MENGATASI BEGAL SEPEDA DENGAN SISTEM ISLAM YANG HANDAL

 


Oleh : Rahayu Kushartati, S.H.

(Pemerhati Umat, Komunitas Perempuan Hijrah Sorowako) 


Beberapa bulan ini marak terjadi kasus begal sepeda. Para pesepeda di Jakarta makin resah dengan ancaman dari aksi kriminal begal sepeda. Menurut Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus di Mako Polda Metro Jaya, Senin (2/11/2020), seperti dikutip Republika, Polda Metro Jaya telah menerima 14 laporan terkait kasus pembegalan terhadap pesepeda dan mengungkap 7 kasus di antaranya.

Meski demikian polisi menduga jumlah kasus pembegalan terhadap pesepeda lebih tinggi dari angka di atas karena masih banyak korban begal yang enggan melapor kepada pihak berwajib. Hal itu didasarkan kepada pengakuan dari pelaku begal sepeda yang sebagian besar mengaku sudah lebih dari satu kali melakukan perampokan terhadap pesepeda. "Tiap pelaku ditanya pasti dijawab sudah tujuh kali, ada yang lima kali. Jadi kalau dihitung harusnya laporan polisinya sudah banyak, tapi ternyata baru 14, banyak korban-korban tidak melapor," tambahnya.(AyoJakarta.com)

Kapolda Metro Jaya, Irjen Nana Sudjana mengatakan, polisi melakukan berbagai upaya guna mengantisipasi kasus begal terhadap pesepeda yang tengah marak terjadi belakangan ini dengan upaya preemtif, preventif, dan represif. Menurutnya, upaya preemtif dilakukan dengan melakukan sosialisasi pada masyarakat secara langsung, baik imbauan maupun informasi tentang waktu dan lokasi rawan terjadinya pembegalan. Upaya preventif dengan mengerahkan personel kepolisian, baik anggota Sabhara, Brimob, dan Ditlantas Polda Metro Jaya untuk melakukan patroli dan ditempatkan di lokasi dan waktu rawan begal tersebut.

Lalu, upaya represifnya adalah dengan melakukan pengungkapan kasus-kasus yang dilaporkan terkait begal sepeda itu sebagai bentuk keseriusan kami dalam menangani kasus yang sedang marak terjadi dan sering viral itu," tuturnya.

Pihaknya berharap masyarakat juga bisa menjadikan pengungkapan kasus itu sebagai pengalaman agar jangan sampai dia menjadi korban begal sepeda itu. Polisi pun masyarakat untuk tak memancing para pelaku menjalankan aksinya dengan memperlihatkan barang berharganya mengingat kejahatan itu terjadi karena ada niat dan kesempatan.

Sistem sekularisme kapitalisme sebagai akar masalah

Sesungguhnya tindak kejahatan begal ini tidak lain karena saat ini kita berada dalam sistem sekularisme yaitu sistem yang memisahkan aturan agama dengan kehidupan. Sistem ini merasuk dalam setiap lini kehidupan. Sistem pendidikan yang dibangun dengan menolak peran agama diruang publik, sistem ekonomi kapitalistik yaitu yang hanya dikuasai oleh sebagian kecil orang sehingga kesejahteraan tidak merata, kurangnya kontrol sosial, sistem kepemerintahan yang justru hanya melanggengkan kepentingan para kapitalis dan kurangnya ketegasan dalam penerapan sanksi hukum dan sanksi sosial.

Cara Islam Menjegal Para Pembegal

Penerapan sistem Islam akan bisa memberantas berbagai tindak kejahatan secara tuntas sejak dari akarnya, termasuk kejahatan begal sepeda yang marak dalam sistem sekular kapitalistik saat ini. Sistem Islam memberantas kejahatan itu melalui dua aspek yaitu aspek pencegahan dan penindakan.

