Oleh : Ummu Syaddad

(Pendidik)


Akhirnya Joe Biden terpilih menjadi Presiden AS. Banyak yang berharap ini akan menjadi angin segar di tengah meningkatnya islamofobia di luar  negeri. Dan berbagai tekanan khususnya di bawah pemerintahan Trump. Apalagi, dalam kampanyenya, Biden menjanjikan beberapa perubahan sikap dan kebijakan terhadap dunia Islam. Bahkan dengan fasih, Biden mengutip hadis Rasulullah untuk menunjukkan kesungguhannya. Bagaimana sebenarnya menakar harapan bagi perubahan nasib muslim, agar tidak ada lagi diskriminasi, baik di AS maupun dunia secara umum?

Demokrasi, Harapan Palsu

Kampanye adalah kegiatan yang terorganisir dan sistematis dalam rangka mendorong masyarakat melakukan sesuatu yang diinginkan dengan memanfaatkan metode dan media tertentu agar berpihak kepada peserta pemilu yang melakukan kampanye. Realitasnya, isi kampanye bukanlah pegangan untuk bisa meyakini apa yang disampaikan. Banyak kasus setelah terpilih, justru janji pada para pemilih dilupakan, Kampanye terkadang hanya menjadi alat untuk menguatkan pencitraan. Setidaknya ada 6 janji Biden terhadap umat muslim dalam kampanyenya, di antaranya pencabutan larangan bepergian bagi muslim dan kecaman terhadap pelanggaran HAM bagi muslim Uighur dan Rohingya. Sebuah jajak pendapat menunjukkan, 84 persen muslim Amerika Serikat (AS) memberikan suara dalam pemilihan presiden pada Selasa (3/11). Sebanyak 69 persen suara tersebut mendukung Joe Biden (Republika.co.id).

Mekanisme pemilihan dalam sistem demokrasi ini hakikatnya hanya ganti person, meski diperkirakan bahwa Biden dengan Partai Demokratnya cenderung lebih “intelek dan halus” dalam berbuat, namun dapat dipastikan bahwa watak imperialismenya akan tetap sama. Maka menggantungkan harapan dalam sistem demokrasi akan melahirkan pemimpin yang berpihak kepada umat, ibarat menggantang asap.

Demokrasi berasal dari kata demos yang memiliki arti rakyat, dan kratos atau cratein yang memiliki arti pemerintahan. Dengan begitu dapat diartikan bahwa demokrasi merupakan pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Gagasan ini mengemuka dalam Revolusi Perancis sebagai kritik atas kekuasaan absolut pada rakyat.

Sekularisme yang menjadi pondasi dasar demokrasi, menjadikan kekuasaan politik benar-benar dilepaskan dari kekuasaan agama. Di antara pilar tegaknya demokrasi adalah dengan adanya pemberian kebebasan kepada individu untuk meyakini apa yang dikehendaki (freedom of religion), berpendapat sesuai keinginannya (freedom of opinion), memiliki apa yg dikehendaki (freedom of ownership), dan memuaskan kebutuhannya dengan perilaku yang diinginkannya (personal freedom). Maka sekalipun Biden menjanjikan jaminan bagi warga muslim untuk menjalankan agamanya, bisa dipastikan ini hanya sebatas ritual juga dalam kerangka Islam “moderat” dalam pandangan mereka. Jangan lupa, di saat yang sama, Biden juga berjanji untuk mengesahkan UU kesetaraan bagi LGBTQ di 100 hari masa kerjanya. Inilah kebebasan. (Kumparan.com)

Maka demokrasi beserta sistem yang menaunginya tak layak dijadikan sebagai sandaran bagi umat. Sebab demokrasi bertentangan secara diametral dengan Islam. Dari pokok sampai ke cabang. Tidak akan pernah bertemu, sesuatu yang bersumber dari syara’ dengan hawa nafsu. Tidak akan ada titik temu antara orang yang berhukum dengan hukum Allah, lalu ia bangga dengan menjadi hamba, dengan orang yang berhukum pada manusia, yang membanggakan kebebasannya. Umat harus menyadari bahwa demokrasi bukan untuk mereka, demokrasi dengan selubung islaminya sebagai syura hanya tipuan untuk melanggengkan hegemoni Barat atas negeri-negeri kaum muslimin. Sehingga Barat bisa mengekploitasi negeri muslim tanpa perlawanan berarti.

The New Hope

Sejatinya umat tak butuh pada Trump, Biden atau siapapun yang menjadi penguasa AS beserta seluruh janji manis mereka. Dalam kancah perpolitikan global, posisi AS sebagai negara adidaya dan negeri-negeri muslim kebanyakan masih menjadi pengekor. Dengan demikian mudah bagi AS untuk mengikat kaum muslimin dalam berbagai perjanjian yang merugikan selama bagi mereka menguntungkan. Artinya, harapan perubahan hanya sekadar pepesan kosong! Diskriminasi akan terus berlanjut.

Hari ini, umat harus merivisi makna perubahan yang mereka inginkan. Dengan posisi sebagai khoiru ummah, umat sesungguhnya memiliki mutiara Kebangkitan mereka sendiri, inilah risalah Islam yang memiliki visi politik yang agung tanpa diskriminasi untuk peradaban manusia. Inilah risalah ideologi Islam dengan sistem khilafahnya, yang akan menggantikan peradaban sekularisme beserta demokrasi yang bobrok sebagai turunannya, dalam memimpin dunia.

Umat harus memutuskan pandangan memujanya pada demokrasi yang menipu, kembali pada risalah yang berasal dari Allah Swt. Risalah yang mengatur interaksi antar individu juga interaksi kaum muslim dengan kaum lain dalam hubungan internasional. Allah Swt. berfirman: “Apakah (sistem) hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (sistem) hukum siapakah yang lebih baik daripada (sistem hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. al-Maidah : 50)

Allahu a’lam bishshawab.

 
Top