Oleh : Nurfalah Sutary Andiny 

Mahasiswa Pascasarjana dan Aktivis Dakwah Kampus


Pernikahan dini

Bukan cintanya yang terlarang

Hanya waktu saja belum tepat

Merasakan semua


Begitulah lirik lagu yang pernah dinyanyikan oleh Agnes Monica. Lagu ini seakan mengungkapkan permasalahan yang dirasakan oleh masyarakat dulu maupun  sekarang.

Akhir-akhir ini, pernikahan dini terus terjadi dan membeludak di kalangan anak SMP maupun SMA terlebih masa pandemi saat ini yang menuntut mereka terpaksa sekolah daring dengan kesibukan yang super sibuk dari pada sekolah luring.

Dilansir oleh kompas.com (27/10/2020), pernikahan usia dini kembali menjadi sorotan, setelah adanya pernikahan antara dua remaja belia di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). EB (15) melangsungkan pernikahan dengan suaminya UD (17) pada 10 Oktober 2020. Namun, tidak melibatkan Kantor Urusan Agama (KUA).

Data Dinas  Pendidikan dan Kebudayaaan (Dikbud) NTB menunjukkan, 148 peserta didik jenjang SMA di NTB nikah dini. Data ini adalah hasil survei 131 sampel sekolah. Rinciannya, 17 siswa di Kabupaten Bima, dua siswa di Kota Bima dan Dompu, Sumbawa ada 11 siswa, Sumbawa Barat satu siswa, Lombok Timur 33 siswa. Selanjutnya Lombok Tengah 48 siswa, Lombok Barat 20 siswa dan Mataram sembilan siswa.”Ini baru sampel, belum menyeluruh dan harus kita minimalisir jumlahnya,” tegas Ketua Dewan Pendidikan NTB, H. Rumindah, (lombokpost.co, 27/8/2020)

Menurut Sirojudin, fenomena semacam ini bisa tumbuh subur akibat kurangnya pengetahuan. Padahal, ada risiko atas tindakan tersebut. Maka pemerintah daerah perlu menyosialisasikan secara masif terhadap pemerintah yang ada di tingkat bawah.

Sungguh miris keadaan di bumi pertiwi ini. Remaja belia berlomba-lomba menaiki tahta mahligai pernikahan, padahal ia belum tahu konsekuensi dari pernikahan.

Dalam hal ini, pernikahan bukanlah kesalahan utamanya. Namun, kesalahan intinya adalah ditanamkannya paham kebebasan dalam diri remaja. Paham kebebasan ini membuat tidak ada batasan saat berinteraksi dengan lawan jenis. Akibatnya, remaja menjadi penikmat cinta yang terlarang.

Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tidak memberikan dampak dan pengurangan atas jumlah permasalahan. Bahkan, terus bertambah. Pembukaan keran kebebasan dalam pergaulan antara laki-laki dengan perempuan terus berlangsung. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk mencegahnya. Namun, ibarat buah simalakama, dibiarkan makin bertambah dan mengeluarkan kebijakan baru pun tak ada hasilnya. 

Sebab, kebijakan yang diterapkan tidak kunjung terlihat hasilnya. Pemerintah kerap kali mengubah usia pernikahan dengan pembatasan usia 19 tahun untuk laki-laki dan bagi perempuan 19 tahun.

Secara fitrah memang laki-laki dan perempuan mempunyai rasa ketertarikan kepada lawan jenis. Hal tersebut tidak bisa dinafikan. Namun ketertarikan ini akan bermasalah, jika diaplikasikan bukan pada tempatnya. Maka akan timbul berbagai dampak kebablasan seperti pacaran, seks bebas, hamil di luar nikah, aborsi dan perbuatan lainnya. Maka mau tidak mau, ini mengharuskan para remaja untuk menikah.

Hal ini berpuncak pada sistem demokrasi yang menganut paham kebebasan. Paham liberalisme memberikan kebebasan pada remaja untuk melakukan apa saja yang disukainya. Begitupun media sosial bebas mengekspos hal-hal yang membahayakan moral anak seperti pornografi dan pornoaksi. Sementara masyarakat semakin permisif, membiarkan individu melakukan apa saja dan mengabaikan fungsi kontrol sosial.

Apapun masalah yang dihadapi oleh umat saat ini, Islam mempunyai solusinya. Termasuk masalah pernikahan dini. Seperti aturan Islam tentang sistem pergaulan, sistem yang mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan di tengah masyarakat. Sistem pergaulan Islam yang diterapkan daulah khilafah adalah sistem berdasar pada syariat, bukan nilai-nilai Barat yang rusak. Saat ini, masyarakat Barat tengah mengalami kehancuran moral karena mengadopsi prinsip liberalisme atau kebebasan.

Berbeda dengan Islam yang memandang setiap manusia adalah hamba Allah. Dia terikat pada aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam syariat-Nya, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan di tengah masyarakat. Oleh karena itulah seorang muslim harus menjaga pergaulan dengan lawan jenisnya sesuai dengan aturan Islam. 

Tidak ada lagi yang perlu di ragukan pada Islam karena Islam tegak atas asas akidah Islamiyah. Islam mengajarkan kepada pemeluknya keyakinan secara total akan keberadaan Pencipta yang menciptakan,  mengatur, dan meminta pertanggungjawaban atas manusia dan konsekuensinya. Bagi seorang muslim yang taat, ia yakin bahwa dirinya laki-laki dan perempuan adalah ciptaan Allah dan senantiasa harus terikat dengan segala aturan Allah di setiap perbuatannya dalam setiap ruang dan waktu.

Wallaahu a'lam bi ash-shawaab

 
Top