Pencegahan dilakukan dengan menjamin penerapan sistem Islam secara konsisten baik sistem pendidikan, pemerintahan, ekonomi, sosial dan lainnya. Faktor utama yang bisa dengan kuat mencegah seseorang melakukan kejahatan adalah kuatnya keimanan dan ketakwaan dalam diri orang tersebut. Karena itu Islam mewajibkan negara untuk terus-menerus mengokohkan keimanan dan membina ketakwaan seluruh rakyatnya.

Islam menetapkan ini sebagai salah satu kewajiban utama negara. Jika negara (penguasa) abai terhadap hal ini, hal itu akan membuat penguasa tidak bisa merasakan kenikmatan surga. Rasulullah SAW bersabda,”Siapa saja yang dipercaya mengurus rakyat, sementara dia tidak menjaga mereka dengan nasihat, dia tidak akan mencium aroma surga, padahal aroma surga bisa dicium dari perjalanan seratus tahun.” (HR. Ahmad, Ibn Abi Syaibah dan ath-Thabrani)

Penguatan keimanan dan pembinaan ketakwaan itu dilakukan oleh negara melalui berbagai sistem, terutama pendidikan. Sistem pendidikan Islam dibangun untuk membentuk kepribadian Islam yaitu menyatukan pola pikir Islam (pendidikan agama) dan pola sikap Islam. Pada tingkat keluarga, Islam mewajibkan seorang muslim untuk menjaga anggota keluarga dari api neraka (QS. At-Tahrim [66] : 6), yakni dengan mengokohkan keimanan dan membina ketakwaan mereka.

Pada level masyarakat, Islam mewajibkan perwujudan kontrol sosial. Islam mewajibkan siapa saja yang melihat kemungkaran harus mengubah kemungkaran itu dengan kekuatan, lisan atau hatinya. Islam juga memerintahkan amar makruf nahi mungkar yaitu mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Pada level negara, sistem ekonomi Islam akan memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok bagi setiap individu rakyat. Sistem ekonomi Islam juga akan mendistribusikan harta secara merata dan berkeadilan kepada seluruh rakyat. Semua orang akan mendapat kemungkinan untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersiernya sesuai kemampuan yang dimiliki. Dengan penerapan ekonomi Islam, alasan ekonomi akan sangat meminimalisir faktor timbulnya kejahatan.

Jika dengan semua itu masih ada yang melakukan kejahatan maka sistem sanksi dan hukum Islam akan menjadi palang pintu untuk menindak pelaku kejahatan itu. Bukan hanya menindak, sanksi hukum dalam Islam akan bisa mencegah orang melakukan kejahatan serupa. Sebagai jawabir, sanksi akan menjadi penebus dosa bagi pelakunya sehingga dia tidak akan disiksa di akhirat atas dosa itu.

Dalam kasus begal sepeda, pelaku melakukan perampasan dengan menggunakan kekerasan. Kasus ini dalam Islam merupakan kejahatan hirabah. Sanksi hukumnya adalah dipotong kaki dan tangannya secara bersilangan. Dengan hukuman seperti itu, jelas pelaku kejahatan itu tidak akan berani dan tidak bisa melakukan kejahatan itu lagi. Pelaksanaan hukuman itu bisa dilihat oleh masyarakat. Hal itu akan bisa mencegah siapapun untuk melakukan kejahatan serupa.

Dengan semua penerapan sistem Islam dan penerapan sanksi hukumnya itu, masyarakat akan selamat dari kejahatan itu. Dengan demikian rasa aman bagi masyarakat bisa dijamin. Jaminan rasa aman bagi masyarakat hanya bisa diberikan melalui penerapan syariah Islam secara keseluruhan dibawah sistem Khilafah ar-Rasyidah ‘ala minhaj nubuwwah. Selain menjadi solusi atas berbagai persoalan yang terjadi ditengah masyarakat, menerapkan syariah secara keseluruhan dibawah sistem Khilafah juga merupakan kewajiban bagi setiap muslimin. Karena itu, saatnyalah umat Islam segera berjuang penuh kesungguhan untuk mewujudkan semua itu. Dengan demikian maka kerahmatan dan segala kebaikan akan bisa dirasakan oleh umat.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.