Literasi, Gerbang Peradaban Islam


Oleh : Adibah NF

(Komunitas Literasi Islam)


Kemampuan seseorang dalam menulis dan membaca, mengolah informasi dan pengetahuan kecakapan hidup disebut literasi. Baik literasi baca tulis, sains, teknologi, digital dan lain-lain. 

Adapun kemampuan literasi menjadi pijakan dasar untuk melahirkan sumber daya manusia yang unggul dalam ranah sosial, budaya, politik dan ekonomi. Mempunyai keterampilan literasi adalah salah satu kebutuhan masyarakat. Sehingga tersedianya sarana untuk mampu meningkatkan literasi pada masyarakat pun dapat dilakukan dengan cara penyediaan  buku-buku di perpustakaan, pelatihan kerja, peningkatan produktivitas, serta partisipasi aktif dalam kehidupan sosial. 

Melalui sarana yang ada, masyarakat akan mempunyai skill berdasarkan modal literasi yang cukup kuat dan cenderung kritis, rasional serta penuh perhitungan. Karena literasi dimaknai sebagai kompetisi akademik yang diraih dalam konteks sosial dan budaya serta pengalaman kehidupan bermasyarakat. 

Dikutip dari PRFMNEWS (19/12/2020) bahwa dengan membaca, seseorang akan menjadi mercusuar, merubah peradaban serta mampu menguasai dunia karena ilmu yang dimilikinya.

Seorang akademisi bidang ilmu perpustakaan dan informasi Universitas Padjajaran Bandung, Asep Saeful Rohman menyebutkan hasil penelitiannya. Yakni terkait minat baca atau indeks literasi masyarakat masa pandemi itu cenderung menurun akibat ditutupnya sejumlah fasilitas membaca seperti perpustakaan.

Asep pun menyoroti dari hasil penelitiannya. Bahwa ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kebiasaan membaca. Yakni tersedianya bahan bacaan yang memadai, bervariasinya bahan bacaan dan sumber informasi, serta mudah ditemukanya bahan bacaan sehingga terpenuhi keinginan dan kebutuhan para pembaca. 

Di Jawa Barat sendiri, minat baca masyarakat lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya. Meskipun dibantu dengan penyediaan perpustakaan digital. Tinggal mengunduh aplikasi saja yang sudah ada di playstore/app store. Tetap saja belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat secara umum.

Di tengah kondisi ekonomi masyarakat kian anjlok akibat banyaknya PHK, krisis usaha, bertambahnya yang terpapar Covid-19, biaya pendidikan kian melambung, perhatian dan berbagai kebijakan pemerintah yang penuh rekayasa, membuat masyarakat semakin tak acuh terhadap minat baca tulis dan peningkatan kualitas dirinya yang menjadi aset dalam hidupnya.

Padahal literasi merupakan bagian terpenting agar masyarakat mampu berbahasa dengan baik. Dalam melakukan interaksi antara satu dengan lainnya. Dimana literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan seseorang dalam berbahasa, membaca, menulis dengan mempunyai keterampilan yang nyata. Karena, seseorang akan mudah memahami tulisan orang lain jika dia pun memahami apakah tulisan itu bernuansa Islam atau sudah dipengaruhi berbagai bidang akademik maupun nilai-nilai budaya dan pengalaman. 

Karena, literasi itu sendiri bertujuan menciptakan budaya baca masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dalam berbagai informasi yang bermanfaat dari sebuah bacaan. 

Selain melatih diri untuk menulis dan merangkai kata, juga bisa meningkatkan pemahaman/wawasan seseorang. Dengan kata lain seseorang akan mempunyai kemampuan berpikir kritis serta menjadikan otak bekerja optimal dalam menangkap informasi, menganalisa dan menyimpulkan dengan benar. 

Saat pandemi ini, seiring dengan kemajuan digital kebanyakan aktivitas masyarakat, pelajar, mahasiswa, pengusaha hingga penguasa, di samping buku juga menggunakan literasi digital berupa foto disertai teks, media digital sebagai alat komunikasi, dan video literasi. Hal ini sebenarnya telah mempermudah masyarakat agar mau meliriknya. 

