Mengguritanya Dinasti Politik pada Pilkada 2020


Oleh : Yani Rusliani

(Pendidik Generasi)


Pemilihan kepada daerah (pilkada) serentak tahun 2020 berhasil digelar pada 9 Desember 2020. Pilkada tahun ini semakin menunjukkan penguatan dinasti politik. Berdasarkan hasil hitung cepat sejumlah Lembaga Survei dan Sistem Informasi dan Rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum (Sirekap KPU), sederet kandidat yang terafiliasi dengan pejabat dan mantan pejabat memenangi pesta politik lima tahunan tersebut.

Keluarga Presiden Joko Widodo (Jokowi) berada dalam deretan tersebut. Putra Sulungnya, Gibran Rakabuming Raka yang berpasangan dengan Teguh Prakosa unggul telak dalam pilwalkot Surakarta. Menantu Jokowi, Bobby Nasution yang berpasangan dengan Auliya Rachman unggul dalam pilwalkot Medan. (katadata.co.id, 19/12/2020)

Apabila dilihat semuanya (kandidat berafiliasi dinasti politik di pilkada 2020) adalah keluarga inti, anak presiden, anak menteri dan lainnya. Hal ini terlihat dari pemenangan pilkada 2020 lainnya yang masuk kategori dinasti politik adalah Hanindito Himawan Permana. Ia adalah anak Sekretaris Kabinet Pramono Anung, ia unggul telak di Pilkada Kediri. Lalu Pilar Saga Ichsan yang menjadi calon walikota Tangerang Selatan mendampingi petahana Benyamin Davnie. Ia adalah kemenakan walikota Tangerang Selatan dan anak dari Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah. Dan masih banyak lagi kandidat lainnya yang termasuk kategori dinasti politik.

Dinasti politik terbentuk karena adanya jaringan kekuasaan yang menyebar dan kuat di sebuah daerah. Dinasti politik ini semakin meningkat setiap tahunnya. Hidup dalam naungan sistem demokrasi saat ini memberikan banyak kesempatan kepada orang-orang kapitalis untuk menjadikan kekuasaan terus dalam genggaman mereka. Tidak peduli dengan kinerja yang mereka miliki mampu atau tidak dalam bidang yang akan mereka naungi kelak. Yang pasti adalah mengambil kesempatan yang ada untuk bisa dimanfaatkan. Seolah ingin mendirikan dinasti politik agar kekuasaan ada dalam genggaman mereka. Dalam persepsi mereka, kekuasaan ibarat tambang emas yang harus dipertahankan dan tidak boleh jatuh ke tangan orang lain.

Ditambah lagi, Mahkamah Konstitusi memberi izin kepada siapa saja yang ingin mencalonkan diri untuk maju menjadi kepala daerah. Walau mereka dari keluarga petahana. Karena hal itu sudah diatur dalam Undang-Undang yang tertuang dalam pasal 7 huruf r Undang-Undang Nomor 8 tahun 2015 tentang pemilihan Kepala Daerah. Dengan adanya Undang-Undang tersebut akan memuluskan rencana mereka umtuk mendirikan dinasti politik yang berasal dari kerabat mereka sendiri.

Sementara Islam, tidak mengenal dinasti politik dalam pengangkatan seorang pemimpin. Cara memperoleh pemimpin adalah dengan cara baiat yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Yang mana baiat ini dilakukan langsung oleh rakyat yang memilih dengan keikhlasan hati mereka sendiri, tidak ada paksaan dan iming-iming dari kalangan-kalangan tertentu yang ingin meraih kekuasaan.

Dalam Islam, untuk menjadi pemimpin harus memiliki syarat-syarat tertentu di antaranya adalah pertama, seorang pemimpin harus seorang muslim. Kedua, pemimpin harus seorang laki-laki. Tidak dibenarkan seorang pemimpin adalah perempuan karena kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Ketiga, baligh. Seorang pemimpin harus mencapai usia dewasa atau baligh agar ia memiliki pemikiran cemerlang. Keempat, berakal. Agar ia dapat menentukan baik atau buruknya kebijakan yang akan diambil untuk rakyatnya. Kelima, merdeka. Merdeka maksudnya bukan seorang budak atau bukan tawanan musuh. Keenam, adil. Karenanya seorang pemimpin harus menerapkan hukum-hukum Islam, karena hanya dengan hukum Islam pemimpin dapat berbuat adil. Ketujuh, mampu. Seorang pemimpin adalah orang yang amanah dalam menjalankan tugas-tugas kepemimpinannya. Maka siapapun berhak menjadi seorang pemimpin asalkan memenuhi kriteria-kriteria tersebut. Dengan kriteria-kriteria yang disebutkan tadi, maka dengan izin Allah Swt. kita akan terhindar dari pemimpin ruwaibidha yaitu pemimpin bodoh yang hanya mementingkan urusannya sendiri.

Wallahu a'lam bishshawab.