Oleh : Susi Herawati 

(Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Dakwah)


Manusia lahir ke dunia tidak dapat memilih apakah ia lahir sebagai bayi yang berjenis kelamin perempuan atau laki-laki, karena semua sudah menjadi takdir Ilahi. Tidak ada yang mampu  tawar-menawar untuk dilahirkan ke alam dunia ini. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan banyak negara di dunia termasuk Indonesia yang hingga saat ini masih menetapkan kedudukan perempuan di posisi yang tidak jelas. Dia pun mengatakan berdasarkan hasil studi Bank Dunia ada lebih dari 150 negara memiliki arah yang justru membuat hidup perempuan menjadi lebih susah. "Di dunia, tidak hanya di Indonesia, memang cenderung meletakkan perempuan di dalam posisi apakah itu dari sisi norma, nilai kebiasaan, budaya, agama yang sering mendudukkan perempuan itu di dalam posisi yang tidak selalu jelas." Sri Mulyani pun mengatakan berbagai halangan spesifik yang harus dihadapi oleh perempuan, tidak seharusnya membuat mereka menyerah. Justru perempuan harus meyakini dan menjaga agar jangan cepat menyerah, karena memang perempuan  halangannya lebih banyak. (kompas.com, 20/12/2020)

Sejatinya manusia adalah hamba Allah Swt. yang diciptakan sesuai fitrahnya. Namun tidak sedikit wanita yang berperan sebagai kepala keluarga untuk mencari nafkah. Memang perempuan juga dapat melakukan sesuatu untuk memberikan kontribusi bagi umat. Namun, peran utama wanita tetaplah sebagai sekolah pertama dan utama bagi anak dan keluarga, yaitu mendidik dan mengurus rumah tangga. Berkaryanya wanita tetap tidak dapat meninggalkan perannya dalam keluarga. Oleh karena itu, dibutuhkan keseimbangan dalam hal tersebut. Betapa perempuan saat ini sangat dibebankan oleh kewajiban yang berat.

Al-Qur'an menjelaskan bahwa kedudukan perempuan dalam Islam sama dengan laki-laki. Perempuan diciptakan  sebagai pasangan untuk laki-laki bukan sebagai budak atau harta yang dapat diperjualbelikan. Banyak hal yang diperbaiki Islam terhadap akhlak dan pandangan orang jahiliyah kepada wanita. Pada zaman jahiliyah wanita dipandang rendah, dijadikan budak dan tidak berarti sama sekali. Kelakuan para kafir Quraisy terhadap wanita sangatlah keji. Wanita tidak diijinkan untuk hidup, oleh karena itu setiap orangtua yang melahirkan anak perempuan akan membunuh anaknya hidup-hidup. Tidak hanya itu, perlakuan kaum kafir Quraisy terhadap wanita pada zaman jahiliyah yaitu wanita tidak diberi warisan walaupun keadaan sesulit apa pun karena warisan hanya untuk laki-laki.

Padahal dalam Islam tidak ada pembeda antara laki-laki dan perempuan, tidak terkecuali pada apa-apa yang dilakukannya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Swt. Laki-laki dan perempuan sama-sama berkewajiban melakukan amar makruf nahi mungkar, menjalankan segala perintah Allah Swt. dan menjauhi segala larangan-Nya. Wanita dan laki-laki juga berperan sama sebagai hamba Allah dalam melaksanakan salat, zakat dan ibadah lainnya. Keduanya memiliki peran yang sama dalam hal beribadah, yang membedakan mereka di hadapan Allah hanyalah amalan dan pahala dari amal perbuatan yang dilakukan.

Sesungguhnya, penentu derajat di sisi Allah Swt. adalah amalannya, sebagaimana firman Allah dalam Qur'an Surat an-Nisa ayat 124, "Barang siapa yang mengerjakan amal saleh baik itu laki-laki maupun perempuan sedangkan ia beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun."

Dari ayat tersebut dijelaskan bahwa laki-laki dan wanita beriman akan masuk surga tanpa memandang perbedaan  gender. Hal yang menentukan hanyalah amalan baik yang dilakukan selama hidup di dunia.

Islam adalah agama rahmatan lil 'alamin, yang diturunkan Allah Swt. untuk menyempurnakan akhlak manusia dan mengatur seluruh kehidupan. Tidak terkecuali mengatur hubungan antara sesama, salah satunya aturan yang mampu mendorong wanita menuju kehidupan yang mulia.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top