Oleh : Rita Handayani

Muslimah Pemerhati Umat


Kewarasan seorang ibu menjadi taruhan di sistem saat ini. Menjadikan caption ibu malaikat tak bersayap yang sudah menjadi trend di kehidupan dunia anak seakan terkikis bahkan terhapus. Karena banyaknya ditemukan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh sang ibu. Kenapa dilahirkan jika harus disiksa dan dibunuh?

Miris dan bikin geleng-geleng kepala seraya tak percaya. Setiap wanita yang telah menikah dan bergelar istri, pasti merindu hadirnya buah hati sebagai pembuktian diri, ia wanita sejati. Juga agar rumah tak sepi kala ditempati seperti kuburan sunyi mencekam.

Nyata, kewarasan seorang ibu sedang diuji di sistem rusak ini. Himpitan ekonomi pada masa pandemi menjadikan ibu gamang menerawang masa depan anak. Tidak kuat melihat anak menderita kelaparan, dan tidak tega memasak batu seperti di kisah Khalifah Umar. Akhirnya ibu lebih baik mengakhiri penderitaan anak dengan membunuhnya. Mungkin harapannya karena anak-anaknya masih balita jadi dimungkinkan bisa masuk surga. Lalu si ibu ikut bunuh diri, bisa jadi karena penyesalan berselimut di hati atau karena ingin masuk surga bersama anak-anaknya?

Ketiga korban masing-masing berinisial YL (5 tahun), SL (4 tahun), dan DL (2 tahun). Peristiwa pembunuhan itu terjadi siang hari, Rabu 9 Desember 2020 saat ayah para korban sedang nyoblos Bupati dan Wakil Bupati Nias Utara. Harapan mendapatkan pemimpin baru berbuah petaka dengan lenyapnya harapan hidup istri dan anak-anaknya. (Viva.co, 13/12/2020)

Selain ekonomi bikin pusing pala barbie alias pusing pala ibu. Aturan negara yang tak karuan terkait PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) tambah-tambah bikin bingung juga stres para emak yang harus mendampingi anak-anaknya belajar di rumah.

Banyaknya tugas dari sekolah daring tanpa penjelasan materi dari guru. Membuat ibu yang harus aktif menjelaskan dan mendampingi belajar di rumah. Kala anak kambuh tidak mau belajar padahal tugasnya masih numpuk yang harus dikerjakan. Membuat ibu kesal tak kepalang, dari nada lembut hingga meningkat ke teriak anak tak jua nurut. Akhirnya Si ibu gelap mata dan seolah "kerasukan". Pukulan pertama mendarat di tubuh mungil anak. Anak masih angkuh, ibu semakin dikuasai bisikan setan. Meluncurlah pukulan keras bertubi-tubi menghujani badan si anak. Tak puas, ibu pun mengambil sapu untuk senjata pemukul hingga anak tersungkur, sampai berakhir pada kematian.

Itulah yang terjadi di Lebak Banten, si ibu mengakui menganiaya anaknya pada 26 Agustus 2020. Si ibu dan suaminya, menguburkan anaknya bersama pakaian lengkap di Cijaku Lebak Banten. (Kompas, 15/September/2020)

Apa gerangan yang menyebabkan malaikat pelindung berubah jadi iblis pembunuh sadis? Kalau kita tafakuri dan lihat dengan mata hati, akan kita dapati selain faktor keimanan tipis yang membuat ibu hilang kewarasan hingga kerasukan yang akhirnya berubah menjadi pembunuh berdarah dingin. Juga efek dari pemberlakuan sistem yang salah.

The wrong system atau sistem yang salah ini kalau diberlakukan pasti berdampak buruk, contohnya ibu yang seharusnya menjadi pelindung seperti melindungi anak dari segala marabahaya. Malah berubah menjadi pelaku yang membahayakan anaknya sendiri.

Sistem yang salah ini akan terus menciptakan kerusakan. Terus darimana sistem yang salah ini berasal? Sesuatu yang tempatnya salah pasti akan melahirkan kesalahan. Pun demikian dengan sistem hidup bahasa nyentriknya aturan hidup. Jika yang membuat manusia yang merupakan tempatnya salah dan khilaf, otomatis hasil yang diperoleh adalah sistem hidup yang salah.