Hanya saja, meskipun sudah banyak sarana dan prasarana yang banyak tadi, masyarakat belum bisa mengakses seluruhnya dengan mudah. Masih banyak kendala. Karena tidak sedikit masyarakat yang tidak punya sarana tersebut. Masih ribuan bahkan jutaan orang yang belum mempunyai gawai/smart phone canggih yang bisa digunakan dalam seluruh aktivitasnya.  

Alhasil, sebelum pandemi atau masa pandemi sama saja yang dirasakan dan dihadapi masyarakat seputar kebutuhan hidup, biaya pendidikan dan kesehatan.  

Tidak ada solusi yang tepat agar masyarakat bisa kembali mencintai literasi, membaca dan menulis. Selain memupuknya dengan pemikiran dan pemahaman cinta aksara. Selanjutnya akan melahirkan berbagai karya ilmu dalam mengentaskan kemunduran berpikir masyarakat.

Literasi Islam sangat kuat pengaruhnya dalam mewujudkan masyarakat Islam yang berhasil menjadi mercusuar dunia. Mempelajari literasi Islam bukan hanya membuka buku sejarah Islam, namun harus dijadikan pola pikir, pola sikap, identitas serta pandangan hidup seorang muslim.

Kita tengok masa lalu saat wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. yaitu ayat tentang ilmu pengetahuan berupa 'iqra'. Ia bermakna perintah untuk membaca, menunjukkan bahwa membaca itu sangat penting dalam kehidupan seorang muslim. Sebagaimana tugas Nabi Muhammad saw. yang membawa umat manusia dari kegelapan menuju cahaya, "Mina dzulumati ilannur ...." (TQS. al-Baqarah : 257)

Seorang ulama bernama Najib Ibrahim berkata, "Barangsiapa menghendaki perjalanan menuju Allah dan perkampungan akhirat, maka wajib atasnya ilmu."

Tentu saja membaca tidak bisa dipisahkan dengan proses menulis. Masa keemasan Islam, tak lepas dari budaya keilmuan membaca, meneliti, menulis dan berdiskusi. Banyak para tokoh muslim yang produktif berkarya melalui tulisannya seperti karya Imam Syafii, Imam Hambali, Imam Hanafi, Imam Maliki, Ibnu Khaldun, Imam Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Taimiyah dan masih banyak lagi tidak bisa disampaikan satu per satu di sini. 

Adapun tokoh literasi Islam pertama setelah sayidina Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali adalah Zayd bin Tsabit, sekretarisnya Rasulullah saw. Beliau sangat terkenal kualitas dan kontribusinya dalam menulis ayat-ayat Al-Qur'an pada zaman Nabi saw. Hingga Al-Qur'an bisa dibukukan, dibaca dan dipelajari hingga sekarang. 

Semakin pesatnya perkembangan literasi Islam itu sampai adanya gerakan intelektual melahirkan penerjemahannya dengan berbagai bahasa; Persia, Yunani, Sansakerta, Suriah ke dalam Bahasa Arab. 

Motivasi membaca dan menulis pun sangat luar biasa pengaruhnya terhadap pemikiran dan jiwa masyarakat. Selain sarana dan prasarana yang memadai, juga karena masyarakat dilandasi nilai takwa dan keimanan. Serta pemahaman terhadap kewajiban dalam menuntut ilmu. Hal itu membuat masyarakat mencintai literasi sebagai bekal dalam kehidupannya.

Allah Swt. berfirman,

"Janganlah kalian melakukan apa yang belum kamu ketahui tentang ilmunya, karena penglihatan, pendengaran dan hati nurani akan dimintai pertanggungjawaban." (TQS. al-Isra' : 36)

Literasi adalah bukti adanya sebuah peradaban gemilang. Sampai bisa memahami dan mendalami Islam secara kafah, membangun peradaban Islam sesuai dengan perintah Allah dan Rasulullah saw. contohkan. Untuk kemudian diikuti oleh para khalifah setelahnya.

Islam pun tersebar luas selama 13 abad. Ia mampu menjadi negara adidaya dan banyak menorehkan tinta emas. Baik kemajuan ilmu pengetahuan, maupun sains dan teknologi lainnya.

Wallahu a'lam bi ash shawwab.