikiran dan aturan yang sama. Bukan memandang per individunya.

Rasulullah saw. telah membuktikan, bahwa perubahan hakiki bisa diraih dengan pemikiran yang mendalam. Ada empat faktor yang bisa diraih untuk menuju perubahan:

1. Kesadaran tentang realita yang buruk.

Umat yang memiliki semangat perubahan tentu karena menyadari buruknya realita yang terjadi saat ini. Hingga saat ini, kondisi negara-negara muslim masih terpuruk di bawah jajahan negara asing. Baik penjajahan secara fisik maupun militer.

Amerika, Rusia, dan Cina merupakan negara terkuat di dunia berdasarkan militernya. Tersebab karena penjajahannya di negeri-negeri muslim, dengan mengeruk kekayaannya untuk memperkaya dan memperkuat perekonomian dan militernya. (Globalfireirepower.com)

2. Kesadaran tentang realita ideal.

Kesadaran ini akan mendorong umat Islam untuk meraihnya. Agar tercapai realita ideal, harus mengarah pada pelenyapan krisis yang terjadi. Artinya jika dulu negara penjajah mampu melakukan hegomoninya dengan melenyapkan Daulah Khilafah, maka realita ini harus dibalik. Hegomoni itu akan runtuh jika khilafah tegak.

3. Kesadaran tentang thariqah yang sahih.

Jika revolusi akhlak adalah meneladani akhlak Rasulullah saw. Maka perubahan ini harus mengacu pada metode yang telah dilakukan Rasulullah saw. dalam melakukan perubahan yang terjadi saat Islam datang. Yaitu dengan membina kader dakwah yang menjadi tulang punggung perubahan. Serta perubahan rezim dan sistemnya.

4. Harus ada kelompok atau partai pengusung perubahan yang sahih.

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran : 104)

Sebagaimana dulu telah dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para sahabat, harus ada kelompok atau jamaah yang terus memperjuangkan perubahan secara terus menerus, aktivitas kelompok tersebut juga harus bersifat politis.

Keempat kunci perubahan tersebut bisa terwujud jika dipadukan dengan kekuatan utama lainnya yang ada pada diri umat Islam. Yaitu keyakinan bahwa tegaknya Daulah Khilafah di tengah-tengah umat adalah janji Allah Swt. Sebagaimana janji Allah Swt:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa." (QS. an-Nur : 55)

Wallahu a’lam bishshawab.