Demokrasi dan komunis adalah aturan hidup yang dibuat oleh manusia dengan menafikan keberadaan Sang Pencipta, begitu kata para pakar ideologi. Wajar akhirnya, naluri seorang ibu yang merupakan pelindung anaknya terkikis habis di sistem demokrasi, berubah menjadi pembunuh anak yang dilahirkannya.

Mungkin sudah saatnya, manusia yang merupakan makhluk yang diciptakan oleh Tuhan semesta alam kembali ke kodratnya. Yakni, kembali memakai sistem yang ditetapkan Allah Swt. sebagai aturan hidup bernegara, bermasyarakat dan berkeluarga.

Karena, Allah Swt. bukan tempat yang salah seperti halnya manusia, jadi wajar Allah Swt. menjadi tempat bergantung bagi manusia. Seharusnya, tidak hanya sebagai tempat bergantung. Aturan Allah Swt. (aturan Islam) juga harus dipakai dan dipraktikkan. Agar Allah Swt. menurunkan keberkahan dari langit dan bumi.

Jikalau aturan Allah Swt. yang diberlakukan sebagai aturan hidup bernegara dan bermasyarakat juga berkeluarga. Tidak akan didapati fenomena berubahnya rasa pelindung menjadi pembunuh. Karena keimanan dan ketakwaan rakyat akan dibina negara. Para ibu akan ayem alias tentram dan damai hatinya. 

Karena, kebutuhan dasar kehidupannya seperti kebutuhan pokok totalitas dipenuhi oleh negara, juga pendidikan sebagai media pencerdas anak bangsa dan kemajuan negara juga totalitas ditanggung negara.

Jadi, selain sekolah gratis (bagi keluarga miskin maupun kaya) juga fasilitas umum untuk menggapai hasil pendidikan maksimal wajib dipenuhi negara. Misalkan sebelum pemberlakuan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) akibat dari bahayanya pembelajaran tatap muka karena terancam oleh corona. Maka negara harus memastikan segala sesuatunya.

Misalkan, membangun sistem jaringan internet terbaik di seluruh wilayah Indonesia hingga ke pedalaman, mengedukasi para guru dan orangtua terkait teknologi. Karena memang, guru saja masih banyak yang gaptek (gagap teknologi) apalagi orangtua yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Dan memfasilitasi baik pengajar (guru) maupun pendamping (orangtua) dengan laptop atau komputer, juga kuota gratis. Orangtua, guru dan negara bersinergi tetap mengadakan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak bangsa di tengah pandemi.

Kalau saat ini, dengan negara yang bersistem demokrasi tentu akan dirasa berat. Dana yang harus digelontorkan negara untuk membangun jaringan internet se-Indonesia dan memberikan komputer atau laptop gratis juga kuota gratis untuk seluruh rakyat Indonesia tidaklah sedikit. Tidak terbayang hutang yang harus diambil plus bunganya akan selesai berapa turunan dan berapa tanjakan generasi.

Tentu akan sangat berbeda jika aturan Allah Swt. yang dipakai. Tidak perlu berhutang selain menyalahi hukum syara karena riba, juga negara akan mampu melakukannya secara mandiri, tanpa campur tangan luar negeri. Karena sumber pemasukan negara yang memakai aturan Allah Swt. itu sangat banyak. Seperti dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang dikelola sendiri oleh negara, haram diserahkan atau dijual ke swasta, menjadi sumber pemasukan untuk menyejahterakan rakyat, karena sumber daya alam adalah milik rakyat, Islam mengatur hal demikian. Rasulullah saw., bersabda: "Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api." (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Selain hasil dari pengelolaan sumber daya alam, sebagai pemasukan negara juga ada kharaj, fai, ghanimah, jizyah, usyur, dan lain-lain. Yang juga menjadi jalan untuk kas negara kalau dalam Islam disebut baitulmal.

Pembuktiannya banyak di masa silam. Bahwasanya, aturan Allah Swt. itu bisa membuat negara mandiri dan rakyat sejahtera. Para ibu bisa dengan bahagia mendampingi anak-anak belajar daring. Ibu juga bisa mengurus serta memenuhi asupan makanan dan nutrisi anak-anaknya. Anak kenyang, ibu senang, negara menjulang sukses, itulah berkah menerapkan aturan Islam dalam kehidupan bernegara.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top