Memahami Esensi Makna Hijrah Sesungguhnya


Oleh : Hamsina Halisi Alfatih


Fenomena hijrah saat ini telah menjadi trend kamuflase di berbagai kalangan. Banyak yang berhijrah dengan beragam alasan, bahkan dengan hijrah mampu mengubah kehidupan seseorang dari yang sebelumnya. Lantas apa makna hijrah sesungguhnya?

Hijrah bisa dikategorikan sebagai move on, bisa juga berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Secara etimologi atau bahasa, kata hijrah berasal dari bahasa arab yaitu hijaroh. Akar kata dari fi’il (kata kerja);(hâjara–yuhâjiru–muhâjarat[an] wa hijrat[an]–muhâjir[un]–muhâjar[un]). Artinya: keluar, berpindah, menjauhi, meninggalkan. Hâjara min makânin kadzâ (berpindah dari tempat ini), wa hâjara ‘anhu (meninggalkan dan keluar darinya menuju tempat lain). (Mu’jam al-Ma’ânî al-Jâmi’; hâjara, www.almaany.com/ar/dict/ar-ar/الهجرة/)

Allah Swt. berfirman yang artinya: 

"Orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah serta berjihad bersama kamu, mereka itu termasuk golongan kamu (juga)." (QS. al-Anfal [8] : 75)

Jadi, hijrah secara bahasa merupakan proses seseorang meninggalkan suatu tempat atau berpindah tempat dari tempat satu ke tempat lain dengan alasan tertentu. Maka, penegasan ayat di atas adalah, orang-orang yang meninggalkan suatu perkara dan mengerjakan amal saleh ialah termaksud orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang beriman sudah pasti termaksud dalam golongan Nabi saw. yang siap berjihad dijalan Allah Swt.

Selanjutnya arti hijrah secara terminologi atau istilah merupakan proses peralihan diri seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah. Hal ini merujuk pada sabda Rasulullah saw., “Orang-orang yang berhijrah adalah mereka yang meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah Swt.” (HR. Al-Bukhari)

Dengan demikian bisa disimpulkan, bahwa makna hijrah adalah proses perubahan diri pada seseorang agar menjadi lebih taat dan bertakwa kepada Allah Swt. dengan meninggalkan segala perkara yang merusak keimanan serta menjalankan seluruh perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Inilah esensi dari makna hijrah sesungguhnya, dimana seorang mukmin dikatakan beriman kepada Allah dan Rasulullah sudah pasti ia akan menjalankan seluruh aturan-Nya.

Namun dalam beberapa keadaan, esensi hijrah kerap disalahartikan sehingga maknanya bergeser dan merusak arti hijrah itu sendiri. Bahkan di antara kita atau berbagai kalangan di luar sana, ketika memutuskan berhijrah hanya sekadar berganti casing saja tanpa memahami esensi hijrah sesungguhnya. Hingga ketika kita belajar dan memahami Islam secara keseluruhan ternyata hijrah itu harus secara kafah atau keseluruhan bukan hanya sekadar hijrah fisik, hati, pakaian, namun juga segala aturan harus berlandaskan kepada Al-Qur'an dan Sunnah.

Aturan yang bersumber dari Al-Qur'an maupun Sunnah sudah seharusnya diterapkan dalam semua lini kehidupan baik ekonomi, pendidikan, sosial, pemerintah dan sebagainya. Hal ini merupakan konsekuensi dari sebuah keimanan, suka tidak suka seluruh kaum muslimin wajib mengamalkan dan menerapkannya.

Di dalam Al-Qur'an Allah Swt. berfirman yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah : 208)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah ta’ala berfirman menyeru para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya serta membenarkan Rasul-Nya untuk mengambil seluruh ajaran dan syari’at; melaksanakan seluruh perintah dan meninggalkan seluruh larangan sesuai kemampuan mereka.” (Tafsir Ibn Katsir 1/335)

Demikian jelas ayat di atas, menjelaskan bahwa seluruh kaum muslimin ketika hijrah dan berislam diwajibkan secara keseluruhan menjalankan syariat Islam. Tidak diperkenankan untuk mengambil ajaran Islam atau seluruh aturannya dengan sebagian yang disukai. Sebab, apa yang diperintahkan oleh Allah Swt. adalah merupakan risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw. yang wajib kita ikuti dan jalankan.

Dengan demikian dalam memahami esensi hijrah sesungguhnya wajibnya dibarengi dengan pembelajaran Islam atau mengkaji seluruh ajaran Islam. Dengan begitu kita tidak hanya sekadar mengganti casing saat memutuskan hijrah, namun tidak menjalankan dan mengambil sebagian dari ajaran Islam lainnya. Sebab, hijrah sesungguhnya adalah menjalankan seluruh ajaran Islam baik aturannya maupun hukumnya, serta meninggalkan apa-apa yang tidak dibawa oleh Rasulullah saw.

Wallahu a'lam bishshawab.