Oleh : Maretika Handrayani, S.P

(Aktivis Dakwah Islam)


Sepanjang tahun 2020, nasib mengenaskan masih saja menimpa perempuan dan anak Indonesia. Inilah konsekuensi logis penerapan ideologi kapitalisme, yang senantiasa menjadikan perempuan dan anak sebagai sasaran eksploitasi dan kezaliman, baik fisik maupun seksual  dengan segala bentuknya. 

Sistem kapitalisme yang diterapkan di Indonesia dan di belahan negeri muslim lainnya memiliki paradigma yang bertentangan dengan fitrah manusia, sistem kapitalis memandang segala sesuatu hanya sebagai masalah permintaan dan penawaran, dan bagaimana memperoleh keuntungan. Pandangan ini telah mendehumanisasikan baik perempuan maupun laki-laki menjadi tidak lebih dari sekadar komoditas ekonomi yang membawa keuntungan finansial untuk negara mereka – yang bisa digunakan dan dilecehkan sekehendak negaranya - tanpa mempedulikan dampak fisik dan mental yang berbahaya pada individu dan konsekuensi sosial yang merugikan terhadap unit keluarga dan masyarakat secara keseluruhan. Ini adalah ideologi yang secara konsisten menempatkan keuntungan materi di atas kepentingan rakyat, dan masalah keuangan di atas kepentingan keluarga dan akhirnya meletakkan fondasi yang sangat kuat bagi praktik eksploitasi bagi jutaan perempuan di negeri ini. 

Sistem kapitalisme juga menghantarkan manusia sedikit demi sedikit kehilangan naluri kemanusiaannya. Laki-laki kehilangan rasa tanggung jawab dan perlindungannya terhadap istri, saudara perempuan dan anak-anaknya. Bahkan seorang ibu pun bisa luntur naluri keibuannya. Kasih sayang dan rasa aman yang secara fitrah diberikannya kepada anak, berganti penyiksaan dan kekerasan.

Sistem kapitalisme telah memproduksi massal kemiskinan sistemis di tengah-tengah masyarakat. Perempuan dan anak terpaksa memikul beban berat finansial keluarga hingga tergerusnya peran dan tanggung jawab perempuan dalam keluarganya. Tak terhitung kasus seorang ibu mengambil jalan pintas bunuh diri ketika menghadapi persoalan yang dianggapnya menemui jalan buntu bahkan terlebih dahulu menganiaya dan membunuh anak-anaknya.

Kenyataan memilukan ini tidak pernah terjadi sepanjang sejarah peradaban Islam dalam institusi Khilafah Islamiyah. Ketika itu, kaum perempuan dan ibu senantiasa terjaga fitrahnya sebagai ibu generasi dan partner kaum laki-laki dalam membangun peradaban mulia. Penyimpangan fitrah kaum perempuan dan ibu sebagaimana marak terjadi dewasa ini sejalan dengan dominasi peradaban kapitalisme dan tegaknya negara demokrasi.

Islam memandang bahwa setiap jiwa  seharusnya dipandang dan diperlakukan layaknya manusia, yang senantiasa dilindungi, dijaga, dan dilayani oleh penguasanya; bukan dipandang dengan nilai keuntungan saja atau hanya sebagai objek untuk menghasilkan kekayaan.

“Sesungguhnya seorang penguasa adalah pengurus (urusan rakyatnya) dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya." (HR Muslim dan Ahmad)

Khilafah Islamiyah telah mengimplementasikan seluruh prinsip-prinsip dan hukum Islam pada masyarakat. Islam memandang perempuan sebagai manusia seutuhnya yang harus dijamin kebutuhan finansialnya oleh suaminya, walinya atau kerabat laki-lakinya dan juga oleh negara, sementara pada saat yang sama tetap mengijinkannya untuk mencari pekerjaan jika diinginkan. 

Akan tetapi Islam tidak memperkenankan perempuan untuk bekerja dalam kondisi yang memperbudak, mempermalukan dan menindasnya dan bukan di sebuah lingkungan yang aman dan bermartabat, dimana kehormatannya di dalam masyarakat selalu terjaga. 

Hanya sistem Khilafah Islam sajalah yang menawarkan kebijakan ekonomi sehat yang telah teruji oleh waktu, mampu mengangkat derajat kaum perempuan di dunia Islam dari derita kemiskinan dan menciptakan kesejahteraan ekonomi yang berkelanjutan, menghapus penderitaan mereka dan membawa perubahan riil bagi kehidupan kaum perempuan dan  keluarga. Sejarah peradaban Islam selama 13 abad telah membuktikan bahwa perempuan terlindungi dan terjaga fitrahnya hanya dengan Islam saja.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top